POJOKSATU.id - Aroma asin laut yang bercampur dengan lembabnya udara rawa menjadi suasana khas yang menyambut siapa saja yang datang ke Perumahan Apung Desa Kuala Bubon, Kabupaten Aceh Barat.
Kawasan pesisir ini dikelilingi air dalam jumlah melimpah, tetapi masyarakat justru menghadapi persoalan yang tidak sederhana, yakni sulitnya memperoleh air bersih yang layak konsumsi.
Bagi warga nelayan yang menetap di kawasan tersebut, air bersih menjadi kebutuhan yang tidak selalu mudah dipenuhi.
Baca Juga: Tiket Lungsuran
Sumur-sumur warga kerap menghasilkan air payau, sementara kondisi geografis berupa rawa-rawa membuat pemanfaatan air tanah dalam jangka panjang berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan.
Melihat persoalan itu, dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Teuku Umar, Dr. Kiswanto, M.Si., menghadirkan inovasi yang memanfaatkan potensi alam yang selama ini tersedia melimpah, yakni air hujan.
Melalui pendanaan Hibah Kemendiktisaintek dalam Skema Penelitian Terapan, Dr. Kiswanto mengembangkan sistem pengolahan air hujan menjadi air baku yang aman dikonsumsi.
Baca Juga: Haul di Plawad, Hendra Ingin Perjuangan Wa Haji Endin Diabadikan dalam Buku
Inovasi tersebut berangkat dari tingginya curah hujan di wilayah pesisir yang dinilai dapat menjadi sumber air bersih berkelanjutan apabila dikelola dengan baik.
Menurut Dr. Kiswanto, air hujan pada dasarnya memiliki tingkat kemurnian yang cukup baik.
Namun, kualitasnya dapat menurun akibat kontaminasi debu, polutan udara, maupun mikroorganisme ketika masuk ke dalam media penampungan.
Baca Juga: Juara di Luwu Timur, Kandes Pride Buka Jalur Tampil di Kapolri Cup 2026
Mengandalkan Bahan Lokal yang Mudah Didapat. Karena itu, teknologi yang dikembangkan berfokus pada proses penyaringan dan pengolahan yang aman serta higienis.
“Sistem penyaringan ini dirancang agar terintegrasi menjadi depo air minum isi ulang berbasis masyarakat yang menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh dan dikelola sendiri oleh warga, yaitu kombinasi pasir silika, zeolit, dan karbon aktif,” ujar Dr. Kiswanto kepada Humas UTU.
Ia menjelaskan bahwa penelitian terapan tersebut tidak hanya bertujuan menghasilkan teknologi yang efektif secara ilmiah, tetapi juga mudah dioperasikan dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat nelayan di Perumahan Apung Kuala Bubon.
“Kami ingin mengubah stigma bahwa air hujan itu asam atau berbahaya, menjadi sebuah kesadaran baru bahwa dengan penyaringan yang tepat menggunakan zeolit, karbon aktif, dan pasir silika, langit telah menyediakan air minum murni yang jauh lebih hemat dan ramah lingkungan,” terangnya.
Dukung Kemandirian dan Kelestarian Lingkungan Dalam prosesnya, air hujan melewati tahapan filtrasi dan sterilisasi yang dirancang untuk menghilangkan berbagai zat berbahaya, mulai dari logam seperti timbal dan besi hingga bakteri yang dapat mengganggu kesehatan.
Hasil akhirnya bukan hanya berupa air minum yang aman dikonsumsi, tetapi juga membuka peluang kemandirian bagi rumah tangga maupun institusi, termasuk lingkungan kampus, untuk memproduksi air minum sendiri dengan biaya yang lebih terjangkau.
Baca Juga: Guru Belum S-1 atau D-IV? Ini Penjelasan Lengkap Aturan Terbaru, Ada Program Bantuan Kuliah Nih!
Selain itu, pemanfaatan air hujan sebagai sumber air minum turut mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air dan keseimbangan ekosistem di kawasan pesisir yang rentan mengalami tekanan lingkungan.
Inovasi yang dikembangkan Universitas Teuku Umar ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Baca Juga: O2SN Pendidikan Khusus Jawa Barat 2026 Resmi Dibuka, Kadisdik Tekankan Semangat dan Gotong Royong
Program tersebut mendukung SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi layak bagi semua masyarakat, sekaligus SDG 11 yang menitikberatkan pada pembangunan permukiman yang tangguh, berkelanjutan, dan mandiri.
Bagi masyarakat Kuala Bubon, hujan kini bukan lagi sekadar fenomena alam yang datang dan pergi.
Melalui sentuhan inovasi dan teknologi tepat guna, setiap tetes yang turun berpotensi menjadi sumber kehidupan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi warga pesisir. ***




