POJOKSATU.id - Bogor memang kota yang tak pernah kehabisan cerita. Termasuk lahirnya grup musik yang dinilai membawa pendekatan berbeda dalam berkarya. Salah satunya, COMMA 225.
Pemusik kreatif ini hadir bukan sekadar sebagai pengisi ruang hiburan, tetapi sebagai medium refleksi yang mengajak pendengar untuk berhenti sejenak memahami hidup dengan cara yang lebih dalam.
Hidup dalam sebuah jeda, dalam tanda koma yang menjadi area pemberhentian sementara, introspeksi sebelum hidup berlanjut.
Baca Juga: Dari Krisis Jadi Peluang! 7 Ide Usaha Minim Plastik yang Bisa Dicoba Saat Harga Melonjak
Lewat debut album mereka, In The Light, COMMA 225 menawarkan pengalaman emosional yang terasa jujur, hangat, dan dekat dengan realitas kehidupan banyak orang.
Digawangi Agi (gitar, vokal), Idfi (gitar, vokal latar), Faith (drum), serta Terry (keyboard dan synth), COMMA 225 memberi nuansa enjoy, penuh introspeksi, kenangan dalam perjalanan sebuah masa.
Menemukan Makna di Balik ‘Jeda’
Nama COMMA 225 bukan sekadar identitas, tetapi sebuah gagasan. Dalam percakapan bersama para personelnya, terungkap bahwa “comma” atau koma adalah simbol jeda dalam perjalanan hidup.
Baca Juga: Gak Perlu Mahal! 7 Cara Ganti Plastik yang Lebih Hemat dan Ramah Lingkungan
Jeda yang bukan berarti berhenti, melainkan ruang untuk bernapas, berpikir, dan melanjutkan langkah.
“COMMA 225 berangkat dari ide sederhana: revival impian dan harapan. Tentang hidup yang belum selesai. Tentang kita yang masih terus berjalan, dari satu koma ke koma lainnya,” ungkap Idfi.
Angka “225” sendiri menjadi identitas personal yang memiliki makna internal bagi tiap personel.
Tidak selalu harus dijelaskan ke publik, tetapi cukup menjadi pengingat perjalanan mereka sebagai individu maupun sebagai satu kesatuan.
“In The Light”: Saat Segalanya Mulai Terlihat Jelas
Judul album mereka, "In The Light", bukan dipilih tanpa alasan. Cahaya di sini adalah metafora untuk moment of clarity dalam hidup.
Ini adalah titik di mana jawaban akhirnya datang atas pertanyaan-pertanyaan yang lama mengendap di kepala.
“Ini adalah titik di mana kita mulai melihat dengan lebih jelas: apa yang sebenarnya kita cari, apa yang kita rasakan, dan ke mana kita ingin melangkah,” tambah Idfi
Baca Juga: YouTube Kena Sanksi Pemerintah Indonesia, Google Dinilai Belum Patuh Aturan Perlindungan Anak
Menariknya, album ini tidak memaksakan satu tafsir tunggal. Justru, ruang interpretasi dibuka selebar mungkin agar setiap pendengar bisa menemukan makna versi mereka sendiri.
Salah satu kekuatan album ini terletak pada liriknya yang terasa sangat personal namun sekaligus universal. Fase "gelap ke terang" adalah pengalaman manusia yang hampir semua orang pernah alami.
Morning comes again, you’re running through my veins
Sitting all alone in my room, watching all the shadows fade and all the colors bloom
Staring at the floor, a glance of opened door beyond forevermore
And I know you’re the one that I’ve been longing for
Begitu penggalan lyric "In The Light" di album mereka yang kini sudah tersedia di seluruh digital streaming platform (DSP).
Baca Juga: Lolos SNBP 2026 UIN Bandung? Ini Panduan Lengkap Daftar Ulang, Jangan Sampai Terlewat
Sosok “you” yang muncul dalam lagu, misalnya, tidak dibatasi pada satu figur. Ia bisa berarti seseorang yang dicintai, tujuan hidup, bahkan keyakinan personal.
“You bukan hanya tentang siapa, tapi tentang apa yang paling berarti bagi tiap pendengar,” lanjutnya.
Warna Musik yang Jujur dan Personal
Secara musikal, COMMA 225 memadukan nuansa era 90-an dan 2000-an dengan eksplorasi modern yang terasa segar.
Hasilnya adalah warna musik yang tidak berisik, tetapi tetap kuat secara emosional.
Pendekatan ini membuat lagu-lagu mereka terasa hidup, tanpa perlu berlebihan.
Agi sebagai gitaris dan vokalis mengakui bahwa tantangan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri.
“Di lagu ini saya belajar bahwa ‘less is more’. Nggak perlu berlebihan, karena saat kita jujur, emosi itu akan beresonansi dengan sendirinya,” ujarnya.
Sedangkan Idfi sendiri, menekankan pentingnya memberi ruang pada lagu agar tidak terasa penuh.
Baca Juga: Habiburokhman Ungkap ‘Inflasi Pengamat’, Kritik Toxic Disebut Bisa Jadi Racun Demokrasi
“Ada momen di mana saya harus nahan permainan biar kasih ruang ke lagu. Itu challenging tapi satisfying.”
Berbeda dengan Terry yang justru menemukan kekuatan pada bagian yang halus.
“Saya menikmati bagian yang subtle, karena di situ feel-nya kerasa banget. Sebelum berharap audience suka, saya harus suka dulu.”
Sementara Faith melihat dinamika sebagai elemen penting.
Baca Juga: Pernyataan Jusuf Kalla di Masjid UGM Terkait Upayanya Mendamaikan Konflik Poso dan Ambon
“Build-up drum menuju akhir lagu jadi favorit saya. Nggak terlalu kompleks, tapi cukup powerful untuk mengangkat mood keseluruhan,” tegasnya.
Lebih dari Sekadar Musik
Bagi COMMA 225, musik bukan hanya soal karya yang didengar, tetapi juga tentang warisan yang ditinggalkan.
Mereka ingin setiap lagu menjadi ruang aman bagi pendengar untuk merasa dipahami, tanpa harus dijelaskan secara gamblang.
“In The Light adalah salah satu warna dari COMMA 225, tapi bukan satu-satunya. Ke depan kami akan terus eksplor, tapi satu hal yang tetap ada adalah kejujuran dalam bercerita.”
Di tengah arus musik yang semakin cepat dan instan, kehadiran COMMA 225 terasa seperti jeda yang dibutuhkan.
Sebuah pengingat bahwa dalam hidup, tidak semua harus segera selesai—kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak di satu koma, sebelum akhirnya menemukan cahaya kita sendiri. Hidup memang sebuah jeda, kita belum titik. ***


