POJOKSATU.id — Acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Mulawarman (Unmul) tahun 2025 diwarnai polemik usai menghadirkan Wakil Gubernur Kalimantan Timur dan pejabat militer.

Sebagian menyambut positif langkah sinergi antarlembaga, sementara pihak lain menyuarakan kritik keras terhadap simbolisasi kekuasaan di ruang akademik.

Sebanyak 6.426 mahasiswa baru resmi memulai perkuliahan di Unmul. Mereka disambut dalam acara PKKMB yang digelar di GOR 27 September Unmul, Samarinda, Selasa (5/8).

Baca Juga: Universitas Brawijaya Jadi Tuan Rumah Evaluasi SEA-Teacher ke-10, Bahas Standar Kompetensi Guru Asia Tenggara

Dalam sambutannya, Rektor Unmul Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng, menekankan pentingnya komitmen belajar dan semangat berprestasi.

“Mahasiswa baru tahun ini merupakan hasil seleksi ketat dari lebih 45 ribu pendaftar. Inilah kekuatan strategis Unmul ke depan,” ujarnya.

“Unmul bukan hanya tempat belajar, tapi ruang tumbuh untuk menjadi insan unggul, mandiri, dan berdampak bagi masyarakat.”

Baca Juga: Universitas Doktor Nugroho Magetan Buka Lowongan Dosen dan Tenaga Kependidikan

Rektor juga menyebut bahwa Unmul saat ini berada di peringkat 29 nasional. Peningkatan prestasi, ketepatan studi, dan inovasi akademik menjadi kunci menuju universitas berkelas dunia.

Wagub Kaltim Janjikan Pendidikan Gratis dan Pembangunan Fasilitas
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji hadir dalam acara dan menyampaikan komitmen Pemprov terhadap pendidikan tinggi.

Melalui program Gratispol, tahun ini pemerintah daerah telah mengalokasikan Rp750 miliar untuk menutup biaya kuliah mahasiswa baru.

Baca Juga: SEGERA Tersedia Buat Sekolah, ChatGPT Punya Fitur Baru, Study Mode, Bukan Cuma Kasih Jawaban Tapi Menuntun Kamu Berpikir!

Bahkan, tahun depan akan digelontorkan anggaran hingga Rp2,7 triliun untuk mencakup seluruh mahasiswa.

“Kalian cukup beruntung karena ke depan kami ingin kalian benar-benar tidak perlu memikirkan biaya kuliah,” ujarnya.

Selain itu, Pemprov Kaltim juga sedang membangun Smart Digital Education Center senilai Rp127 miliar di Unmul dan merencanakan pendirian Rumah Sakit Pendidikan Kedokteran di Sempaja.

Baca Juga: Prodi Sastra Indonesia UNJ Gelar Pelatihan Foto Produk untuk UMKM di Karawang

“Hari ini kalian masih pakai kipas, tahun depan kami siapkan AC untuk kenyamanan di GOR ini,” tambah Seno Aji.

Dosen FH Unmul Soroti Kehadiran Pejabat: Kampus Bukan Alat Kekuasaan
Kehadiran Wakil Gubernur dan perwakilan TNI menuai kritik dari Herdiansyah Hamzah, pengamat hukum dan dosen Fakultas Hukum Unmul yang dikenal dengan sapaan Castro.

Ia menyayangkan orientasi kegiatan PKKMB yang dinilai menyimpang dari esensinya.

“Pelaksanaan PKKMB ini harus dikritik. Ini pengenalan kehidupan kampus, bukan pengenalan pejabat,” tegasnya.

Baca Juga: Asesmen Nasional tidak dilaksanakan di akhir jenjang, dan tidak digunakan untuk menilai peserta didik secara individual.

“Sayang sekali saat pertama kali mahasiswa baru menginjakkan kaki di kampus, tapi mereka sudah diajarkan ‘bermesraan’ dengan kekuasaan.”

Ia juga menilai kehadiran TNI di acara ini merupakan bentuk indoktrinasi yang tidak semestinya terjadi di lingkungan pendidikan tinggi.

“Kalau urusan cinta tanah air, saya lebih percaya rektor atau dosen kewarganegaraan dan Pancasila. Kedisiplinan bisa dipelajari dari tokoh sipil seperti Hatta, tidak harus lewat militer,” ujarnya.

Baca Juga: Apa Saja Peran Saka Pramuka dalam Membentuk Keterampilan Hidup? Ini Penjelasannya

Rektor Unmul: Ini Sinergi Lintas Lembaga, Bukan Doktrinasi
Menanggapi kritik tersebut, Prof Abdunnur memberikan klarifikasi bahwa kehadiran pejabat negara dalam PKKMB bukan bentuk seremoni kosong atau upaya politisasi.

Menurutnya, kegiatan ini adalah upaya memperluas wawasan mahasiswa terhadap realitas eksternal dan sinergitas antarinstansi.

“Di internal, mahasiswa dikenalkan dengan sistem pembelajaran dan fasilitas. Di eksternal, kita bangun sinergi agar mereka siap bersaing,” katanya pada Rabu (6/8/2025).

Baca Juga: Kurikulum Cinta dan Deep Learning, Madrasah Didorong Tumbuhkan Nilai Kasih Sejak Dini

Rektor menjelaskan, 85 persen mahasiswa baru Unmul merupakan penerima manfaat program Gratispol, sehingga wajar jika Pemprov Kaltim dilibatkan.

Lebih jauh, terkait kehadiran TNI, Abdunnur menyatakan bahwa tujuannya adalah ingin membentuk karakter kebangsaan mahasiswa, bukan indoktrinasi militeristik.

“Kami ingin menghasilkan lulusan dengan karakter mental kebangsaan. Tentu TNI punya itu, dan perlu disampaikan ke mahasiswa baru.”

Baca Juga: Apa Itu Jambore Pramuka? Simak Sejarah dan Makna Ajang Bergengsi Ini

Ia juga menegaskan bahwa Unmul sedang dalam proses pembangunan menuju institusi unggul dan kampus berkelas dunia (world class university), dengan menjalin jaringan kerja sama seluas-luasnya.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

“Sinergi dengan berbagai pihak akan memperkuat posisi Unmul sebagai center of excellence,” tutupnya.