POJOKSATU.ID – Sebuah video memilukan dari Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, menjadi sorotan publik.

Di dalamnya tampak kondisi rumah hampir roboh milik seorang janda dengan lima anak, dinding bilik bambu lapuk, dan atap yang tampak rapuh.

Video tersebut pertama kali diunggah dari akun TikTok dan menyebar luas karena menuntut perhatian publik agar keluarga ini mendapat bantuan rumah layak huni.

Alih-alih solidaritas tanpa syarat, perekam video dan warga yang menyuarakan kondisi sang janda justru mendapat reaksi keras dari aparat desa.

Baca Juga: SK 108 PPPK Paruh Waktu Kota Blitar Dibagikan, Masa Kontrak 1 Tahun dan Penempatan Sesuai Kebutuhan

Dalam rekaman lanjutan, tampak Kepala Desa Jatiwangi bersama Ketua RW mendatangi pengunggah dan menegur mereka karena dianggap mempermalukan desa. 

Menurut laporan, Kades dan RW merasa video tersebut merusak citra desa, meski banyak netizen melihat tindakan itu sebagai bentuk sosial kontrol yang penting.

Setelah video viral, muncul dugaan intimidasi terhadap warga yang memviralkannya. 

Perekam video sempat menghadapi konfrontasi dari perangkat desa, yang menilai penyebaran tersebut sebagai kelakuan yang tidak semestinya.

Baca Juga: Kuota 25 Ribu tapi Peminat Membludak, Ini Strategi Lolos Magang Nasional Batch 3

Tokoh pemuda setempat, Abah Muda, mengecam keras sikap aparat desa tersebut.

Baginya, warga yang menyuarakan realitas kemiskinan berhak untuk didengar tanpa harus mendapat ancaman atau teguran.

Polemik ini akhirnya sampai ke tingkat lebih tinggi.

Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, turun tangan usai video viral.

Ia mengklaim telah menyalurkan bantuan modal usaha dan juga mengatur proses administrasi agar keluarga tersebut bisa mendapatkan berbagai fasilitas sosial seperti BPJS dan bantuan sosial lainnya. 

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat (KDM), Dedi Mulyadi, juga angkat bicara.

Dia menyebut viralnya video tersebut sebagai bentuk kontrol sosial yang sah, dan memutuskan mengirim tim ke lokasi untuk memperbaiki kondisi rumah sang janda. 

Kepala Desa Jatiwangi akhirnya memberikan klarifikasi publik.

Baca Juga: Fortuner Tabrak Truk yang Tengah Terparkir di Bahu Jalan, Akibatnya Seorang Pengendara Tewas

Ia menyatakan bahwa pemviralan kasus rutilahu tersebut sudah diajukan sebelumnya, tetapi keterbatasan anggaran desa menjadi hambatan serius. 

Dalam pernyataan maafnya, Kades menyebut bahwa saat bertemu warga, tensi emosi tinggi karena kesalahpahaman kronologi.

Ia meminta maaf atas nada tinggi dalam dialog dan mengakui kesalahan.

Publik, melalui media sosial, menyoroti fenomena di mana kasus kemiskinan ekstrem baru ditangani secara serius setelah menjadi viral. 

Baca Juga: Proyek Rp 120 Miliar Diduga Digelembungkan, KPK Periksa 2 Pihak Swasta Terkait Rumah Jabatan DPR

Banyak yang mempertanyakan kenapa harus viral dulu agar bantuan mengalir? 

Kasus ini membuka diskusi lebih besar tentang transparansi bantuan sosial, peran perangkat desa, dan efektivitas program Rutilahu di tingkat lokal.

Masyarakat berharap bukan hanya permintaan maaf yang datang, tetapi aksi nyata perbaikan dan monitoring agar kondisi serupa tidak terus berulang.***