POJOKSATU.id - Literasi digital kini menjadi kata kunci utama dalam memahami bagaimana generasi muda membaca dunia.
Generasi Z dan milenial di Indonesia tak lagi hanya menjelajah buku fisik sebagai sumber pengetahuan.
Kini, mereka mulai beralih ke konten video pendek, media sosial, dan berbagai platform digital edukatif sebagai sarana belajar dan mengeksplorasi ide baru.
Perubahan ini menandai wajah baru literasi anak muda dari buku ke layar, dari membaca pasif ke mencipta aktif.
Baca Juga: Grand Opening K Mall: Babak Baru Gaya Hidup Urban di Menara Jakarta
Tren Baru Literasi di Kalangan Anak Muda
Situasi literasi generasi muda di Indonesia menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.
Misalnya, berdasarkan survei Indeks Literasi Digital Indonesia 2021, skor nasional literasi digital masih berada di tingkat sedang dengan angka 3,49 dari skala 1–5.
Namun, kelompok usia muda dan masyarakat di wilayah urban cenderung memiliki skor di atas rata-rata nasional.
Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian anak muda.
Baca Juga: Viral Modus Baru Bikin Ngeri Pencuri Menyamar Jadi Teknisi Internet dan Bobol Rumah Warga Bekasi
Mereka memanfaatkannya bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi.
Hal ini menunjukkan bahwa literasi saat ini tidak selalu harus melalui buku.
Konten digital kini menjadi medium baru yang lebih cepat diakses, lebih interaktif, dan lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Oleh sebab itu, literasi di kalangan anak muda kini tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis.
Lebih dari itu, literasi juga mencakup kemampuan menggunakan media digital secara produktif, kritis, dan kreatif.
Dari Buku ke Layar: Pergeseran Cara Belajar dan Mengonsumsi Informasi
Peralihan dari buku ke layar terjadi karena berbagai faktor.
Beberapa di antaranya adalah kemajuan teknologi, peningkatan akses internet yang masif, serta preferensi generasi muda terhadap konten visual yang dinamis.
Sekitar 80 persen dari total populasi Indonesia telah terkoneksi internet, membuka peluang literasi digital yang luas.
Platform TikTok, misalnya, menghadirkan video pendek yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan edukatif.
Baca Juga: SKTP Sudah Terbit 27 Oktober, tapi TPG Belum Cair Juga! Ada Apa Sebenarnya?
Mulai dari ringkasan buku, tips belajar, hingga penjelasan topik sains yang dikemas dalam durasi singkat 1–3 menit.
Ini cocok bagi anak muda yang terbiasa multitasking dan menginginkan informasi cepat namun tetap bermakna.
Namun, bukan berarti buku fisik kehilangan posisi sama sekali.
Buku dan media cetak tetap memiliki peran penting dalam membangun kemampuan literasi yang mendalam.
Sementara itu, konten digital berfungsi sebagai pintu masuk yang cepat dan mudah diakses.
Keduanya saling melengkapi dan sebaiknya berjalan beriringan.
Baca Juga: Rahasia di Balik Passing Grade PPG Calon Guru: Mengapa Tidak Diumumkan ke Publik?
Munculnya Kreator Edukasi: Guru Baru di Dunia Maya
Di era literasi digital ini, muncul guru baru yang bukan hanya mengajar di kelas tapi juga di layar smartphone.
Mereka adalah para kreator edukasi, yakni guru sekolah, mahasiswa, peneliti, hingga profesional yang membuat konten edukatif di TikTok atau Instagram.
Media sosial juga dapat menjadi alternatif baru untuk meningkatkan literasi masyarakat.
Salah satu alasannya, masyarakat Indonesia kini lebih senang membaca melalui gawai dan postingan yang dikemas menarik.
Contohnya, ada konten berupa ringkasan buku dalam bentuk animasi, tips belajar efektif sebelum ujian, hingga eksperimen sains sederhana yang bisa dilakukan di rumah.
Baca Juga: SK PPPK Paruh Waktu Baru Tercetak 15% Secara Nasional, BKN Sebut Daerah Belum Siap Jalankan Program
Ada pula diskusi singkat tentang isu sosial yang dikemas ringan namun tetap bermakna.
Dengan cara ini, literasi tak hanya diterima secara pasif tetapi juga dirasakan dan diaplikasikan secara kreatif.
Tantangan Literasi Digital: Antara Informasi dan Disinformasi
Walau potensi literasi digital sangat besar, tantangannya juga nyata.
Data menunjukkan bahwa meskipun akses internet di Indonesia semakin luas, tingkat literasi digital masih berada di level sedang.
Artinya, banyak pengguna internet yang belum mampu memilah informasi dengan tepat.
Fenomena banjir informasi di media sosial juga membawa tantangan tersendiri.
Pengguna muda kerap kesulitan membedakan mana konten edukatif yang berkualitas dan mana yang berisi misinformasi atau bahkan hoaks.
Baca Juga: Tom Felton Kembali Jadi Draco Malfoy di Broadway, Bawa Keajaiban Harry Potter ke Panggung New York
Karena itu, literasi digital tidak hanya tentang kemampuan mengonsumsi konten.
Lebih penting lagi, literasi digital mencakup kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan menciptakan konten secara bertanggung jawab.
Kreator edukasi perlu memastikan kontennya berbasis data atau fakta, bukan sekadar viral.
Literasi Masa Kini Bukan Sekadar Membaca, tapi Memahami dan Mencipta
Literasi abad ke-21 mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, melainkan juga produsen.
Pembuatan video edukasi, penulisan blog, podcast diskusi, hingga kolaborasi konten antar pelajar adalah bagian dari literasi masa kini.
Dengan begitu, anak muda dapat berkembang dari sekadar pembaca menjadi individu yang mampu memproses dan menghasilkan informasi.
Mereka juga berpotensi menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya melalui konten yang mereka ciptakan.
Hal ini sejalan dengan visi bahwa literasi digital bisa membekali generasi muda agar menjadi produsen konten, bukan sekadar konsumen.
Melalui cara ini, literasi tak lagi itu-itu saja, tapi dinamis dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Transformasi literasi dari buku ke TikTok edukasi menandai babak baru bagi generasi muda Indonesia.
Baca Juga: Akhirnya Gaji PPPK Dibayar! Gubernur Sulteng Cairkan Rp16 Miliar untuk Ribuan Pegawai Donggala
Perpaduan antara buku fisik yang mendalam dan media digital yang ringan dan cepat bisa menjadi kombinasi yang ideal.
Kolaborasi antara dunia pendidikan formal, keluarga, dan platform digital sangat penting agar literasi tak hanya tentang akses namun juga tentang kualitas dan kreativitas.
Dengan begitu, generasi muda Indonesia bisa siap menghadapi tantangan global, mencipta konten yang bermakna, dan berperan aktif dalam membangun bangsa yang melek informasi.***




