POJOKSATU.id — Hubungan pertemanan Vincent Rompies dan Deddy Mahendra Desta telah berlangsung selama puluhan tahun.

Kedekatan keduanya tidak hanya terlihat dari aktivitas mereka di industri musik, tetapi juga berlanjut dalam membangun usaha di sektor media melalui Vindes Corp.

Perusahaan tersebut mulai diperkenalkan kepada masyarakat pada 1 Agustus 2021.

Pemilihan tanggal itu bukan tanpa alasan karena bertepatan dengan 30 tahun perjalanan persahabatan Vincent dan Desta.

Baca Juga: Ingin Anak Punya Mental Kuat? Ini 10 Kebiasaan yang Perlu Diterapkan Orang Tua

Dalam struktur perusahaan, Desta berperan sebagai Komisaris, sementara Vincent dipercaya menjadi Direktur.

Ketika pertama kali dibentuk, perusahaan tersebut sebenarnya belum memakai identitas Vindes.

Vincent dan Desta kala itu menggunakan nama Vincent-Desta dan aktivitas utamanya masih berkutat pada pembuatan konten di YouTube.

Identitas Vindes baru digunakan setelah seorang anggota tim yang sebelumnya memiliki pengalaman di salah satu radio ternama mengajukan nama tersebut.

Baca Juga: Benarkah Oarfish Muncul di Pantai Pink Lombok Jadi Tanda Gempa? Pakar Ungkap Faktanya

Usulan itu mendapat sambutan positif dan akhirnya menjadi awal perubahan identitas perusahaan melalui proses rebranding.

Tak hanya nama, logo Vindes pun dibuat dengan membawa pesan tertentu.

Logo yang menyerupai es krim menggambarkan keinginan agar karya-karya Vindes dapat diterima oleh berbagai kalangan.

Filosofinya juga berkaitan dengan es krim yang tersedia dalam banyak rasa, sebagaimana Vindes ingin menawarkan konten dengan beragam karakter dan pendekatan.

Makna lain terdapat pada penggunaan huruf V dan D dalam nama Vindes.

Ketika dibalik, bentuk kedua huruf tersebut dikaitkan dengan kata "Seni".

Baca Juga: Guru Wajib Cicipi MBG Sebelum Dibagikan? Ini Penjelasan BGN soal Peran PIC Sekolah

"Maksudnya, awalnya mereka (Vincent dan Desta) dari seniman di IKJ," ungkap Awan Prasetyo, GM Vindes.

Latar belakang tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari identitas Vindes dalam menentukan posisi di industri kreatif.

Vindes mencoba berada di ruang antara arus mainstream dan dunia independen, tanpa harus terpaku pada salah satu sisi.

Karakter itu juga terlihat dari keberanian tim Vindes dalam mengembangkan konsep yang tidak selalu mengikuti perkiraan umum.

Baca Juga: Penutupan Jalan Sekitar DPR-MPR, Ini Daftar Rute Transjakarta yang Terdampak

Vincent dan Desta sejak awal disebut memberikan dorongan kepada tim agar terus mengeksplorasi ide-ide yang berbeda dan menghasilkan sesuatu di luar ekspektasi.

"Kami jembatan mainstream dan sidestream atau indie. Vindes di tengah-tengah," tutur Awan.

Dengan posisi tersebut, Vindes dapat bergerak mengikuti tren arus utama, mengeksplorasi ranah indie, ataupun membuat pendekatan yang menjadi ciri khasnya sendiri.

Dalam mengembangkan berbagai proyek, unsur cerita menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian penting.

Baca Juga: Magang DPD RI 2026 Dibuka, Ada Honorarium dan Sertifikat untuk Peserta

"Salah satu kata kuncinya, story," kata Awan.

Prinsip tersebut diterapkan melalui berbagai konsep kreatif yang dibuat Vindes.

Pada momen Ramadan, misalnya, mereka pernah menghadirkan hampers dalam bentuk kaleng kerupuk dengan konsep keluarga.

Ada pula hampers berisi kelapa dan kacamata yang dirancang mengikuti tema Ramadan dengan nuansa pulau.

Eksplorasi Vindes tidak berhenti pada produksi konten. Mereka juga memperluas aktivitas ke ranah olahraga dan hiburan melalui Vindes Sport.

Baca Juga: The Remarried Empress Segera Tayang November 2026, Ini Jadwal dan Sinopsisnya

Platform tersebut dirancang untuk menggabungkan pertandingan olahraga dengan unsur entertainment sehingga dapat menjadi tontonan yang menghibur.

Ide Vindes Sport bermula dari obrolan Onadio Leonardo dan Desta mengenai pingpong.

Percakapan sederhana mengenai olahraga tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan untuk menghadirkan pertandingan pingpong dalam format hiburan yang lebih menarik bagi penonton.

Kehadiran Vindes akhirnya menjadi salah satu bentuk kolaborasi Vincent dan Desta setelah melewati perjalanan persahabatan yang panjang.

Berbekal pengalaman di dunia seni dan hiburan, keduanya membangun perusahaan media yang berusaha menghadirkan karya dengan pendekatan kreatif, cerita yang kuat, serta konsep yang tidak terpaku pada batas antara mainstream dan indie.***