POJOKSATU.id - Di tengah harapan peningkatan kesejahteraan, banyak guru justru merasakan hal sebaliknya.

Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang seharusnya menjadi sandaran ekonomi malah berubah menjadi sumber kecemasan baru.

Ketidakpastian pencairan dari triwulan ke triwulan membuat guru merasa tidak lagi memiliki kontrol atas kondisi finansial mereka sendiri.

Baca Juga: Fenomena ASN Keluyuran di Jam Kerja Dinilai Merusak Citra PNS dan PPPK, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Padahal, di tengah tuntutan profesional yang semakin besar, stabilitas ekonomi menjadi kebutuhan dasar agar guru dapat mengajar dengan tenang.

Namun kenyataan memperlihatkan bahwa TPG kini lebih sering menghadirkan rasa gelisah daripada rasa aman.

Guru pun bertanya, sampai kapan mereka harus hidup dalam ketidakpastian seperti ini.

Ketidakpastian Pencairan Membuat Guru Sulit Merencanakan Keuangan

Setiap triwulan, pertanyaan yang sama terus berulang: kapan TPG cair.

Baca Juga: Soal - Kunci Jawaban Post Test Modul 1 Topik 2 PPA, 10 Soal Pilihan Ganda, DILENGKAPI PEMBAHASAN, Referensi Manjur PPG Guru Tertentu 2025 Tahap 5

Ketika jadwal bergeser atau proses administrasi terlambat, guru kesulitan menyusun rencana keuangan keluarga.

Mereka tidak berani mengambil keputusan penting seperti memperbaiki rumah, membeli kebutuhan sekolah anak, atau menutupi kebutuhan mendesak lainnya.

Ketidakpastian ini membuat guru merasa seperti berjalan di atas tanah yang terus bergeser.

Rasa aman finansial yang seharusnya hadir dari TPG perlahan menghilang dari hari ke hari.

Dan semakin sering keterlambatan terjadi, semakin parah tekanan psikologis yang dirasakan.

Beban Administrasi Justru Semakin Menekan Guru

Di saat guru ingin fokus mengajar, mereka justru disibukkan oleh beban administratif yang terus bertambah.

Validasi Info GTK, sinkronisasi Dapodik, pemeriksaan SKTP, dan verifikasi jam mengajar menjadi rutinitas yang melelahkan.

Baca Juga: Tunjangan Profesi Guru TW 3 dan 4 Jadi Beban Psikologis Guru Menjelang Tahun Baru!

Kesalahan kecil saja bisa membuat TPG tertunda berbulan-bulan.

Sistem yang berubah tanpa penjelasan membuat guru harus memahami mekanisme yang rumit dengan usaha sendiri.

Alih-alih membantu, proses administrasi justru terasa seperti jebakan yang mempersulit guru.

Baca Juga: KISAH INSPIRATIF! Pengabdian Tulus Hanafy Satpam MIN 4 Jaksel Berbuah Manis, Kini Resmi Diangkat PPPK

Situasi ini membuat tunjangan yang seharusnya menenangkan justru menambah beban mental.

Perbedaan Antar-Daerah Bikin Guru Merasa Tidak Diperlakukan Sama

Setiap daerah berjalan dengan ritme yang berbeda, dan guru menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Ada kabupaten yang TPG-nya cair tepat waktu, tetapi ada juga yang tertinggal jauh dan menunggu berminggu-minggu.

Baca Juga: Banjir Rob Kepung Cilincing hingga Tanjung Priok, Rumah dan Sekolah Tak Luput Terendam

Ketimpangan ini memicu kecemburuan dan rasa tidak adil di kalangan guru.

Padahal beban kerja, tanggung jawab, dan dedikasi mereka sama besarnya.

Namun karena perbedaan administrasi dan kecepatan dinas, hak mereka tidak diterima serentak.

Guru pun merasa seperti diperlakukan tidak setara dalam sistem yang seharusnya menjamin kesejahteraan profesi.

Guru Terpaksa Mengandalkan Hutang Ketika TPG Tidak Cair

Ketika TPG terlambat, kebutuhan tetap berjalan tanpa bisa ditunda.

Banyak guru akhirnya meminjam ke koperasi sekolah, bank, atau bahkan pinjaman online.

Baca Juga: Soal - Kunci Jawaban Post Test Modul 1 Topik 2 PPA DILENGKAPI PEMBAHASAN, PPG Guru Tertentu 2025 Tahap 5, Pahami POIN SOAL Ini Sering Keluar

Mereka terpaksa masuk ke lingkaran hutang hanya untuk bertahan hidup sampai tunjangan cair.

Situasi ini membuat guru rentan secara ekonomi dan mental.

Padahal tunjangan profesi seharusnya menjadi penopang stabilitas, bukan pemicu masalah baru.

Baca Juga: Soal - Kunci Jawaban Post Test Modul 1 Topik 2 PPA DILENGKAPI PEMBAHASAN, PPG Guru Tertentu 2025 Tahap 5, Pahami POIN SOAL Ini Sering Keluar

Kondisi ini menunjukkan betapa krusialnya peran TPG bagi kesejahteraan guru.

Ketidakstabilan TPG Menurunkan Rasa Aman dalam Menjalani Profesi

Guru membutuhkan ketenangan psikologis untuk mengajar dengan penuh dedikasi.

Namun ketika tunjangan yang menjadi hak mereka tidak stabil, rasa aman itu perlahan hilang.

Baca Juga: Wakapolri Turun ke Lokasi Bencana Alam di Sumbar, Cek Peninjauan Posko DVI untuk Pendataan Korban

Guru mulai merasa tidak bisa lagi bergantung pada sistem yang terus berubah dan tidak pasti.

Setiap keterlambatan meninggalkan luka dan rasa kecewa yang semakin menumpuk.

Semangat mengajar pun ikut tergerus oleh kecemasan finansial yang berkepanjangan.

Ketidakstabilan ini menjadi penghalang besar bagi kesejahteraan guru dalam jangka panjang.

Guru Tidak Menuntut Banyak, Hanya Kepastian pada Hak Mereka

Guru tidak meminta penghasilan berlebih.

Mereka hanya ingin kepastian bahwa hak mereka cair tepat waktu.

Ketidakpastian yang terus berulang membuat guru sulit menjalani profesi dengan tenang.

Sistem tunjangan yang seharusnya menjadi sandaran justru berubah menjadi sumber stres tahunan.

Sudah waktunya pembenahan dilakukan agar guru mendapatkan rasa aman finansial yang layak.

Karena tanpa guru yang tenang dan sejahtera, kualitas pendidikan akan sulit berkembang.***