POJOKSATU.id - Upaya melawan demam berdarah memasuki babak baru.
Universitas Indonesia (UI) bersama Tsinghua University dari Tiongkok tengah mengembangkan prototipe vaksin dengue berbasis messenger RNA (mRNA) yang disebut sebagai yang pertama di dunia.
Pengembangan vaksin ini menjadi angin segar mengingat kasus demam berdarah masih menjadi ancaman serius di Indonesia.
Baca Juga: Viral di Media Sosial, Harga Barang di Kopdes Dikritik Netizen Lebih Mahal dari Minimarket Lain
Banyak pasien baru mendapatkan penanganan setelah beberapa hari mengalami demam, padahal pada fase tersebut penyakit bisa berkembang menjadi lebih berat.
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, vaksin ini dirancang menggunakan strain virus dengue yang beredar di Indonesia.
Tim peneliti juga mengembangkan formulanya dengan pendekatan tetravalen sehingga diharapkan mampu memberikan perlindungan terhadap keempat serotipe virus dengue.
Baca Juga: 7 Instansi Pusat Kementerian Sudah Ajukan Penyusunan Soal CPNS 2026
Riset tersebut dipimpin oleh Infectious Disease and Immunology Research Center (IDIRC) bersama Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Selama proses pengembangannya, peneliti melakukan berbagai tahapan mulai dari pengumpulan spesimen virus, analisis molekuler, perancangan kandidat vaksin, hingga pengujian praklinis.
Yang menarik, penelitian ini turut memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI).
Teknologi tersebut digunakan untuk memprediksi kemungkinan mutasi virus dengue di masa mendatang sehingga rancangan vaksin dapat terus diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan karakteristik virus.
Baca Juga: Solusi Daftar PPG Calon Guru 2026 Jika Ijazah Belum Keluar dan Minim Pengalaman Organisasi
Pendekatan tersebut diharapkan membuat efektivitas vaksin tetap optimal meski virus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Dengan begitu, perlindungan terhadap masyarakat berpotensi menjadi lebih baik dibandingkan pendekatan vaksin konvensional.
Tak hanya berfokus pada pencegahan penyakit, proyek ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengembangkan teknologi vaksin secara mandiri.
Penguasaan teknologi biomedis dinilai penting untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman penyakit menular di masa depan.
Baca Juga: Polisi Masih Cari Identitas Mayat Pria Misterius Ditemukan di Sawah Cikampek
Kolaborasi internasional ini sekaligus menunjukkan bahwa riset kesehatan Indonesia terus berkembang dan mampu menghasilkan inovasi yang berdaya saing global melalui pemanfaatan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan.
Harapan besar lahir dari setiap langkah riset yang terus berkembang.
Jika inovasi ini berhasil diwujudkan menjadi vaksin yang aman dan efektif, Indonesia tidak hanya semakin siap menghadapi demam berdarah, tetapi juga semakin percaya diri membangun kemandirian di bidang kesehatan dan teknologi.***




