POJOKSATU.id, MAKASSAR - Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar mencatat sejarah baru setelah resmi menjadi perguruan tinggi negeri pertama di Indonesia yang memiliki dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, di Sulawesi Selatan, Selasa (28/4).

Langkah ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa kampus kini tidak hanya fokus pada pendidikan di ruang kelas, tetapi juga ikut turun langsung mendukung program strategis nasional.

Baca Juga: Hasil Polling: Dari 6 Ribu Responden, 66,93 Persen Sebut MBG Belum Tepat Sasaran, Sejalan dengan Hasil Penelitian

Brian Yuliarto menegaskan kampus tidak boleh hanya menjadi penonton.

Menurutnya, pembentukan SPPG di lingkungan universitas harus menjadi ruang kolaborasi antara pendidikan, riset, dan kebijakan publik.

"SPPG yang dibentuk di kampus tidak hanya mendukung program, tetapi juga dapat menjadi teaching factory. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat praktik mahasiswa, penelitian, serta pengembangan lebih lanjut program MBG di masyarakat," ungkapnya.

Artinya, dapur MBG di kampus bukan sekadar tempat memasak makanan bergizi.

Lebih dari itu, fasilitas ini bisa menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk belajar manajemen pangan, kesehatan masyarakat, teknologi gizi, hingga kewirausahaan sosial.

Baca Juga: Judul: Trump Klaim Iran di Ambang Kolaps usai Desak Selat Hormuz Dibuka

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, juga menilai keterlibatan kampus sangat penting.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki sumber daya manusia, teknologi, dan inovasi yang dibutuhkan agar program MBG berjalan lebih efektif.

"Perguruan tinggi memiliki teknologi, SDM, dan inovasi yang sangat bermanfaat untuk pengembangan program Makan Bergizi, mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, hingga pelatihan dan bimbingan teknis," katanya.

Menariknya lagi, fasilitas di Unhas disebut sudah memakai teknologi reverse osmosis untuk pengolahan air.

Sistem ini membuat air layak langsung diminum sekaligus aman digunakan untuk memasak.

Hal tersebut penting karena kualitas air sering berkaitan dengan gangguan pencernaan.

Selain itu, sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lokasi juga dinilai sangat baik dan berpotensi menjadi contoh bagi daerah lain.

Jadi bukan cuma soal makanan, tapi juga standar kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.

Dadan menambahkan, dapur MBG Unhas menjadi yang pertama di kampus PTN-BH di Indonesia Timur.

Sebelumnya, fasilitas serupa lebih dulu hadir di Institut Pertanian Bogor dan beberapa perguruan tinggi swasta.

Kehadiran dapur MBG di kampus negeri tentu membuka peluang baru.

Mahasiswa bisa belajar langsung, masyarakat terbantu, dan negara punya model pelaksanaan program gizi yang lebih terukur.***