POJOKSATU.id - Bukittinggi bukan sekadar kota wisata berhawa sejuk di Sumatera Barat.
Kota ini menyimpan jejak panjang sejarah ketatanegaraan Indonesia, dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan.
Dari kota perjuangan inilah kemudian lahir semangat besar untuk mengembalikan marwah Bukittinggi sebagai “Kota Pendidikan” melalui berdirinya Universitas Fort De Kock.
Jejak Sejarah Bukittinggi dalam Ketatanegaraan
Pada masa Belanda, Bukittinggi menjadi pusat penting pemerintahan di Sumatera Barat.
Benteng Fort De Kock dibangun pada 1825 sebagai kubu pertahanan dan hingga kini masih menjadi ikon kota.
Selain sebagai pusat militer, kota ini juga menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda di wilayah timur jajahannya.
Memasuki masa Jepang, Bukittinggi berubah nama menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho dan menjadi pusat pengendalian pemerintahan militer untuk kawasan Sumatera hingga Singapura dan Thailand.
Jepang bahkan mendirikan pemancar radio terbesar di Sumatera untuk mendukung propaganda perang Asia Timur Raya.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Bukittinggi kembali mencatat sejarah penting.
Antara Desember 1948 hingga Juni 1949, kota ini menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), menggantikan Yogyakarta yang saat itu jatuh ke tangan Belanda.
Bukittinggi juga pernah menjadi Ibu Kota Provinsi Sumatera dan Sumatera Tengah sebelum akhirnya secara de jure ibu kota Sumatera Barat dipindahkan ke Padang pada 1979.
Meski status ibu kota berpindah, Bukittinggi tetap dikenal sebagai Kota Pendidikan.
Sejak zaman Belanda, berbagai pusat pendidikan berdiri di sini, mulai dari Sekolah Raja, Mosvia, Kweek School, Mulo, HIS, hingga Fakultas Kedokteran pertama.
Bahkan Universitas Andalas yang kini berada di Padang, awalnya pernah berlokasi di Bukittinggi.
Inisiasi Berdirinya STIKes Fort De Kock
Semangat mempertahankan identitas sebagai Kota Pendidikan mendorong Drs. Zainal Abidin bersama rekan-rekannya menggagas pendirian perguruan tinggi di bidang kesehatan.
Gagasan ini mendapat respons positif dari Wali Kota Bukittinggi saat itu, Drs. H. Djufri.
Nama yang awalnya direncanakan adalah “Sutan Syahril”, namun Pemerintah Kota merekomendasikan nama Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Fort De Kock Bukittinggi.
Nama ini terinspirasi dari benteng Fort De Kock, dengan harapan kampus tersebut menjadi benteng pendidikan di Bukittinggi.
Setelah melalui proses panjang, pada 15 Juni 2004 terbit SK Mendiknas No. 77/D/O/2004 sebagai izin resmi pendirian STIKes Fort De Kock.
Dalam empat tahun, kampus ini telah memiliki lima program studi, termasuk Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Keperawatan, yang kemudian berkembang dengan tambahan DIII Kebidanan, DIV Bidan Pendidik, dan DIII Fisioterapi pada 2008.
Awalnya kegiatan perkuliahan dilakukan di ruko-ruko sewaan di kawasan Kapeh Panji, Bangkaweh, dan Padang Lua.
Namun, demi kenyamanan mahasiswa, Yayasan Pendidikan Fort De Kock membeli lahan di Bukit Batarah pada 2005.
Setelah memperoleh IMB, pembangunan kampus dimulai pada 2011 dan rampung pada 2013.
Transformasi Menjadi Universitas
Dorongan untuk berkembang menjadi universitas semakin kuat setelah berbagai tokoh nasional memberikan motivasi agar STIKes Fort De Kock naik kelas.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 2019 terbit SK Menristekdikti No.786/KPT/I/2019 tentang perubahan bentuk menjadi Universitas Fort De Kock.
Perubahan ini sekaligus menghadirkan dua program studi baru, yakni Kewirausahaan dan Bisnis Digital. Pada 2024, kampus ini kembali menambah tiga program studi: Psikologi, Hukum, dan Desain Komunikasi Visual.
Hingga kini, Universitas Fort De Kock memiliki 16 program studi dari jenjang Diploma, Sarjana, Profesi, hingga Magister.
Beberapa program telah meraih akreditasi UNGGUL dan BAIK SEKALI, termasuk Magister dan Sarjana Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, serta Profesi Ners.
Selain itu, universitas ini juga menjalin kerja sama nasional dan internasional dalam pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, memperluas jaringan akademik dan profesional bagi mahasiswa.
Kehadiran Universitas Fort De Kock bukan sekadar penambahan institusi pendidikan di Bukittinggi. Ia menjadi simbol kebangkitan kembali identitas kota sebagai pusat pendidikan di Sumatera Barat.
Dari benteng pertahanan masa kolonial, kini Fort De Kock menjelma menjadi benteng ilmu pengetahuan.
Juga di sanalah harapan generasi muda Bukittinggi tumbuh, menatap masa depan dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan perubahan.***




