POJOKSATU.id - Gelar Konferensi Internasional, Universitas Djuanda (UNIDA) mengundang pakar dunia dan membahas isu 'Hadapi Tantangan Perubahan Iklim Strategis Hingga Peran Sentralitas Baitul Maqdis dalam Islam'.

Dalam konferensi internasional "The 7th Djuanda International Conference" kali ini, UNIDA berkolaborasi dengan "The 23rd International Academic Conference on Islamic Jerusalem Bayt-Almaqdis Studies".

Konferensi internasional ini dilaksanakan pada Rabu, 13 Desember 2023, di Aula BYC, Lantai 5 Gedung EF Kampus Universitas Djuanda.

Penyelenggaraan tahun ini membahas tentang isu strategis dengan mengangkat tema "Sustainability Sourcing Amid the Challenge of Climate Change through Applied & Social research and The Centrality of Bayt al-Maqdis in Islam".

Baca Juga: Bupati Bogor Puji Prestasi UNIDA dalam Anugerah Gelar Inovasi Daerah 2023, Sukses Borong 6 Penghargaan!

Tema ini dipilih untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan mendorong penelitian terapan dan sosial hingga peran sentralitas Baitul Maqdis dalam Islam.

Dengan penyelenggaraan yang bersamaan, konferensi ini diharapkan dapat memperkuat jaringan akademis antarpeneliti, baik nasional maupun internasional khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Sehingga konferensi internasional ini dapat memberikan kontribusi nyata dan signifikan terhadap kemajuan peradaban yang berkelanjutan.

Chancellor UNIDA, Prof. Martin Roestamy dalam sambutannya menyampaikan, konferensi ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Nusantara, yang merupakan hari peringatan Deklarasi Djuanda, sebuah tonggak sejarah penting bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga: Dosen Sains Komunikasi Unida Ajak Pelaku Ekonomi Kreatif Pasarkan Produk melalui Digital dengan Copy Writing

“Hari ini tanggal 13 Desember diperingati sebagai Hari Nusantara sebagai wujud perwujudan konsepsi Nusantara tahun 1957 melalui Deklarasi Djuanda," ungkap Martin.

Martin melanjutkan, pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 13 Desember 1957 melalui Perdana Menteri Ir. H. Djuanda Kartawidjaja menyatakan wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ia juga menegaskan, terselenggaranya Djuanda International Conference ini ialah merupakan bentuk apresiasi atas perjuangan Djuanda Kartawidjaja mewujudkan Indonesia merdeka dan berdaulat.

"Melalui konferensi ini Universitas Djuanda resmi mendirikan Pusat Kajian Baitul-Maqdis,” tutur Prof. Martin Roestamy.

Pada kesempatan yang sama, Martin Roestamy juga menyampaikan terkait dengan pembebasan Palestina dalam perspektif Djuanda.

Baca Juga: Dikenal Sebagai Mahasantri, Sejuta Prestasi Mahasiswa UNIDA Bogor Ini Jadi Pusat Perhatian, Muslim Idaman Hati

Turut hadir memberikan sambutan, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. M. Samsuri, yang menyampaikan apresiasi atas konferensi internasional yang terselenggara.

Ia menegaskan bahwa saat ini sinergi dan kolaborasi berperan sangat penting terhadap kemajuan institusi, khususnya dalam mencapai tujuan bersama untuk lebih berdampak pada kemajuan pendidikan.

“Apresiasi tinggi untuk Universitas Djuanda yang menginisiasi acara ini, tidak hanya konferensi internasional tetapi juga penandatanganan kerja sama antar perguruan tinggi di wilayah LLDIKTI IV dengan perguruan tinggi ternama di luar negeri," ujar Samsuri.

"Saya tentu berharap kerja sama yang kita jalin hari ini ada langkah nyata yang dapat diimplementasikan, terutama melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka ataupun program lainnya,” pungkasnya.***