POJOKSATU.ID - Pemulihan sektor pendidikan akibat gempa di Nusa Tenggara Timur tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik semata.

Pemerintah turut menaruh perhatian besar pada penanganan trauma psikologis yang dialami oleh para siswa maupun tenaga pendidik.

Melalui kerja sama dengan berbagai mitra, program pendampingan psikososial saat ini sudah menyasar sekitar 75 sekolah di wilayah terdampak.

Langkah ini dipandang sangat krusial untuk mengembalikan mental serta semangat belajar warga sekolah agar situasi bisa kembali normal.

Baca Juga: Ribuan Sekolah di NTT Hancur Diterjang Gempa, Kemendikdasmen Kucurkan Puluhan Miliar Demi Amankan Kelas Darurat!

Guna memperluas jangkauan pemulihan mental, program pelatihan akan segera digelar untuk 120 fasilitator tingkat nasional serta 1.700 fasilitator daerah.

Para fasilitator yang terlatih ini nantinya bertugas mendampingi sekitar 51 ribu pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten.

Pendampingan skala besar ini diharapkan mampu memulihkan kesehatan jiwa para guru sehingga proses belajar-mengajar dapat berjalan optimal kembali.

Di sisi lain, bantuan logistik senilai Rp6 miliar juga telah dialirkan langsung ke tujuh kabupaten yang terdampak paling parah.

Baca Juga: Mulai Januari 2027, PPPK Paruh Waktu di Daerah Direncanakan Jadi Penuh Waktu, Anggaran Rp31,1 Triliun Disiapkan

Paket bantuan tersebut mencakup 10.000 porsi makanan anak, 1.000 paket sembako, 5.500 school kit, serta 1.500 family kit.

Tidak ketinggalan, ada 10.000 buku bacaan yang disalurkan agar anak-anak tetap bisa membaca di tengah keterbatasan ruang gerak.

Sebagai bentuk kepedulian mendalam atas jatuhnya korban jiwa dan luka-luka, dana santunan sebesar Rp330 juta ikut disalurkan.

Korban meninggal dunia dari kalangan siswa mendapatkan santunan sebesar Rp5 juta per orang, sedangkan untuk guru yang gugur dialokasikan Rp10 juta.

Bagi guru yang mengalami cedera fisik diberikan bantuan Rp2 juta, dan untuk siswa yang terluka menerima santunan Rp1 juta.

Sinergi bantuan logistik, santunan, dan pemulihan mental ini diharapkan mampu membakar kembali asa para korban gempa di NTT.***