POJOKSATU.id - Peserta didik di abad 21 ini adalah generasi Z (Gen Z) yang tumbuh sejak usia muda bersama pesatnya akses internet, terutama melalui teknologi digital portabel.
Bahkan Gen Z yang lahir antara tahun 1996-2014, meskipun belum melek digital, telah dijuluki generasi asli digital atau "digital native" dan tumbuh bersamaan dengan reformasi digital.
Mereka terbiasa berinteraksi, berkomunikasi, dan mengelola informasi di ruang maya dan media sosial dan memiliki kesempatan untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi dan internet lebih dekat dan akrab.
Demikian pula dengan peserta didik yang saat ini rata-rata sudah memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menggunakan teknologi dan media sosial dan terbiasa dengan informasi yang begitu cepat dan banyak. Sehingga mereka cenderung menikmati menggunakan teknologi dalam belajar.
Karena itulah, dalam proses pembelajaran guru perlu terus melakukan adaptasi dan inovasi-inovasi yang memungkinkan peserta didik tetap fokus dan semangat dalam mengikuti pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman mereka.
Salah satu inovasi yang bisa dilakukan oleh guru adalah dalam pembuatan media ajar yang berbasis Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK).
TPACK adalah pengetahuan yang dibutuhkan guru untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran. TPACK merupakan kerangka kerja yang mengidentifikasi pengetahuan tentang teknologi, pedagogi, dan konten. Disinilah guru perlu mengajar secara efektif dengan kerangka teknologi.
Menurut Mishra, et al (2016: 2) TPACK adalah suatu kerangka kerja untuk memahami dan menggambarkan jenis pengetahuan yang dibutuhkan oleh seorang guru untuk mengefektifkan praktek pedagogi dan pemahaman konsep dengan mengintegrasikan sebuah teknologi di lingkungan pembelajaran.
Baca Juga: Game Edukasi Wordwall, Solusi Mengatasi Kejenuhan dalam Pembelajaran Anak Sekolah Dasar
Salah satu media ajar yang berbasis TPACK adalah video pembelajaran berbasis animasi.
Media video animasi merupakan media pembelajaran yang menggunakan unsur gambar yang bergerak diiringi dengan suara yang melengkapi seperti sebuah video atau film.
Pengertian media video animasi menurut (Laily Rahmayanti (2016:431) adalah “Media video animasi adalah media audio visual dengan menggabungkan gambar animasi yang dapat bergerak dengan diikuti audio sesuai dengan karakter animasi."
Media animasi sangat dekat dengan dunia anak-anak, anak-anak lebih tertarik melihat tayangan video berbasis animasi dibandingkan dengan video visual nyata.
Baca Juga: Mari Mendalami Proses Pembelajaran, Inilah Contoh Bahan Refleksi PPL PPG Daljab 2023
Selain itu juga para ahli mengemukakan pendapat mereka tentang beberapa kelebihan yang dimiliki oleh video pembelajaran animasi.
Kelebihan medіa vіdeo anіmasі seperti yang dijelaskan oleh (Johari, Andriana. et al. 2014:11) bahwa kelebihan medіa anіmasі yaitu sebagai berikut: “a) Objek yang berukuran besar dapat terlihat kecil, begitu pula sebaliknya, b)Penyajian informasi yang rumit dapat lebih mudah, dan c) Dapat menggabungkan lebih dari satu medіa dalam belajar.”
Sedangkan kelebihan medіa anіmasі menurut (Sobron et al. 2019) menyatakan bahwa “Penggunaan medіa komunikasi yang lebih dari satu dapat memudahkan guru dalam pemberian material secara langsung kepada sіswa melalui vіdeo ataupun rekaman.
Sehingga apabila ada materi yang sulit dipahami oleh seorang sіswa, maka ia dapat membuka kembali rekaman vіdeo yang telah dibagikan oleh gurunya.”
Baca Juga: 5 Film tentang Bullying yang Menyebalkan, Namun Penuh Pembelajaran
Dari berbagai penjelasn tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media animasi untuk pembelajaran memiliki beberapa keunggulan, yaitu:
- Sangat dekat dengan dunia anak-anak sehingga mudah menarik minat anak.
- Terdiri dari audio dan visual sehingga bisa mengakomodir dua jenis gaya belajar siswa secara bersamaan.
- Dapat menampilkan ruang lingkup yang luas dan besar secara lebih jelas dan terperinci
- Dapat diputar berulang dan dapat dihentikan sementara saat penayangan, sehingga peserta didik bisa mengikuti pembelajaran sesuai ritme belajar yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik
Namun, di balik semua kelebihan yang dimiliki oleh video animasi, ada juga beberapa kelemahan yang dimiliki oleh video animasi, yaitu:
- Adanya keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh guru dalam pemanfaatan media pembelajaran berbasis animasi, terutama dalam cara pembuatan, cara penggunaan, dan lain sebagainya.
- Keterbatasan fasilitas yang mendukung. Dikarenakan video animasi merupakan media pembelajaran berbasis TPACK yang tentu dalam penyediaannya memanfaatkan ketersediaan teknologi yang kadang kala menjadi hambatan terutama dalam penyediaannya.
- Dalam pembuatan video animasi, banyak aplikasi yang harus digunakan, sehingga bagi sebagian guru hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan.
- Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan media animasi sangat lama, sehingga guru tidak mempunyai cukup banyak waktu untuk membuat video animasi.
Baca Juga: 10 Rekomendsi Aplikasi Pendidikan, Tepat untuk Membantu Proses Pembelajaran Anak
Di balik semua kendala dan kekurangan yang dimiliki dalam video pembelajaran berbasis animasi, sebagai seorang pendidik yang berada di zaman teknologi, tentu lebih baik memilih untuk tetap membuat video pembelajaran berbasis animasi.
