POJOKSATU.id - Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) dan Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan literasi kesehatan mental pekerja migran Indonesia di Jepang.
Program pengabdian masyarakat internasional tersebut dilaksanakan pada 5–12 Juni 2026 di Tokyo, Ueno, dan Shizuoka.
Sebanyak 20 pekerja migran Indonesia mengikuti kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental selama tinggal dan bekerja di Jepang.
Baca Juga: Komisi VIII DPR Soroti Mutu Perguruan Tinggi Keagamaan, 45 Kampus Baru Terakreditasi Unggul
Dalam kegiatan tersebut, tim UPI memperkenalkan teknologi VR yang dipadukan dengan AI sebagai pendekatan untuk mendukung asesmen dan edukasi kesehatan mental.
Peserta mengikuti asesmen secara individual menggunakan bahasa Indonesia sehingga prosesnya lebih nyaman dan mudah dipahami.
Selain asesmen berbasis teknologi, peserta mendapatkan edukasi kesehatan mental, orientasi penggunaan perangkat, pelatihan, simulasi, pendampingan individual, hingga evaluasi.
Baca Juga: Syarat Jadi Konsultan Pajak Berubah, Kini Minimal S-1 Berdasarkan PMK 55/2026
Literasi Kesehatan Mental Peserta Meningkat
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan literasi kesehatan mental setelah peserta mengikuti rangkaian kegiatan.
Nilai rata-rata literasi kesehatan mental peserta meningkat dari 9,5 menjadi 15,2 pada skala 20.
Sementara itu, penerimaan peserta terhadap penggunaan teknologi meningkat dari 3,7 menjadi 5,9 pada skala 7.
Peningkatan tersebut menunjukkan respons positif peserta terhadap edukasi kesehatan mental dan pendekatan teknologi VR-AI yang diperkenalkan tim UPI.
Meski demikian, tim menegaskan hasil kegiatan masih bersifat awal. Temuan tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan efektivitas teknologi VR-AI secara luas.
Tantangan Kesehatan Mental Pekerja Migran Indonesia di Jepang
Pekerja migran Indonesia menghadapi berbagai tantangan selama tinggal dan bekerja di luar negeri.
Proses adaptasi terhadap lingkungan baru, budaya, bahasa, hingga tuntutan pekerjaan dapat menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi.
Karena itu, literasi dan kesadaran mengenai kesehatan mental dinilai penting untuk mendukung kesejahteraan pekerja migran Indonesia.
Melalui program tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai kesehatan mental, pentingnya mengenali kondisi psikologis diri, serta langkah yang dapat dilakukan ketika membutuhkan bantuan atau dukungan profesional.
Tim UPI juga menerapkan pendekatan asesmen secara lebih privat. Pendekatan ini diharapkan memberikan ruang yang nyaman bagi pekerja migran untuk mengenali dan menyampaikan kondisi kesehatan mental yang dialami.
UPI Siapkan Modul dan Alur Rujukan
Tidak hanya memberikan edukasi dan melakukan asesmen, tim UPI juga menyiapkan sejumlah luaran untuk mendukung keberlanjutan program.
Luaran tersebut meliputi modul asesmen VR-AI berbahasa Indonesia, media edukasi kesehatan mental, serta dokumen alur rujukan.
Baca Juga: Anak Mendadak Takut ke Daycare? Orang Tua Perlu Waspadai 5 Perubahan Ini
Tim UPI juga menjalin komunikasi dan kerja sama dengan mitra di sejumlah lokasi kegiatan di Jepang.
Mitra tersebut diharapkan dapat membantu melanjutkan edukasi dan pendampingan kesehatan mental bagi pekerja migran Indonesia.
Kegiatan pengabdian masyarakat internasional ini menjadi salah satu bentuk kontribusi UPI dalam memperluas peran perguruan tinggi di tingkat internasional.
Melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi, UPI berupaya menghadirkan program yang memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia, termasuk pekerja migran yang tinggal dan bekerja di luar negeri. ***




