POJOKSATU.id - Yayasan Al-Ghifari berawal dari pertemuan Sali Iskandar dengan R. H. Yudi Suryadi pada tahun 1988 di Kujang, Bandung.

Pertemuan itu terjadi saat berlangsung kerja sama dengan Ibu Sun Yahya, yang kala itu diwakili oleh Iwan Dewan Karyaman dan R. H. Yudi Suryadi, sementara dari pihak Kujang diwakili oleh Romli Sundara dan Sali Iskandar.

Meski kerja sama tersebut tidak berlanjut, hubungan personal Sali Iskandar dan R. H. Yudi Suryadi tetap terjalin dan menjadi benih lahirnya berbagai inisiatif kelembagaan.

Dari hubungan inilah Sali Iskandar mulai merintis Yayasan Siger Tengah dengan susunan pengurus awal Ketua Sali Iskandar, Sekretaris Awan Budhiawan (alm), serta Bendahara Dra. Hj. Netty Nurdjannaty Budhiningsih.

Baca Juga: Nasib Gaji PPPK Paruh Waktu Berbeda di Tiap Daerah, Dari Surabaya hingga Kepulauan Riau

Bersamaan dengan itu, ia juga mendirikan PT Bandung Inter Mediari Utama dan Yayasan Wahana Citra Nusantara.

Meski dua lembaga terakhir tidak berkembang dan akhirnya dibubarkan, Yayasan Siger Tengah tetap berjalan dan fokus di bidang penerbitan.

Buku pertama yang diterbitkan Yayasan Siger Tengah berjudul Bunga Rampai Jawa Barat, sebuah karya yang digagas langsung oleh Sali Iskandar bersama sahabat-sahabat lamanya seperti Masni, Palmarhum, Maman, Edi RH, dan Anan Suyitno.

Dalam proses penerbitan, bagian redaksi melibatkan Drs. H. Gunawan Undang, M.Si., Drs. Deden Suhendar, Cucu Komara, Tom Finaldin, Ruspandi, Sjumiati, dan Kusnandar.

Baca Juga: Tim SAR Tinggal Mencari Satu Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500, Total 9 Sudah Ditemukan

Sementara bagian administrasi keuangan dan pemasaran diperkuat oleh Drs. H. Cucu Ruhiatna Wijaya, Drs. H. Suhana, Mudloaf Hasan, hingga sejumlah nama lain.

Untuk mengembangkan usaha penerbitan, Sali Iskandar mendirikan CV Siger Tengah Group yang berkantor di Jalan Sekejati, Bandung.

Percetakan dilakukan di Metro Pos Jakarta dengan penanggung jawab R. H. Yudi Suryadi.

Seiring waktu, pada 1991 Sali Iskandar pindah ke Rancakasumba dan mulai merintis Yayasan Guruminda sebagai fondasi baru di bidang pendidikan.

Baca Juga: Saat Sopir dan Pencuci Ompreng Digaji Lebih Layak dari Guru, Apa yang Sedang Diprioritaskan Negara?

Cita-cita besar Sali Iskandar untuk membangun Indonesia melalui pendidikan mulai dirumuskan sejak 1993.

Hal itu diwujudkan dengan pendirian Yayasan Guruminda berdasarkan Akta Notaris Dr. Wiratni Ahmadi, S.H. Nomor 45 tanggal 7 Desember 1993.

Dalam kepengurusan awal, Sali Iskandar menjabat sebagai Ketua, R. H. Yudi Suryadi sebagai Wakil Ketua, Zadvi Putranti sebagai Sekretaris, dan Dra. Hj. Netty Nurdjannaty Budhiningsih sebagai Bendahara.

Langkah konkret pertama di bidang pendidikan dimulai pada 1994 dengan berdirinya RA Plus Al-Ghifari yang berlokasi di garasi rumah Sali Iskandar di Jalan Cisranten Kulon No. 135 A, Bandung.

Drs. H. Saepudin Djajarahmat ditunjuk sebagai kepala sekolah pertama.

Baca Juga: 20 Universitas Negeri Terbaik di Indonesia Versi THE Impact Rankings 2025, Kampus Berkelanjutan Jadi Sorotan

Setahun kemudian, berbagai lembaga pendidikan dan sosial berdiri, mulai dari STMIK Jabar, SMU Plus Al-Ghifari, Pesantren Islam Bandung, hingga bimbingan haji dan koperasi yayasan.

Untuk memperkuat ciri khas Islam sebagai kurikulum plus, pada 19 Juni 1997 Sali Iskandar mendirikan Yayasan Al-Ghifari melalui Akta Notaris Wiratni Ahmadi, S.H. Nomor 139.

Susunan pengurus awal terdiri atas Ketua Sali Iskandar, Sekretaris Drs. H. Cucu Ruhiatna Wijaya, dan Bendahara Dra. Hj. Netty Nurdjannaty Budhiningsih.

Sejak saat itu, lembaga pendidikan di bawah Yayasan Al-Ghifari berkembang pesat, mulai dari SD Plus, SLTP Plus, SMU Plus, hingga pengelolaan STBA Jabar dan STIE Al-Ghifari.

Baca Juga: TKA SD–SMP 2026 Bukan Tes Hafalan, Ini Struktur dan Bentuk Soal yang Perlu Dipahami Siswa

Puncak perjalanan tersebut terjadi pada tahun 2002 dengan berdirinya Universitas Al-Ghifari, hasil penggabungan STBA Jabar dan STIE Al-Ghifari.

Rektor pertama universitas ini adalah Drs. H. Cucu Ruhiatna Wijaya.

Yayasan Al-Ghifari terus berbenah, termasuk melakukan penyempurnaan struktur pengurus pada periode 2001–2005 untuk memperkuat tata kelola lembaga.

Yayasan Al-Ghifari mengusung visi menjadi penyelenggara lembaga pendidikan dan nonpendidikan dengan pelayanan prima, islami, dan berjiwa wirausaha.

Misi dan tujuannya diarahkan pada tata kelola yang baik, pemenuhan standar nasional, serta penguatan nilai-nilai syariat Islam dan semangat kewirausahaan.

Baca Juga: Pengumuman Resmi Beasiswa Semercu 2026 Universitas Mercu Buana, Ini Arti Status Lulus dan Cara Klaimnya

Nama Al-Ghifari sendiri diambil dari nama putra Sali Iskandar, Muhammad Husein Ghifari Iskandar, sebagai simbol harapan dan keberlanjutan perjuangan.

Dari sebuah pertemuan sederhana hingga berdirinya universitas, Yayasan Al-Ghifari menjadi bukti bahwa ketekunan, nilai, dan visi jangka panjang mampu melahirkan perubahan nyata bagi dunia pendidikan dan umat. ***