POJOKSATU.id – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) resmi mempublikasikan pengangkatan Dr. Eka Cahya Prima, S.Pd., M.T. sebagai Guru Besar bidang fisika material energi.

Penyerahan Surat Keputusan (SK) jabatan fungsional tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Partere, Jalan Dr. Setiabudhi No. 229, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).

Dengan pengukuhan ini, Dr. Eka Cahya Prima yang kini akrab disapa Prof. Eka tercatat sebagai salah satu profesor termuda di Indonesia pada bidang fisika.

Baca Juga: TPG 2026 Dibayar Bulanan, Apa Konsekuensinya bagi Jam Mengajar, Rombel, dan Linearitas Guru?

Ia meraih jabatan Guru Besar pada usia 35 tahun, sebuah capaian yang menegaskan konsistensi dan produktivitasnya dalam dunia riset dan akademik.

Prof. Eka menyampaikan apresiasinya kepada UPI atas dukungan yang diberikan selama ini.

Menurutnya, dukungan kampus menjadi faktor penting dalam pengembangan riset yang ia jalani.

Baca Juga: Ramai Isu Rekrutmen CPNS Polhut KLHK 2026 Benarkah Dibuka? Ini Fakta Sebenarnya

“Universitas Pendidikan Indonesia telah memfasilitasi riset kami, baik dari sisi pendanaan, ruang, maupun fasilitas laboratorium,” ujarnya, dikutip dari situs resmi UPI, Rabu (14/1/2026).

Jejak akademik Prof. Eka dimulai dari UPI. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana atau S1 di kampus tersebut pada 2011.

Setelah itu, ia melanjutkan studi magister dan doktoral di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baca Juga: Gambaran Lengkap Tes Kesamaptaan CPNS Polhut KLHK 2026, Lari, Push-up hingga Shuttle Run

Latar belakang pendidikan ini memperkuat fondasi keilmuannya di bidang fisika material dan energi.

Saat ini, Prof. Eka tengah mengembangkan riset material sel surya dan energi terbarukan di Laboratorium Material Energi Surya.

Laboratorium ini berada di bawah naungan Program Studi Fisika dan Program Studi Pendidikan IPA UPI, serta menjadi salah satu pusat pengembangan energi terbarukan di lingkungan kampus.

Laboratorium tersebut juga aktif membuka peluang kolaborasi lintas institusi.

Baca Juga: LOWONGAN KERJA Hingga 30 Januari, Jadi Staf Administrasi di YIARI, Penempatan Bogor

Sejumlah kerja sama riset telah terjalin dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga nasional, di antaranya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ITB, Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta beberapa kampus lain di Pulau Jawa.

Selain itu, kolaborasi riset juga dilakukan bersama Universitas Sriwijaya dan Universitas Gadjah Mada, khususnya dalam pengembangan sel surya serta layanan sintesis dan karakterisasi material.

Kontribusi riset Prof. Eka dan timnya tercermin dari publikasi di jurnal internasional bereputasi tinggi, seperti Advanced Energy Materials terbitan Wiley dan ACS Nano Materials.

Baca Juga: Janji 6 Bulan Molor 2 Tahun, Warga Perumahan Padi Village Karawang Tagih Fasum Developer

Tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, sejumlah hasil riset juga berhasil dikomersialisasi dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Ke depan, Prof. Eka memiliki mimpi besar untuk mengembangkan Pusat Unggulan Universitas di bidang energi terbarukan.

Ia juga berkomitmen memperkuat pendidikan sains berbasis keberlanjutan melalui pendekatan Education for Sustainable Development Goals (ESDG) serta penguatan pendidikan STEM yang telah berjalan selama tiga tahun terakhir di UPI.

Baca Juga: Info Terbaru! Gaji Guru PPPK Paruh Waktu 2026 Naik 87,5 Persen, Ini Fakta dan Dasar Regulasi Lengkapnya

Bagi Prof. Eka, kerja tim memegang peran penting dalam setiap capaian. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para dosen, peneliti, dan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok risetnya.

Saat ini, sekitar 27 mahasiswa dari berbagai jenjang dan perguruan tinggi di Indonesia terlibat aktif dalam riset yang ia kembangkan. ***