POJOKSATU.ID - Media sosial Indonesia baru-baru ini diramaikan dengan gerakan #KaburAjaDulu.
Sebuah ajakan yang secara harfiah berarti 'melarikan diri saja dulu'.
Namun, apa sebenarnya makna di balik gerakan ini? Apakah ini sekadar ungkapan kekecewaan atau ada pesan yang lebih dalam?
Baca Juga: Penetapan Awal Ramadhan dan Syawal 1446 Tahun 2025 Versi Muhammadiyah!
Ahmad Najib Burhani, seorang tokoh intelektual yang juga aktif di Muhammadiyah, mencoba mengupas sisi lain dari fenomena #KaburAjaDulu.
Dalam sebuah acara wisuda di Universitas Muhammadiyah Gresik, Najib menyampaikan pandangannya yang menarik tentang gerakan ini.
#KaburAjaDulu: Lebih dari Sekadar 'Kabur'
Najib tidak serta merta menolak atau mendukung gerakan #KaburAjaDulu. Ia mengajak kita untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas.
Menurutnya, 'kabur' dalam konteks ini tidak berarti mencari aman sendiri.
Baca Juga: Ramai Tagar KaburAjaDulu, Ajakan Pindah ke Luar Negeri dan Tinggalkan Indonesia!
Lebih dari itu, ini adalah ajakan untuk berani keluar dari zona nyaman, untuk meningkatkan konektivitas dan mengambil kesempatan yang ada.
Di era globalisasi yang tak terbatas, dunia ini sudah terhubung.
Teknologi dan kemudahan akses membuka peluang bagi siapa saja untuk menjelajahi dunia.
#KaburAjaDulu bisa jadi momentum untuk memanfaatkan peluang ini, untuk mengembangkan diri dan memperluas jaringan.
Brain Circulation: Konsep Baru di Era Global
Najib juga menyinggung tentang konsep brain drain dan brain gain yang sudah tidak lagi relevan.
Dulu, kepergian seseorang yang berkaliber dianggap sebagai kerugian negara.
Namun sekarang, yang lebih penting adalah brain circulation - sirkulasi pemikiran, tenaga, dan keahlian.
Baca Juga: Viral Tagar Kabur Aja Dulu Direspon Santai Anak Buah Presiden, Kalau Mau Merantau Bagus Lho
Perpindahan orang, baik secara fisik maupun digital, adalah sebuah keniscayaan. Ini adalah bagian dari dunia global yang dinamis.
Dengan berinteraksi dengan dunia luar, kita tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tapi juga transfer teknologi, pengetahuan, dan keterampilan.
Najib mencontohkan bagaimana Muhammadiyah telah bergerak secara global dengan mendirikan cabang di berbagai negara dan institusi pendidikan di Australia serta Malaysia.
Baca Juga: Ramai Tagar KaburAjaDulu, Ajakan Pindah ke Luar Negeri dan Tinggalkan Indonesia!
Ini adalah bukti bahwa interaksi global itu penting.
Menurutnya, gerakan #KaburAjaDulu bisa menjadi bagian dari upaya transfer teknologi, pengetahuan, dan pendidikan dari dunia luar ke Indonesia.
Tentu, dengan catatan bahwa tujuannya tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tapi juga untuk kemajuan bangsa.
Gerakan #KaburAjaDulu adalah fenomena yang kompleks. Tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang saja.
Ia bisa jadi ungkapan kekecewaan, tapi juga bisa jadi ajakan untuk lebih berani dan progresif.
Yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai dan memanfaatkan gerakan ini.
Apakah kita hanya akan 'kabur' untuk kepentingan diri sendiri, atau juga berkontribusi pada kemajuan bangsa dan negara.***




