POJOKSATU.ID- Penyanyi pop dunia Katy Perry kembali mencuri perhatian, bukan lewat lagu baru atau panggung konser, melainkan dari luar angkasa.

Dalam misi penerbangan Blue Origin bertajuk NS-31 yang seluruhnya diisi oleh kru perempuan, Katy melantunkan lagu klasik “What a Wonderful World” saat berada dalam kondisi tanpa gravitasi momen emosional yang ia persembahkan untuk Bumi.

Penerbangan suborbital ini diluncurkan dari fasilitas Blue Origin di Texas Barat pada Senin (14/4). Selama sekitar 10,5 menit, termasuk empat menit dalam mikrogravitasi, kapsul kru membawa enam perempuan inspiratif melintasi Garis Kármán batas imajiner ruang angkasa di ketinggian 100 km.

Katy Perry menjadi salah satu penumpang dalam misi yang mencatatkan sejarah sebagai penerbangan penuh perempuan pertama sejak era kosmonot Valentina Tereshkova.

Baca Juga: LINK Live Streaming dan Prediksi Skor Pertandingan Aston Villa vs PSG di Liga Champions: Misi Tuan Rumah Balikkan Kedudukan

Kehadiran Katy Perry dalam misi ini bukan sekadar gimmick. Peraih berbagai penghargaan internasional ini membawa pesan personal yang kuat. Ia memilih untuk menyanyikan “What a Wonderful World” karya Louis Armstrong, bukan dari katalog hits-nya sendiri, sebagai refleksi atas keindahan planet tempat manusia berpijak.

“Ini bukan tentang saya. Saya ingin momen ini menjadi pengingat bahwa dunia ini sangat luar biasa. Kita harus lebih menghargainya,” kata Perry usai mendarat.

Penyanyi bernama lengkap Katheryn Elizabeth Hudson ini memang dikenal tak hanya karena vokalnya yang kuat dan penampilannya yang eksentrik, tapi juga karena pesan-pesan sosial yang ia selipkan dalam karya-karyanya. Sejak debutnya lewat album One of the Boys (2008), Perry konsisten mengangkat tema pemberdayaan diri dan cinta universal.

Lagu-lagunya seperti “Firework”, “Roar”, hingga “Unconditionally” menjadi anthems global yang memperkuat identitas pop-nya sebagai suara keberanian dan ekspresi.

Di tengah pengalaman luar angkasa yang menakjubkan itu, Katy juga membawa bunga aster simbol cinta untuk putrinya, Daisy Dove Bloom. Sebuah gestur kecil namun sarat makna, menunjukkan sisi manusiawi dan keibuan di balik sosok ikonik dunia hiburan.

Baca Juga: KAPAN Guru Honorer Dapat TPG Sebesar Rp2 Juta? Ternyata Bukan Saat Pencairan Triwulan I, Begini Penjelasan Resminya!

Misi NS-31 juga diikuti tokoh-tokoh perempuan lain seperti jurnalis Gayle King, filantropis Lauren Sanchez, insinyur penerbangan Aisha Bowe, aktivis HAM Amanda Nguyen, dan produser film Kerianne Flynn. Dipimpin oleh Sanchez, yang juga tunangan pendiri Amazon Jeff Bezos, misi ini menjadi simbol inklusivitas dan peran aktif perempuan dalam eksplorasi antariksa modern.

Meski menuai pujian, misi ini juga mendapat kritik dari sejumlah pihak. Aktris Olivia Munn, misalnya, mempertanyakan kontribusi ilmiah dari perjalanan ini. Namun banyak pula yang melihat momen ini sebagai tonggak penting dalam normalisasi partisipasi sipil dan kreatif dalam ruang eksplorasi yang dulu didominasi kalangan militer dan ilmuwan.

Yang tak kalah menarik, penampilan Katy Perry selama penerbangan juga mendapat sorotan. Dirias oleh makeup artist Alexandra French, ia tampil dengan riasan flawless—eyeshadow cokelat, blush pink, dan lipstik nude—yang dikunci dengan setting spray tahan gravitasi. Perry bahkan disebut sebagai “astronaut glam” pertama yang tetap tampil memesona di luar atmosfer.

Baca Juga: TENSI PANAS Derby della Capitale, Lazio dan AS Roma Gagal Tentukan Pemenang di Olimpico, Cek HASIL LENGKAP Pertandingan Liga Italia Pekan ke 32

Momen puncak terjadi ketika kapsul kru mendarat dengan parasut dan Katy Perry terekam kamera mencium tanah dengan penuh syukur. “Bumi begitu sunyi tapi hidup. Saya merasa sangat terhubung,” ucapnya, dengan mata berkaca-kaca.

Misi ini menambah daftar prestasi Katy Perry yang tak hanya sukses sebagai musisi dengan lebih dari 18 miliar streaming di seluruh dunia, tapi kini juga tercatat dalam sejarah sebagai salah satu selebritas global yang pernah menyentuh luar angkasa.

Lewat nyanyiannya dari balik jendela kapsul Blue Origin, Perry mengingatkan dunia bahwa seni dan sains bisa berjalan beriringan dan bahwa di luar seluruh sensasi dan sorotan kamera, masih ada dunia yang luar biasa di bawah sana, menunggu untuk dijaga. ***