POJOKSATU.id - Universitas Paramadina lahir dari gagasan besar untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga kuat secara moral.
Cikal bakalnya dimulai pada tahun 1994 saat Yayasan Wakaf Paramadina yang dipimpin Prof. Dr. Nurcholish Madjid bersama Yayasan Pondok Mulya sepakat mendirikan sebuah perguruan tinggi.
Perjalanan itu akhirnya terwujud pada 10 Januari 1998 dengan berdirinya Universitas Paramadina Mulya.
Baca Juga: OTK Datangi Beberapa Keluarga Korban Daycare Aresha Jogja, KPAI Minta LPSK Segera Bertindak
Seiring waktu, namanya kemudian disederhanakan menjadi Universitas Paramadina.
Sejak awal, kampus ini dirancang sebagai alternatif pendidikan tinggi yang menggabungkan kompetensi riset, kewirausahaan, dan nilai etika keislaman.
Nggak cuma itu, Paramadina juga diproyeksikan menjadi pusat kebudayaan dan peradaban.
Baca Juga: Kampus Budi Luhur Berpengalaman Sejak 1979,.Mencetak Mahasiswa Berprestasi yang Siap Kerja
Bahkan, sejak awal berdiri, visi besarnya sudah mengarah menjadi universitas bertaraf internasional yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal dan religius.
Makna filosofis juga terlihat dari logo kampusnya.
Lambang Universitas Paramadina berupa kaligrafi kutipan Al-Qur’an surat Al-Nisa ayat 113 yang berbunyi "Allah menurunkan kepadamu Kitab dan Hikmah dan mengajarkan kepadamu sesuatu yang kamu belum tahu".
Baca Juga: Pelaku Penembakan di Gedung Putih Ternyata Sosok Guru yang Membenci Orang Kristen
Simbol ini diwujudkan dalam huruf Kaf (Kitab) dan Ha (Hikmah), yang menggambarkan bahwa ilmu dapat diperoleh melalui wahyu dan juga melalui pembelajaran alam semesta.
Nilai ini kemudian menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan di Paramadina, yaitu menggabungkan iman dengan ilmu pengetahuan.
Kampus ini berupaya menghadirkan keseimbangan antara spiritualitas dan intelektualitas dalam setiap aspek pembelajaran.
Baca Juga: Sambil Menunggu Hasil Seleksi Administrasi KDKMP, Pahami Kembali Tahapan Penting Berikut Ini!
Saat ini, Universitas Paramadina dipimpin oleh Prof. Didik J. Rachbini sebagai rektor.
Ia menegaskan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tapi juga memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan masyarakat madani dan memberikan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Dalam perjalanannya, Paramadina juga pernah dipimpin oleh tokoh-tokoh penting seperti Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Anies Baswedan, hingga Prof. Firmanzah. Kepemimpinan mereka membentuk arah kampus menjadi lebih terbuka, modern, dan tetap berpegang pada nilai.
Baca Juga: Helm Anak
Struktur akademiknya juga terus berkembang dengan dukungan para dekan dari berbagai fakultas, mulai dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Ilmu Rekayasa, hingga Falsafah dan Peradaban.
Ini menunjukkan komitmen Paramadina dalam menghadirkan pendidikan multidisiplin yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Secara visi, Universitas Paramadina ingin menjadi kampus unggulan berbasis etika religius demi mewujudkan peradaban luhur.
Baca Juga: Sambil Menunggu Hasil Seleksi Administrasi KDKMP, Pahami Kembali Tahapan Penting Berikut Ini!
Misinya mencakup pendidikan berkualitas, riset kreatif, pengabdian masyarakat, hingga menciptakan lingkungan akademik yang sehat dan inspiratif.
Tujuannya pun jelas, yaitu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga memiliki kedalaman iman, kepekaan nurani, serta integritas tinggi.
Dengan begitu, mereka diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang religius, modern, dan menjunjung tinggi nilai kebangsaan.
Baca Juga: Start dari Urutan 17, Veda Ega Pratama Tembus Top 6 Moto3 Spanyol
Nilai-nilai utama Paramadina terangkum dalam tiga hal: keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.
Kombinasi ini menjadi identitas yang membedakan kampus ini dengan yang lain.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, kehadiran Universitas Paramadina seperti pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tapi juga tentang arah hidup.
Dari kampus ini, harapan akan lahir generasi yang tak hanya pintar, tapi juga bijak dan berintegritas terasa begitu nyata.***




