POJOKSATU.id - Komitmen akademisi Indonesia dalam mendorong sistem perdagangan dunia yang lebih inklusif kembali mendapat pengakuan internasional.
Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) Universitas Gadjah Mada (UGM) dipercaya kembali mewakili Indonesia dalam WTO Chairs Programme (WCP) Annual Conference 2026 yang berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 1–3 Juli 2026.
Keikutsertaan tersebut menjadi bukti bahwa kontribusi perguruan tinggi Indonesia tidak hanya hadir melalui pendidikan dan riset, tetapi juga ikut memberi masukan terhadap berbagai isu strategis perdagangan global yang dibahas di forum internasional.
Baca Juga: Bukan Scrolling, Kebiasaan Ini Justru Lebih Berbahaya bagi Kesehatan Otak, Simak Penjelasannya
Dalam konferensi tersebut, PSPD UGM diwakili Dr. Maharani Hapsari, Direktur PSPD UGM yang juga menjabat sebagai Indonesia Chair Holder pada WTO Chairs Programme.
Ia bergabung bersama para perwakilan dari berbagai negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Karibia yang tergabung dalam jaringan WCP.
Menurut Maharani, konferensi tahunan tersebut menjadi wadah bagi para akademisi dan peneliti untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi dunia sekaligus mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi sistem perdagangan internasional sebagai bahan refleksi terhadap kebijakan World Trade Organization (WTO).
Baca Juga: Presiden Gercep Cari Pengganti Nanik, Wamentan Sudaryono akan Dilantik Kepala BGN Sore Nanti
Dalam forum itu, PSPD UGM memperkenalkan sejumlah program unggulan yang selama ini dikembangkan dalam kerangka WTO Chairs Programme.
Fokus utamanya meliputi dinamika perdagangan global dan tata kelola pemerintahan, persaingan internasional, serta perdagangan yang adil dan berkelanjutan.
Salah satu kontribusi yang mendapat perhatian adalah Journal of World Trade Studies (JWTS), jurnal ilmiah internasional hasil kolaborasi PSPD UGM dengan WTO Chairs Programme yang telah berjalan sejak 2010.
"Salah satu bentuk konkret kontribusi tersebut adalah Journal of World Trade Studies (JWTS), jurnal internasional hasil kolaborasi PSPD UGM dengan WCP sejak 2010 yang secara khusus mengkaji dan mengkritisi sistem perdagangan dunia di berbagai level, dari bilateral hingga multilateral," katanya.
Baca Juga: Tiffany Young Gelar Konser Solo Perdana di Jakarta, Cek Harga Tiket dan Benefitnya
JWTS diterbitkan dua kali setiap tahun dan kini telah memasuki volume ke-10.
Selain menghasilkan publikasi ilmiah, PSPD UGM juga aktif menjalankan berbagai program peningkatan kapasitas di bidang diplomasi komoditas berkelanjutan bersama lembaga donor internasional maupun instansi pemerintah di Indonesia.
Kolaborasi tersebut juga diwujudkan melalui program penguatan kapasitas negosiasi dan diplomasi luar negeri untuk praktik berkelanjutan komoditas strategis yang diselenggarakan bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sejak April 2026.
Dalam paparannya di hadapan peserta konferensi, Maharani menjelaskan bahwa seluruh program PSPD UGM dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas, hingga sektor swasta.
Baca Juga: LSP Unpad Tambah 48 Calon Asesor Kompetensi, Perkuat Sertifikasi Mahasiswa dan Lulusan
Ke depan, PSPD UGM berencana memperluas kerja sama dengan membangun forum diskusi lintas negara, khususnya di antara anggota WTO Chairs Programme.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan berbasis riset terkini untuk membahas berbagai isu strategis perdagangan internasional.
"Forum-forum seperti ini diharapkan dapat menjadi wadah tukar pikiran yang dapat menjembatani antara pemikir dan praktisi perdagangan internasional" ungkapnya.
Menurut Maharani, pertemuan para pakar dari berbagai negara juga membuka kesempatan untuk memahami dinamika ekonomi dan politik global dari beragam perspektif, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antarnegara dalam menghadapi tantangan perdagangan dunia yang terus berkembang.
Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Pisang dan Ide Olahan Lezat Sesuai Karakter Rasanya
Partisipasi PSPD UGM dalam forum WTO tersebut menunjukkan bahwa kontribusi perguruan tinggi Indonesia tidak hanya berhenti pada ruang akademik.
Melalui riset, publikasi, dan kolaborasi internasional, akademisi juga berperan membangun kebijakan perdagangan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan ekonomi global di masa mendatang.***




