POJOKSATU.id - Universitas Hasanuddin secara resmi berdiri pada 10 September 1956 di Makassar, namun embrio kelahirannya telah dimulai jauh sebelumnya.

Pada tahun 1947, Fakultas Ekonomi sebagai cabang Universitas Indonesia (UI) Jakarta telah berdiri di Makassar berdasarkan keputusan Letnan Jenderal Gubernur Pemerintah Hindia Belanda.

Meski sempat dibekukan akibat kondisi keamanan yang tidak stabil, fakultas ini kembali diaktifkan pada 1953 dan menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Hasanuddin.

Perjuangan mewujudkan universitas negeri di Sulawesi Selatan tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh pendidikan seperti Prof. Drs. G.J. Wolhoff, Nuruddin Sahadat, J.E. Tatengkeng, dan Mr. Tjia Kok Tjiang.

Baca Juga: Dua Bulan Bencana Banjir Sumatera, 34 Orang Masih Hilang di Tapanuli Tengah, Meninggal 130 Jiwa

Upaya mereka melahirkan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading yang kemudian berkembang menjadi Panitia Pejuang Universitas Negeri.

Langkah strategis diawali dengan pembukaan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat sebagai cabang Fakultas Hukum UI pada 1952, yang akhirnya memisahkan diri dan menjadi bagian integral Universitas Hasanuddin.

Perkembangan Unhas semakin pesat dengan berdirinya Fakultas Kedokteran pada 28 Januari 1956, disusul Fakultas Teknik pada 1960, Fakultas Sastra pada 1960, dan Fakultas Sosial Politik pada 1961.

Pembentukan fakultas-fakultas tersebut menandai komitmen kuat Unhas dalam memperluas disiplin ilmu dan menjawab kebutuhan pembangunan nasional, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Baca Juga: KABAR GEMBIRA! Rekrutmen PPPK BGN Tahap 3–4 Resmi Dibuka, 32.460 Formasi Tersedia

Dalam perjalanan waktu, Universitas Hasanuddin terus melakukan pengembangan kelembagaan.

Fakultas Pertanian resmi berdiri pada 1962, disusul Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam pada 1963, Fakultas Peternakan pada 1964, Fakultas Kedokteran Gigi pada 1983, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat pada 1982.

Program Studi Ilmu Kelautan yang dibuka pada 1988 kemudian berkembang menjadi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan pada 1996, sejalan dengan karakter Indonesia sebagai negara maritim.

Momentum penting lainnya terjadi pada Dies Natalis ke-25 tahun 1981, ketika Presiden RI Soeharto meresmikan Kampus Tamalanrea yang berdiri di atas lahan seluas 220 hektare.

Kampus ini menjadi simbol kemajuan Unhas sebagai salah satu perguruan tinggi besar di Indonesia, sekaligus pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan timur.

Sejak berdiri, Universitas Hasanuddin telah dipimpin oleh sejumlah rektor yang berkontribusi besar dalam membangun reputasi dan arah pengembangan institusi.

Mulai dari Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo sebagai rektor pertama hingga Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. yang memimpin Unhas saat ini, estafet kepemimpinan tersebut mencerminkan kesinambungan visi dan semangat pengabdian bagi pendidikan tinggi nasional.

Dalam visi terkininya, Universitas Hasanuddin menetapkan diri sebagai pusat unggulan pengembangan insani, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya berbasis Benua Maritim Indonesia.

Baca Juga: SKTP Terbit Sebelum 20 Januari 2026 Jadi Penentu Tunjangan Guru, Ini Mekanisme Bulanan yang Jarang Dijelaskan

Visi ini diperkuat dengan misi menyediakan lingkungan belajar berkualitas, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, serta menerapkan hasil keilmuan bagi kemaslahatan masyarakat maritim Indonesia.

Nilai-nilai integritas, inovatif, katalik, dan arif menjadi fondasi budaya akademik Unhas.

Nilai-nilai tersebut membentuk karakter sivitas akademika yang jujur, kreatif, berani, berdaya saing, serta beradab dalam mengembangkan ilmu dan pengabdian kepada masyarakat.

Lebih dari enam dekade perjalanan Universitas Hasanuddin adalah kisah tentang kegigihan, kolaborasi, dan visi besar dari Timur Indonesia.

Dari embrio fakultas sederhana hingga menjadi universitas riset terkemuka, Unhas terus meneguhkan perannya sebagai mercusuar ilmu pengetahuan yang menerangi pembangunan bangsa.

Khususnya dalam menguatkan jati diri Indonesia sebagai Benua Maritim yang berdaulat dan berdaya saing.***