POJOKSATU.id - Riset yang benar-benar menjawab persoalan nyata masyarakat semakin jadi kebutuhan penting bagi perguruan tinggi masa kini.

Nah, komitmen itulah yang membawa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) meraih capaian besar dalam QS Sustainability Rankings 2026.

UMY resmi menempati peringkat pertama nasional untuk indikator Environmental Research.

Baca Juga: Viral! ART Curi 5 Keping Emas, Dijual COD Super Murah, Majikan Sampai Tepok Jidat

Capaian ini menunjukkan perubahan signifikan dalam budaya riset UMY dalam beberapa tahun terakhir.

Mereka tak lagi sekadar memenuhi kewajiban administratif Tri Dharma, melainkan beralih pada model riset berbasis pemecahan masalah (problem-solving research) yang memberikan dampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat.

Kepala Direktorat Riset dan Pengabdian UMY, apt. Sabtanti Harimurti, M.Si., Ph.D., mengatakan UMY sudah tidak mendorong penelitian hanya demi laporan atau angka publikasi.

Baca Juga: UU ASN Jadi Puzzle Utama, KemenPAN-RB dan BKN Matangkan Transformasi ASN Bersama DPD RI, Kok Bisa? Begini Penjelasannya

“Riset di UMY saat ini tidak lagi berhenti pada laporan. Riset itu harus menyelesaikan masalah masyarakat. Itulah ruh yang membuat riset kami berdampak,” ujarnya.

Ekosistem Riset yang Kian Terarah
Pendekatan baru ini sejalan dengan arah UMY menuju entrepreneurial university sebagaimana tercantum dalam rencana induk hingga 2040.

Di fase ini, riset menjadi sumber inovasi sekaligus kontribusi nyata yang bisa dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Riset Nanoemulsi Mahasiswa Pascasarjana Kimia UB Menguatkan Kolaborasi Internasional dengan Universiti Malaya

Kinerja UMY dalam indicator Environmental Research tak hanya lahir dari jumlah riset yang besar, tetapi juga dari ekosistem penelitian yang semakin terstruktur.

Sejak 2020, kampus ini menerapkan sistem klaster riset yang membagi fokus penelitian dosen menjadi empat rumpun besar—mulai dari agro-ekosistem, kebencanaan, material maju, kesehatan, hingga energi cerdas.

Anchor Research untuk Dorong Hilirisasi
Setiap klaster kemudian dikembangkan menjadi subklaster dan diperkuat melalui program anchor research.

Baca Juga: Petugas Haji Diduga Jadi Ajang Haji Gratis? DPR Usul TNI–Polri Turun Tangan 50 Persen!

Program ini berisi kelompok peneliti yang bergerak menghasilkan inovasi yang diarahkan menuju hilirisasi.

Saat ini, ada sekitar 50 anchor research yang ditargetkan melahirkan minimal satu inovasi atau temuan riset yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

“Dengan adanya anchor, arah riset kami tidak lagi terpecah. Setiap proyek diarahkan untuk menghasilkan invention yang bisa dihilirisasi, baik berupa alat, metode, maupun rekomendasi kebijakan,” terang Sabtanti.

Baca Juga: Janji yang Digantungkan! Wacana PPPK Jadi PNS Masih Tanpa Kepastian di Akhir 2025, Bagaimana Nasib Selanjutnya?

Kontribusi Kuat pada Enam SDGs
Model riset interdisipliner tersebut terbukti mendorong kontribusi besar UMY terhadap enam poin SDGs yang menjadi dasar penilaian dalam indikator Environmental Research, yaitu SDGs 7, 11, 12, 13, 14, dan 15.

Keselarasan topik riset dengan prioritas riset nasional juga memperkuat skor UMY dalam pemeringkatan ini.

Fokus 10 Tahun ke Depan: Hilirisasi
Ke depan, UMY menargetkan penguatan hilirisasi riset dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Baca Juga: BGN Kirim 1.591 Paket MBG untuk Korban Banjir Sumut, Warga Akhirnya Dapat Pasokan Gizi Darurat

Integrasi antara Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) dan Direktorat Inovasi dan Hilirisasi (DIH) terus diperkuat agar temuan riset bisa dikembangkan, diuji, dan dimanfaatkan industri maupun masyarakat.

Sabtanti menegaskan bahwa posisi pertama nasional ini bukan akhir perjalanan.

“Target kami ke depan tentu ingin terus naik. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa kontribusi UMY bagi masyarakat dan lingkungan benar-benar semakin meningkat,” pungkasnya. ***