POJOKSATU.id — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menilai persaingan akademik di lingkungan peserta didik perlu kembali diperkuat.

Ia menyoroti kondisi sistem pendidikan yang dinilai belum memberikan cukup ruang bagi siswa untuk saling mengukur kemampuan dan terpacu meningkatkan pencapaian.

Brian menyebut salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kebijakan yang tidak lagi menerapkan sistem tinggal kelas bagi peserta didik.

"Anak-anak didik kita kemarin tidak ada tes masuk, tidak ada tinggal kelas. Jadi, gimana kompetisinya, kita nggak punya? Padahal di dunia ini kompetisi sangat keras Bapak-Ibu sekalian," tutur Brian.

Baca Juga: Mengulik Harta Kekayaan Brian Yuliarto, Mendiktisaintek yang Baru Dilantik Prabowo Gantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro

Menurutnya, sistem evaluasi pada masa lalu memiliki mekanisme tersendiri untuk mengetahui kemampuan siswa. Brian kemudian mencontohkan pengalaman ketika dirinya masih menjadi pelajar.

Saat itu, salah satu ukuran yang digunakan untuk melihat capaian akademik adalah Nilai Ebtanas Murni atau NEM.

NEM merupakan hasil penilaian dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas).

Sistem tersebut kemudian berkembang dan dikenal sebagai Ujian Nasional (UN).

Brian berpandangan, keberadaan evaluasi dengan ukuran yang lebih terstandar dapat membantu memetakan kemampuan siswa sekaligus menciptakan dorongan bagi mereka untuk berprestasi.

Baca Juga: Ini Sebaran Sekolah Garuda di Indonesia, Menteri Brian Sampaikan Pesan: Grit, Persistent, dan Perseverance, Apa Artinya? Yuk Disimak

Ia juga menyinggung alasan perbedaan kualitas pendidikan antardaerah yang sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan dalam sistem evaluasi nasional.

Menurut Brian, kondisi tersebut semestinya menjadi alasan untuk memperbaiki mekanisme ujian, bukan justru menghilangkannya.

"Kita kemarin dengan dasar atau dengan pertimbangan negara, daerah-daerah beda-beda kemampuan, sehingga dulu zaman kita ada Ebtanas ya, ada NEM gitu kan. Udah dihapuskan saja kan lucu, harusnya kan ditingkatkan dong yang masih rendah, bukan dihilangkan ujiannya," urai Brian.

Di sisi lain, Brian menyambut positif kehadiran Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang kini diterapkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Menurut dia, pelaksanaan TKA berpotensi menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan kembali motivasi peserta didik dalam belajar dan menguasai berbagai materi akademik.

"Sekarang Alhamdulillah, Pak Mendikdasmen (Abdul Mu'ti) sudah membuat TKA. Pak Mendikdasmen sudah membuat lagi, kita sama-sama bantu, kita sama-sama dukung. Sehingga, iklim siswa-siswa kita supaya ingin belajar, ingin menguasai ilmu-ilmu yang susah itu kita hidupkan kembali," imbuhnya.

Hal tersebut disampaikan Brian dalam agenda Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi).

Baca Juga: Banyak Komentar Julid soal Hubungan Asmaranya dengan Cinta Brian, Gisel Pasrah dengan Stigma Negatif Dirinya

Forum ini mempertemukan sejumlah pimpinan perguruan tinggi, khususnya dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).

Konaspi juga menjadi ruang bagi para pemangku kepentingan untuk menyusun pembahasan mengenai strategi serta rekomendasi yang berkaitan dengan pembangunan pendidikan nasional.

Dalam forum tersebut, Brian meminta pimpinan perguruan tinggi tidak sekadar menyusun program kerja, tetapi juga memastikan pelaksanaannya benar-benar memberikan dampak.

Ia mengajak para rektor meninjau kembali rencana strategis atau renstra kampus masing-masing untuk mengetahui sejauh mana program yang telah disusun memberikan hasil nyata.

"Pimpinan perguruan tinggi silakan dilihat renstranya bagaimana. Apakah sudah memberi dampak?," sampainya.

Baca Juga: Link Tryout TKA 2026 SMA dan SMK Gratis, Simulasi Resmi Pusmendik serta Cara Mengaksesnya

Selain itu, Brian mengingatkan dosen dan peneliti agar kegiatan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat memiliki keterkaitan dengan persoalan yang benar-benar terjadi di lingkungan sekitar kampus.

Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian maupun program pengabdian diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan akademik, tetapi dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Pesan serupa juga disampaikan kepada guru serta para pendidik yang nantinya akan menjalankan profesi keguruan.

Brian berharap siswa dibiasakan untuk aktif mengajukan pertanyaan, berani melakukan percobaan, serta mampu berkolaborasi dengan orang lain.

Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi fondasi yang penting dalam membangun budaya inovasi di Indonesia.

Brian berharap Konaspi dapat menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai unsur pendidikan yang selama ini memiliki peran masing-masing.

Baca Juga: Hampir 500 Ribu Siswa MA Daftar TKA 2026, Tapi Data EMIS Jadi Sorotan, Ini Jadwal dan Teknis yang Wajib Dicek

Ia menyebut pemerintah, perguruan tinggi negeri dan swasta, sekolah, guru, dunia industri, serta pemerintah daerah perlu bergerak dalam arah yang sama untuk mencapai tujuan pembangunan pendidikan.

"Kita dari kementerian sebagai salah satu bagian, ada perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta, sekolah, guru, industri, pemda. Itu adalah serakan-serakan yang lainnya, yang kita ingin semua ini bersatu membangun Indonesia Emas 2045," ucapnya.***