POJOKSATU.id - Universitas Negeri Malang (UM) kembali membuat langkah berani dengan membawa teknologi pembelajaran digital langsung ke tingkat desa.
Melalui program GURU JAGO (Jaringan Guru Inovatif AR/VR untuk Optimalisasi STEM), para pendidik di pedesaan kini bisa merasakan dan belajar langsung menggunakan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR).
Kegiatan perdana GURU JAGO In Saintek UM 2025 digelar di Kantor Kepala Desa Sidomulyo, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri.
Lokasi ini menjadi titik awal dari rangkaian diseminasi yang akan berlanjut ke beberapa daerah lain seperti Trenggalek, Kabupaten Malang, Tulungagung, dan Blitar.
Program GURU JAGO merupakan bagian dari Hibah In Saintek 2025 yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemendikbudristek, serta dilaksanakan oleh Direktorat Inovasi dan PUI-PT DLI (Disruptive Learning Innovation) Universitas Negeri Malang.
Andika Bagus Nur Rahma Putra, S.Pd., M.Pd., dosen Fakultas Teknik UM sekaligus Ketua Tim In Saintek, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata misi diseminasi inovasi kampus.
Baca Juga: Kapan TPG Triwulan 3 Bagi Guru SKTP 15 Oktober 2025 Dibayarkan? CEK Informasi Terbaru!
Melalui PUI-PT DLI dan Direktorat Inovasi, UM berupaya agar hasil riset kampus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
“Inovasi yang tidak dibagikan tidak akan berkembang. Kami datang ke desa bukan untuk menunjukkan kecanggihan teknologi, tetapi untuk berbagi pengetahuan agar para guru dapat menggunakannya dalam pembelajaran sehari-hari,” ujar Andika.
Tim In Saintek UM hadir dengan kekuatan kolaborasi lintas fakultas dan lintas generasi.
Selain Andika, turut mendampingi Mahfudy Sahly S., M.Pd., dosen Fakultas Teknik, serta sejumlah mahasiswa, di antaranya Kintan (S2 PKJ), Silva dari FIP, dan Arvin serta Reyhan dari Fakultas Teknik yang bertugas sebagai operator teknis.
Program ini juga mendapat dukungan penuh dari Frido, alumni Fakultas Teknik UM yang kini tinggal di Desa Sidomulyo.
Frido berperan penting sebagai penghubung antara kampus dan masyarakat, memastikan kegiatan berjalan lancar dan menghadirkan suasana pelatihan yang hangat.
Suasana aula Kantor Kepala Desa Sidomulyo tampak berbeda pada Rabu, 22 Oktober 2025.
Ruangan yang biasanya digunakan untuk kegiatan warga kini berubah menjadi laboratorium mini teknologi digital, lengkap dengan headset VR, perangkat AR, dan proyektor besar.
Peserta pelatihan pun beragam. Ada guru sekolah dasar, pengajar madrasah, hingga guru ngaji yang hadir dengan rasa ingin tahu tinggi.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Desa Sidomulyo, Ibu Purwanti, yang menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran tim UM.
“Kami sangat berterima kasih karena kegiatan ini membuka wawasan baru bagi para guru di desa kami.
Banyak di antara mereka yang belum pernah mencoba teknologi seperti ini, dan hari ini mereka bisa langsung belajar dari tim Universitas Negeri Malang,” ujar Purwanti.
Momen paling seru datang saat sesi praktik dimulai. Ruangan seketika riuh oleh tawa dan decak kagum.
Baca Juga: Kontes Robot Terbang Indonesia 'KRTI' 2025, Ini Daftar Mahasiswa Juara Inovator
Seorang guru SD tampak terkejut ketika dirinya bisa “berjalan” di dalam sistem tata surya digital melalui headset VR.
Di sisi lain, seorang guru ngaji mencoba aplikasi simulasi tiga dimensi untuk memperkenalkan nilai-nilai moral kepada anak-anak.
Banyak guru yang awalnya canggung perlahan mulai terbiasa dan semakin penasaran.
Salah satu guru pondok pesantren bahkan mengatakan teknologi ini dapat membantu santri memahami konsep alam secara lebih visual.
“Rasanya luar biasa, seolah kita berada langsung di tempat yang sedang dijelaskan. Anak-anak pasti akan lebih mudah paham,” ujarnya sambil tersenyum usai mencoba VR.
Selain praktik, para guru juga diajak membuat konten AR sederhana menggunakan ponsel masing-masing.
Tim dosen dan mahasiswa UM mendampingi setiap kelompok dengan sabar dan interaktif.
Andika menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari kemampuan teknis peserta, tetapi dari keberanian mereka untuk mencoba hal baru.
“Bagi kami, ketika para guru mulai tersenyum dan berkata ‘saya bisa’, itulah makna diseminasi yang sebenarnya,” ungkapnya.
Program GURU JAGO menjadi bukti komitmen Universitas Negeri Malang dalam menjembatani kampus dengan desa.
Baca Juga: Poliban Dorong Inovasi Penanganan Sampah Menuju Banjarmasin Green City
Melalui semangat “Diktisaintek Berdampak” dan “Semesta Saintek”, UM ingin memastikan inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Selain pelatihan teknologi, GURU JAGO juga merupakan gerakan sosial untuk membuka akses inovasi bagi semua pengajar, terutama di wilayah pedesaan.
PUI-PT DLI UM sebagai pusat unggulan iptek telah menghasilkan berbagai produk pembelajaran disruptif yang kini mulai diterapkan langsung di lapangan.
“Kegiatan di Kediri ini akan menjadi model awal untuk pelaksanaan di beberapa daerah lain di Jawa Timur, dengan menyesuaikan karakteristik masyarakat setempat,” tambah Andika.
Baca Juga: SRMP 23 Hadirkan Pendidikan Setara di Makassar Menjadi Harapan Baru bagi Ratusan Siswa Prasejahtera
Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan penyerahan simbolis media pembelajaran berbasis AR/VR kepada perwakilan guru.
Purwanti menutup acara dengan pesan penuh harapan.
“Hari ini kami membuktikan bahwa desa juga bisa menjadi tempat tumbuhnya inovasi. Terima kasih kepada Universitas Negeri Malang (UM) yang sudah membawa cahaya pengetahuan ke Sidomulyo,” ujarnya. ***




