POJOKSATU.id - Film horor psikologis fiksi ilmiah Backrooms benar-benar menjadi fenomena baru di industri perfilman dunia.
Berawal dari serial web yang populer di internet, film garapan YouTuber muda Kane Parsons itu kini sukses mencetak sejarah setelah langsung memuncaki box office Amerika Utara pada pekan debutnya.
Pencapaian tersebut terbilang luar biasa. Dalam akhir pekan perdananya, Backrooms berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar US$81,4 juta atau sekitar Rp1,45 triliun di pasar domestik Amerika Utara.
Baca Juga: Riset 15 Tahun Bongkar Jurusan Kuliah Paling Cuan, Nomor 1 Bukan Kedokteran
Tak hanya berjaya di kandang sendiri, film ini juga mendapat sambutan hangat di pasar internasional. Backrooms membukukan tambahan pendapatan sebesar US$36,5 juta sehingga total perolehan globalnya mencapai US$118 juta atau lebih dari Rp2,1 triliun.
Angka tersebut terasa semakin fantastis mengingat biaya produksi film ini hanya sekitar US$10 juta.
Dengan modal yang relatif kecil untuk ukuran industri Hollywood, Backrooms kini disebut sebagai salah satu film paling menguntungkan sepanjang tahun 2026.
Baca Juga: Sosok Nanik S Deyang Loyalis Prabowo Jadi Kepala BGN, Pernah Wartawati Tabloid Bangkit
Film yang ditulis oleh Will Soodik dan disutradarai Kane Parsons itu juga memecahkan sejumlah rekor penting.
Backrooms mencatatkan pembukaan terbesar sepanjang sejarah untuk rumah produksi A24, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang film Civil War karya Alex Garland.
Tak berhenti di situ, Backrooms juga menjadi film horor orisinal dengan debut terbesar dalam sejarah box office.
Baca Juga: Dell XPS 13 2026 Bikin Geger, Laptop Premium Windows Kini Lebih Murah dari MacBook Neo
Kane Parsons pun mencatat namanya sebagai sutradara termuda yang berhasil mengantarkan filmnya menduduki posisi nomor satu di box office Amerika Utara.
Kesuksesan tersebut membuat masa depan Backrooms semakin menarik untuk dinantikan.
Meski belum ada pengumuman resmi mengenai sekuel, Parsons dikabarkan mulai mempertimbangkan pengembangan Backrooms menjadi sebuah waralaba besar.
Baca Juga: Jago Cimory
Viral karena Diduga Gunakan Suara Berbahasa Indonesia
Selain sukses secara komersial, Backrooms juga ramai diperbincangkan di media sosial karena keterkaitannya dengan Indonesia.
Sejumlah penonton menduga film tersebut menggunakan rekaman salam berbahasa Indonesia yang diucapkan oleh Ilyas Harus.
Rekaman tersebut diketahui menjadi bagian dari The Golden Records yang dikirim NASA ke luar angkasa pada tahun 1977 sebagai representasi budaya dan bahasa manusia di Bumi.
Dugaan tersebut membuat nama Backrooms semakin viral, khususnya di kalangan penonton Indonesia yang penasaran dengan kemunculan unsur lokal dalam film horor internasional tersebut.
Kisah Misterius di Balik Pintu Rahasia
Backrooms merupakan adaptasi layar lebar dari serial web populer karya Kane Parsons yang terinspirasi dari creepypasta legendaris dengan judul yang sama.
Film ini mengikuti kisah seorang pemilik toko furnitur bernama Clark yang diperankan Chiwetel Ejiofor.
Kepada terapisnya, Mary yang diperankan Renate Reinsve, Clark mengaku mengalami kegelisahan setelah menemukan sebuah pintu rahasia di bawah tokonya.
Pintu tersebut membawanya ke rangkaian ruangan kosong yang tampak biasa, namun membentang tanpa akhir dan menyimpan misteri yang sulit dijelaskan.
Situasi berubah menjadi semakin mencekam ketika Clark menghilang secara misterius.
Mary kemudian memutuskan masuk ke dunia yang tidak dikenal itu demi menemukan dan menyelamatkannya.
Generasi Z Jadi Kunci Kesuksesan
Di tengah dominasi film-film blockbuster musim panas, Backrooms bukan satu-satunya film horor independen yang mencuri perhatian.
Film Obsession karya YouTuber Curry Barker juga mencatat hasil mengesankan.
Pada pekan ketiganya, film tersebut memperoleh US$26,4 juta di pasar domestik dan telah mengumpulkan total pendapatan global sebesar US$148 juta dari biaya produksi hanya US$1 juta.
Baca Juga: Mulai Berlaku Juni 2026, Inilah Skema Transisi Ekspor Komoditas Strategis Melalui PT Danantara
Menurut analis industri film Jeff Bock dari Exhibitor Relations, fenomena Backrooms dan Obsession menunjukkan besarnya pengaruh penonton Generasi Z terhadap industri perfilman saat ini.
"Ini seharusnya memberdayakan industri. Ada penonton baru, dan mereka menunggu konten seperti ini," kata Bock.
"Kita tahu film horor indie sedang populer, tetapi kita tidak tahu seberapa populernya. Film ini bahkan bersaing dengan film-film blockbuster musim panas," lanjutnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Jabatan Kepala Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Kesuksesan Backrooms membuktikan bahwa ide kreatif dan kedekatan dengan budaya internet kini mampu menyaingi kekuatan studio besar Hollywood.
Dari sebuah serial web sederhana hingga menjadi fenomena global, perjalanan film ini menjadi pengingat bahwa di era digital, karya yang lahir dari imajinasi dan keberanian bereksperimen masih memiliki ruang besar untuk menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.***


