POJOKSATU.id – Virus Nipah kembali menjadi sorotan setelah sejumlah penelitian ilmiah mengonfirmasi keberadaannya pada populasi kelelawar di Indonesia.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus penularan pada manusia di Tanah Air, para ahli mengingatkan pentingnya kewaspadaan dini terhadap penyakit zoonotik mematikan tersebut.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan virus Nipah berasal dari kelelawar buah genus Pteropus.
Baca Juga: Update Gaji Dosen 2026 Resmi Diatur Permendiktisaintek 52/2025, ASN dan Non-ASN Diatur Lebih Jelas
Penularan ke manusia dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung, terutama melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Menurut Tjandra, saat ini kasus virus Nipah pada manusia tercatat terjadi di India. Namun sebelumnya, penyakit ini juga pernah muncul di Malaysia, Singapura, Filipina, dan Bangladesh.
“Walaupun memang tidak ada kasus pada manusia di negara kita, tetapi baik kita ketahui tentang tiga publikasi ilmiah virus Nipah pada kelelawar di beberapa provinsi kita, berdasarkan penelitian ahli-ahli kita,” kata Tjandra seperti fikutip dari Tempo, 6 Januari 2026.
Baca Juga: UNM Perkuat Kolaborasi Riset Lewat Program Hibah BESTARI Saintek 2026
Tiga Penelitian Virus Nipah di Indonesia
Tjandra memaparkan setidaknya ada tiga riset ilmiah yang membuktikan keberadaan virus Nipah pada kelelawar di Indonesia.
1. Penelitian di Sumatera (2013)
Penelitian oleh Indrawati Sendow, Atik Ratnawati, dan Trevor Taylor yang dipublikasikan di jurnal Plos pada Juli 2013 berjudul “Nipah Virus in the Fruit Bat Pteropus vampyrus in Sumatera, Indonesia”.
Riset ini menjadi laporan bukti molekuler pertama bahwa virus Nipah beredar di populasi kelelawar Pteropus vampyrus di Sumatera.
“Virus ini tidak dapat dibedakan dari virus yang terdeteksi pada kelelawar Pteropus vampyrus di Semenanjung Malaysia,” ujar Tjandra.
Analisis juga menunjukkan sekuens virus Nipah Indonesia lebih dekat dengan Malaysia dibandingkan Bangladesh atau India.
2. Penelitian di Jawa Tengah (2025)
Penelitian kedua dilakukan oleh Dimas Bagus Wicaksono, Arief Mulyono, dan tim. Mereka meneliti 64 kelelawar buah dari pasar hewan di Yogyakarta dan Magelang.
Baca Juga: Prabowo Gagas Proyek Gentengisasi Nasional, 57,93 Persen Rumah RI Sudah Pakai Genteng
Hasilnya, dua kelelawar dari Magelang dinyatakan positif virus Nipah. Temuan ini dipublikasikan pada jurnal Emerging Infectious Diseases edisi April 2025 dengan judul “Nipah Virus Detection in Pteropus hypomelanus Bats, Central Java, Indonesia”.
Analisis filogenetik menunjukkan virus tersebut merupakan genotip Malaysia dan berkerabat dengan virus Nipah di Kamboja dan Thailand.
“Temuan ini mengindikasikan adanya transmisi regional virus Nipah di Asia Tenggara,” jelas Tjandra.
3. Penelitian Serologi Kelelawar dan Babi
Penelitian ketiga dilakukan oleh Indrawati Sendow, Hume Field, dan rekan sejawat. Studi ini menyimpulkan infeksi Nipah telah terjadi pada kalong Pteropus vampyrus di Indonesia, namun belum ditemukan pada ternak babi.
Penelitian berjudul “Seroepidemiologi Nipah Virus pada Kalong dan Ternak Babi di Beberapa Wilayah di Indonesia” ini dipublikasikan di Indonesian Journal of Biology.
Meski demikian, Tjandra menegaskan belum ditemukannya virus pada babi tidak berarti ternak tersebut aman sepenuhnya.
Baca Juga: Sempat Lolos Operasi Tangkap Tangan, Bos Blueray Cargo yang Buron Akhirnya Menyerahkan Diri ke KPK
Pentingnya Pendekatan One Health
Tjandra menekankan seluruh temuan ilmiah tersebut menegaskan urgensi pendekatan satu kesehatan atau One Health, yakni koordinasi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
“Pengelolaan kesehatan tidak bisa terpisah-pisah. Virus zoonotik seperti Nipah menuntut sinergi lintas sektor,” ujarnya.
Antisipasi di Bandara dan Daerah
Meski belum ada kasus manusia di Indonesia, langkah antisipatif mulai dilakukan.
Baca Juga: Sempat Lolos Operasi Tangkap Tangan, Bos Blueray Cargo yang Buron Akhirnya Menyerahkan Diri ke KPK
Pengelola Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang bersama Balai Karantina Kesehatan melakukan pemeriksaan suhu tubuh penumpang internasional menggunakan thermal scanner.
Langkah ini merujuk pada Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang Kewaspadaan terhadap Penyakit Virus Nipah tertanggal 30 Januari 2026.
Selain itu, penumpang internasional juga diwajibkan mengisi aplikasi kesehatan nasional. Penumpang dengan suhu tubuh di atas ambang batas akan menjalani pemeriksaan lanjutan.
Gubernur Jakarta Pramono Anung memastikan belum ada kasus virus Nipah di Jakarta. Namun, ia meminta seluruh jajaran meningkatkan kewaspadaan.
“Virus nipah sampai hari ini di Jakarta belum ditemukan. Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri Kesehatan dan meminta Dinas Kesehatan segera melakukan langkah antisipasi,” kata Pramono.
Gejala dan Tingkat Kematian Virus Nipah
Infeksi virus Nipah memiliki gejala awal yang kerap menyerupai penyakit umum, antara lain:
- Demam
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Muntah
- Sakit tenggorokan
Pada fase lanjut, gejala dapat berkembang menjadi:
- Kesulitan bernapas
- Pneumonia
- Radang otak atau ensefalitis
Baca Juga: Heboh Prabowo Blak-blakan: Saat Negara Ingin Berantas Korupsi, Para Garong Menyerang Balik
Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, menyebut tingkat kematian virus Nipah sangat tinggi, berkisar 40 hingga 75 persen.
“Artinya, dari 10 orang yang terinfeksi, bisa empat hingga tujuh orang meninggal,” ujarnya akhir Januari 2026.
Langkah Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan seluruh fasilitas layanan kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Melalui surat edaran yang sama, Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Murti Utami meminta rumah sakit, puskesmas, laboratorium, dan dinas kesehatan daerah menyiapkan langkah antisipatif.
Murti menjelaskan virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging dari genus Henipavirus yang memiliki reservoir alami pada kelelawar buah.
Virus ini dapat menular melalui:
- Kontak langsung dengan hewan terinfeksi
- Perantara hewan lain seperti babi
- Konsumsi makanan atau minuman terkontaminasi
- Kontak erat antar manusia
Baca Juga: Heboh Prabowo Blak-blakan: Saat Negara Ingin Berantas Korupsi, Para Garong Menyerang Balik
Meski belum ditemukan kasus virus Nipah pada manusia di Indonesia, temuan ilmiah pada kelelawar menjadi pengingat serius akan potensi ancaman penyakit zoonotik.
Kewaspadaan, penguatan sistem kesehatan, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar Indonesia tetap selangkah lebih siap menghadapi risiko wabah di masa depan. ***