Selain sesuai dengan tuntutan zaman, banyak keunggulan yang dimiliki oleh media pembelajaran berbasis animasi, terutama bagi saya yang notabene mengajar di SD kelas rendah.
Memang resikonya adalah harus terus-menerus berupaya untuk mengatasi segala kelemahan yang dimiliki oleh media video pembelajaran berbasis animasi.
Namun dengan semangat untuk lebih banyak belajar, mengikuti pelatihan dan secara langsung berupaya mencoba sendiri membuat pembelajaran animasi kreasi sendiri, hal tersebut dapat menjadi pembiasaan dan mengurangi kegagapan dalam pembuatan pembelajaran berbasis animasi.
Heinich, Molenda, dan Russel (1982) dalam bukunya “Instructional Media and The New Technologies of Instructions” menyusun suatu model prosedural yang diberi nama akronim “ASSURE”. Model ASSURE ini dimaksudkan untuk menjamin penggunaan media pembelajaran yang efektif.
Baca Juga: Bagaimana Pembelajaran Mesin Digunakan Pada Platform Media Sosial?
Model yang diakronimkan dengan ASSURE itu meliputi 6 langkah dalam perencanaan sistematik untuk penggunaan media, yaitu: Analyze Learner Characteristics, State Objectives, Select, Modify Or Design Materials, Utilize materials, Require learner response, Evaluate.
Berikut langkah-langkahnya.
1. Identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa
Sebuah perencanaan media didasarkan atas kebutuhan (need), Salah satu indikator adanya kebutuhan yaitu kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang kita inginkan agar dapat dikuasai siswa.
2. Perumusan Tujuan
Media pembelajaran harus dibuat sedemikian rupa sehingga akan membantu dan memudahkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
3. Memilih, Merubah dan Merancang Media Pembelajaran
Untuk membuat media yang tepat bagi kegiatan pembelajaran biasanya akan meliputi salah satu dari tiga kemungkinan yaitu 1. Memilih media pembelajaran yang sudah tersedia, 2. Merubah media yang sudah ada, dan 3. Merancang pembuatan media yang baru.
4. Perumusan Materi
Materi berkaitan dengan substansi isi pelajaran yang harus diberikan. Sebuah program media di dalamnya haruslah berisi materi yang harus dikuasai siswa.
Baca Juga: Penguasaan Core Skills Dianggap Perlu Masuk Sistem Pembelajaran
5. Pelibatan siswa
Situasi belajar yang paling efektif adalah situasi belajar yang memberikan kesempatan siswa merespon dan terlibat dalam pembelajaran.
Oleh karena itu siswa harus dilibatkan semaksimal mungkin dalam pemanfaatan penggunaan media.
6. Evaluasi (Evaluation)
Tujuan evaluasi media pembelajaran adalah untuk memilih media pembelajaran yang akan dipergunakan dikelas, untuk melihat prosedur penggunaan media, untuk memeriksa apakah tujuan penggunaan media tersebut telah tercapai.
Selain itu, evaluasi berguna untuk menilai kemampuan guru menggunakan media, memberikan informasi untuk kepentingan administrasi, dan untuk memperbaiki media itu sendiri.
Tak hanya itu. Dalam dalam mempersiapkan video pembelajaran berbasis animasi ada prinsip pengembangan dan produksi media yang menurut Mukminan (2008, Pengembangan Media Pembelajaran. Universitas Negeri Yogyakarta) diperlukan untuk mengembangkan media pembelajaran.
Baca Juga: Unhas dan Telkomsel Sepakat Kerjasama Pengembangan Digitalisasi Pembelajaran
Mukminan menyarankan untuk memperhatikan prinsip dengan akronim VISUALS, yang dapat digambarkan sebagai singkatan dari kata-kata sebagai berikut.
1. Visible atau Mudah Dilihat
Media pembelajaran dapat membantu menyampaikan informasi secara lebih jelas dan visual.
Caranya dapat dilakukan dengan menggunakan gambar, diagram, grafik, atau video, konsep-konsep yang kompleks dapat dijelaskan dengan lebih baik.
2. Interesting atau Menarik
Video pembelajaran dapat menarik perhatian siswa, meningkatkan pengetahuan, daya imajinasi, daya pikir kritis, dan memicu siswa untuk lebih berpartisipasi.
3. Simple atau Sederhana
Video pembelajaran dapat membantu guru menyampaikan materi dan membantu siswa memahami konteks mata pelajaran secara lebih sederhana.
4. Useful atau Isinya Berguna dan Bermanfaat
Video pembelajaran adalah media yang menyajikan audio dan visual yang berisi pesan-pesan pembelajaran yang berguna dan bermanfaat sebagai petunjuk keilmuan.
Baca Juga: Siapkan Tenaga Kerja Berkualitas, Ganjar Ajak SMK Gencarkan Pembelajaran Teaching Factory
5. Accurate atau Benar dan Dapat Dipertanggungjawabkan
Video pembelajaran dapat membantu siswa memproses informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, mempertahankan pengetahuan, dan mengingatnya dengan mudah.
6. Legitimate yaitu Masuk Akal
Visual yang ditampilkan harus sah dan masuk akal. Media pembelajaran yang legitimate dibuat untuk kebutuhan belajar mengajar oleh pendidik.
7. Structured atau Tersusun dengan Baik
Materi pembelajaran dalam video harus terstruktur dan merupakan bentuk pembelajaran sistematis, sehingga setahap demi setahap siswa dapat memahami materi tersebut. ***Astri Winarti Widiastuti




