POJOKSATU.id - Ujian Nasional (UN) yang sudah lama dihapuskan sejak terakhir diterapkan tahun 2020 kabarnya mendapat perhatian pemerintah kembali.
Wacana yang beredar adalah permintaan penerapan kembali UN di sekolah-sekolah.
Adanya rencana penerapan kembali UN menarik perhatian dan respon dari banyak kalangan terutama dari kalangan guru.
Seperti dalam acara Temu Pendidik Nasional XI yang diadakan oleh KGBN (Komunitas Guru Belajar Nusantara).
KGBN telah mewadahi suara guru dari berbagai daerah untuk melaksanakan debat spesial terkait wacana penerapan kembali Ujian Nasional.
Artikel ini mengulas tentang manfaat serta tantangan penerapan UN bagi masa depan pendidikan Indonesia.
Berikut pendapat guru yang sepakat dengan penerapan kembali ujian nasional.
Pertama, Ujian Nasional dianggap memiliki manfaat yaitu UN dianggap sebagai cara yang efektif untuk mengetahui standar pengetahuan dan keterampilan siswa di seluruh Indonesia.
Pernyataan ini diperkuat dengan pendapat bahwa dengan adanya ujian yang sama di seluruh daerah memungkinkan pemerintah untuk mengetahui secara menyeluruh dan membandingkan hasil pendidikan di berbagai wilayah.
Hal ini juga dapat membantu mengetahui daerah mana saja yang membutuhkan perhatian khusus.
Kedua, adanya Ujian Nasional banyak guru yang beranggapan bahwa siswa akan memiliki target yang jelas dalam proses belajar mereka.
Ujian Nasional juga dapat mendorong siswa untuk lebih berfokus pada pelajaran karena adanya evaluasi akhir yang akan mengukur kemampuan mereka.
Harapannya dapat menumbuhkan budaya belajar yang lebih kuat di kalangan siswa.
Namun di akhir pernyataan guru yang mendukung penerapan UN kembali dengan mengajukan usulan untuk mempertimbangkan aspek afektif dan psikomotorik siswa.
Serta kebutuhan dan potensi setiap individu melalui proyek dan portofolio digital.
Sehingga hal ini akan menghindarkan siswa dari hanya memandang nilai sebagai tujuan, namun sebagai proses yang membantu mengembangkan potensi diri.
Sehingga mereka siap menjadi inovator dan pencipta lapangan kerja di era Revolusi Industri 4.5.
Selain itu lulusan Indonesia tidak dianggap rendah oleh perguruan tinggi luar negeri.
Sementara dari sebagian besar guru tidak mendukung dengan diberlakukannya kembali ujian nasional.
Alasannya, beberapa guru memandang Ujian Nasional yang selama ini diterapkan cenderung mengukur kemampuan menghafal dibandingkan dengan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan.
Selain itu, Ujian Nasional tidak mempertimbangkan perbedaan kondisi sosial ekonomi siswa, yang dapat menyebabkan ketimpangan.
Penghapusan Ujian Nasional memungkinkan sekolah untuk lebih menyesuaikan pendidikan dengan kondisi daerah masing-masing dan mengurangi ketimpangan antara murid kaya dan miskin.
Banyak siswa dari keluarga kurang mampu tidak memiliki akses yang sama untuk mengikuti bimbingan belajar.
Selama Ujian Nasional diberlakukan, belum dilihat peningkatan signifikan dalam kualitas pendidikan nasional jika berkaca dari nilai hasil PISA yang semakin merosot.
Guru yang tidak mendukung UN kembali juga memaparkan fakta lapangan banyak siswa yang mengalami depresi hingga penyakit mental lain sebagai dampak dari terlaksananya UN.
Di akhir perdebatan, meskipun setiap argumen memiliki perspektif yang berbeda mengenai manfaat dan tantangan UN dalam pendidikan.
Kedua belah pihak menyetujui perlunya reformasi dalam metode penilaian.
Tetapi berbeda dalam pendekatan pelaksanaannya, apakah dengan mempertahankan UN yang telah dimodifikasi atau menggantinya dengan asesmen yang lebih komprehensif.
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:
Jadi, bagaimana menurut Anda apakah UN atau Ujian Nasional perlu digelar lagi?***



