POJOKSATU.id — Tak semua penulis memulai perjalanannya dengan fasilitas lengkap. Usfina Aliffia adalah salah satu bukti nyata bahwa mimpi bisa dikejar bahkan dari tempat yang penuh keterbatasan.
Tinggal di sebuah panti asuhan Darul Hadlonah Muslimat NU Purworejo, Magelang, remaja ini berhasil menyelesaikan sebuah novel setebal 300 halaman hanya dengan menggunakan ponsel.
Bagi Nana, menulis bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Di balik keterbatasan dan sunyi yang mengelilinginya, menulis menjadi jalan pelarian, sarana untuk menyembuhkan luka masa lalu, sekaligus menyusun harapan masa depan.
Baca Juga: 12 Olimpiade dan Kompetisi Sains Populer di Indonesia Tahun 2025, Gratis hingga Hadiah Jutaan Rupiah
Cerpen perdananya yang berjudul "Untukmu yang Tertinggal di Ingatan" menggambarkan rasa kehilangan dan isi hati yang tak sempat diucapkan pada seseorang yang telah tiada.
Karya tersebut sukses mengantarkannya meraih juara dalam sebuah lomba cerpen, dan sejak saat itu, Nana semakin giat menulis.
Meskipun sering terkendala oleh keterbatasan kuota internet, pemadaman listrik, hingga harus berbagi ruang dengan anak-anak panti lainnya, ia tetap teguh menulis, menyelesaikan kisahnya sedikit demi sedikit.
“Kalau novel saya tulis sekitar 5 bulan tanpa memakai laptop sih,” jelasnya.
Ia menyimpan harapan untuk suatu hari memiliki laptop agar bisa lebih leluasa menulis dan mendalami dunia kepenulisan dengan lebih dalam.
Baginya, mimpi menjadi penulis tak hanya untuk pribadi, tapi juga sebagai bukti bahwa anak-anak panti juga memiliki kisah dan suara yang layak untuk didengar.
“Saya ingin tulisan saya bisa menginspirasi orang. Bahwa meski hidup di panti, kita juga bisa berkarya. Bisa bangga pada diri sendiri,” katanya.
Tempat Sederhana, Dukungan Luar Biasa
Panti Asuhan Darul Hadlonah mungkin tak memiliki kelengkapan teknologi seperti tempat lainnya. Namun bagi Nana, tempat inilah yang menjadi sumber kekuatan. Di sinilah ia menemukan arti keluarga dan dukungan yang tulus.
“Mereka bangga banget waktu saya menang lomba. Waktu saya cerita mau nulis novel, mereka dukung terus, bahkan ada yang bantu bacain kalau saya minta masukan,” cerita Nana.
Muhammad Naim, pengelola panti, melihat sosok Nana sebagai bukti bahwa anak-anak panti asuhan pun mampu bersinar dan meraih prestasi meski hidup dalam keterbatasan.
“Kami tekankan semua anak harus sekolah. Tapi lebih dari itu, kami ingin mereka percaya diri, menemukan bakat, dan berani bermimpi. Nana adalah bukti bahwa anak-anak panti bisa luar biasa,” katanya.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
Kisah Usfina Aliffia bukan sekadar cerita remaja yang menulis novel. Ini adalah potret perjuangan, semangat yang tak padam, dan bukti bahwa ruang berkarya tidak harus mewah. Di balik keterbatasan, tumbuh tekad yang bahkan lebih besar dari tantangan itu sendiri.***




