POJOKSATU.id - Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, mengirimkan bantuan mesin penjernih air untuk membantu para korban yang terdampak bencana banjir di Sumatra Barat (Sumbar).
Bantuan ini menjadi respons cepat atas kebutuhan mendesak masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi pascabencana.
Rektor Undip Prof. Suharnomo menjelaskan, pengiriman tahap awal mesin penjernih air dilakukan setelah tim melakukan observasi langsung di lapangan.
Baca Juga: Prabowo Punya Target Besar, Papua Ditanami Sawit hingga Singkong Demi Swasembada Energi Nasional
Dari hasil pengamatan tersebut, penyediaan air bersih dinilai menjadi kebutuhan paling krusial, selain layanan medis.
“Berdasarkan simpulan di lapangan, kebutuhan air bersih menjadi sangat penting.
Karena itu hari ini Undip mengirimkan mesin penjernih air ke Sumatra Barat,” ujarnya di Semarang, Senin.
Baca Juga: Beasiswa Pemerintah Brunei 2026 Dibuka, Peluang Kuliah Gratis hingga Magister
Ia menegaskan, bantuan ini merupakan bagian dari komitmen Undip dalam penanganan bencana secara menyeluruh.
Tidak hanya fokus pada pemulihan fisik dan kesehatan masyarakat, Undip juga memastikan mahasiswa yang terdampak bencana tetap bisa melanjutkan pendidikan melalui pembebasan UKT serta dukungan biaya hidup.
Ke depan, Undip juga membuka peluang untuk mendistribusikan mesin serupa ke wilayah lain yang terdampak bencana, seperti Aceh dan Sumatra Utara.
Sementara itu, Prof. I Nyoman Widiasa yang mewakili tim inovator Undip menjelaskan bahwa teknologi yang dikirimkan terdiri atas dua jenis mesin, yakni mesin berkapasitas besar dan mesin berkapasitas kecil.
Mesin berkapasitas besar mampu mengolah air hingga sekitar 100–120 meter kubik per hari atau setara 100.000–120.000 liter.
Kapasitas tersebut cukup untuk melayani kebutuhan air sekitar 5.000 orang per hari.
Adapun mesin berkapasitas kecil dirancang untuk mengolah sekitar 2–5 meter kubik per hari atau setara 2.000–5.000 liter air bersih.
Baca Juga: Kenapa UMP 2026 Harus Diumumkan Sebelum 24 Desember 2025? Ini Penjelasannya
Mesin ini dapat mencukupi kebutuhan sekitar 250 orang per hari dan lebih fleksibel untuk menjangkau daerah terpencil atau ditempatkan di posko pengungsian.
“Mesin kecil ini memang dirancang untuk wilayah dengan keterbatasan akses distribusi.
Air keruh akibat banjir dapat diolah menjadi air bersih untuk kebutuhan sanitasi.
Ke depan, sistem ini akan kami kembangkan agar bisa menghasilkan air siap minum,” jelasnya.
Dalam operasionalnya, Undip bekerja sama dengan Politeknik Negeri Padang (PNP) yang berperan dalam penentuan lokasi mesin serta distribusi air ke masyarakat.
Distribusi air bersih nantinya dilakukan menggunakan mobil tangki ke wilayah-wilayah yang membutuhkan.
Pada tahap awal, satu unit mesin diberangkatkan menggunakan pendanaan Undip dan dikirim langsung ke Padang melalui jalur darat.
Sementara tiga mesin lainnya masih dalam proses penyelesaian dan direncanakan menyusul ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Aceh dan Sumatra Utara. ***




