POJOKSATU.id - Pelaksanaan seleksi Manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih 2026 tidak hanya menyita perhatian peserta karena ketatnya persaingan, tetapi juga memunculkan banyak pertanyaan terkait sistem penilaian.
Salah satu yang paling sering menjadi pembahasan adalah kemungkinan adanya peserta dengan nilai akhir yang sama atau biasa disebut “skor kembar”.
Situasi ini dinilai cukup rawan terjadi mengingat ribuan peserta mengikuti ujian berbasis CAT dengan standar penilaian yang seragam.
Banyak peserta yang memantau live score mulai bertanya-tanya mengenai mekanisme penentuan peringkat apabila dua orang atau lebih memperoleh total nilai identik, terutama di posisi batas kelolosan.
Baca Juga: Passing Grade Seleksi Manajer Kopdes 2026 Sulit Ditembus, Ternyata Ini Biang Keroknya
Panitia seleksi ternyata telah menyiapkan skema khusus untuk menentukan siapa yang berhak menempati posisi lebih tinggi apabila terjadi nilai seri dalam seleksi tersebut.
Penilaian pertama yang menjadi acuan utama ialah hasil pada subtes Manajemen Koperasi.
Komponen ini menjadi penentu paling penting dalam proses pemeringkatan.
Peserta yang memperoleh skor lebih tinggi pada materi Manajemen Koperasi akan diprioritaskan berada di urutan atas, meskipun total nilai akhirnya sama dengan peserta lain.
Baca Juga: Kesaksian Kernet Bus ALS 346 Lolos Kecelakaan Maut di Muratara Padahal Duduk di Samping Sopir
Subtes ini dianggap merepresentasikan kemampuan inti yang paling relevan dengan jabatan manajer koperasi.
Apabila nilai pada subtes tersebut masih identik, panitia akan melanjutkan proses seleksi dengan melihat latar belakang akademik peserta, yakni melalui Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Peserta dengan IPK lebih tinggi akan mendapatkan prioritas kelolosan.
Pertimbangan ini digunakan untuk menilai rekam jejak akademik dan konsistensi kemampuan peserta selama menempuh pendidikan.
Baca Juga: Guru Wajib Teliti! Ini 7 Faktor Penentu Pencairan TPG Mei 2026
Namun, dalam beberapa kasus, kondisi nilai masih memungkinkan terjadi kesamaan meski skor tes dan IPK telah dibandingkan.
Jika situasi tersebut terjadi, faktor usia menjadi penentu berikutnya.
Peserta dengan usia lebih senior akan ditempatkan pada posisi yang lebih unggul dalam peringkat akhir.
Kebijakan ini menjadi salah satu mekanisme penyaring tambahan dalam kondisi persaingan yang sangat ketat.
Baca Juga: Kabar Gembira Guru! Ini Jadwal Pencairan TPG Mei 2026 dan Ketentuannya
Meski demikian, panitia juga menyiapkan skenario terakhir apabila seluruh indikator sebelumnya masih menghasilkan nilai identik.
Dalam kondisi yang sangat jarang terjadi itu, peserta dapat dinyatakan lolos bersama menuju tahapan berikutnya.
Skema tersebut diterapkan agar proses seleksi tetap berjalan objektif dan memiliki dasar penilaian yang jelas ketika menghadapi peserta dengan capaian nilai serupa.
***



