POJOKSATU.id, NUMERASI kerap dianggap sulit dan menegangkan oleh sebagian siswa. Padahal, keterampilan ini merupakan salah satu fondasi penting untuk menahan tantangan kehidupan sehari-hari, mulai dari menghitung belanjaan, memahami jadwal, hingga mengelola keuangan.
Menyadari pentingnya hal tersebut, Juliana selaku Head of Guru Binar, melalui Seri Webinar STAB bertajuk “Numerasi Tumbuh di Rumah: Kolaborasi Guru dan Orang Tua” berbagi tips agar numerasi bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.
Dimulai dari Kehidupan Sehari-hari
Pentingnya menampilkan numerasi dengan pengalaman nyata yang dekat dengan anak.
Misalnya, orang tua dapat mengawali pembelajaran dengan komunikasi ringan tentang kegiatan sehari-hari, seperti menghitung jumlah buah di meja makan, mencari bahan masakan, atau membandingkan harga barang saat berbelanja. Dengan demikian, anak tidak merasa sedang belajar sesuatu yang asing, melainkan melihat langsung standar matematika dalam kehidupannya.
Menjadikan Numerasi sebagai Interaksi Menyenangkan
Menurut Juliana, kegiatan numerasi tidak boleh lepas dari suasana yang menyenangkan.
Guru dan orang tua perlu menciptakan interaksi positif agar anak merasa rileks dan termotivasi.
Aktivitas sederhana seperti bermain ular tangga, menyusun puzzle angka, atau melakukan permainan berhitung bisa membuat anak lebih antusias.
Ketika belajar dikemas sebagai permainan, anak akan lebih mudah menyerap konsep yang diajarkan.
Pendekatan Deduktif dan Induktif
Agar materi lebih mudah dipahami, Juliana menyarankan penggunaan dua metode utama, yaitu deduktif dan induktif.
Baca Juga: Masih Ingat Apa Itu Abolisi? Kasus Tom Lembong Bikin Kita Nostalgia Masa-masa Pelajaran PKN
Deduktif, dimulai dengan menjelaskan prinsip umum atau rumusan terlebih dahulu, lalu memberikan contoh konkret yang mendukung.
Sebaliknya secara induktif, dimulai dengan contoh nyata yang dapat dipahami anak, kemudian menarik kesimpulan berupa rumus atau prinsip umum.
Pendekatan kedua ini dapat digunakan secara bergantian sesuai kebutuhan, sehingga anak dapat memahami konsep angka dari berbagai sudut pandang.
Bahasa yang Mudah Dipahami
Selain metode, pemilihan bahasa juga menjadi faktor penting. Perlu menggunakan bahasa sehari-hari yang dekat dengan usia dan tingkat pemahaman siswa.
Hindari istilah yang terlalu teknis atau rumit. Misalnya, alih-alih langsung menyebut “pecahan desimal”, orang tua bisa menjelaskan dengan contoh nyata seperti membagi kue menjadi beberapa potong. Hal ini membuat anak merasa lebih nyaman dan tidak terbebani.
Kolaborasi Guru dan Orang Tua, Kunci Sukses Numerasi
Keberhasilan pembelajaran numerasi tidak hanya bergantung pada guru, melainkan juga membutuhkan dukungan penuh dari orang tua.
Guru bisa memberikan panduan dan materi, sementara orang tua mendampingi anak untuk memindahkan konsep numerasi di rumah.
Dengan kolaborasi yang baik, anak akan terbantu untuk membangun fondasi numerasi yang kuat sekaligus mengembangkan rasa percaya diri dalam belajar.
Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;
Baca Juga: Capaian Pembelajaran PAUD 2025 Kini Berubah, Apa Tujuan dan Manfaatnya? Simak Penjelasan Ini!
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, numerasi tidak lagi menjadi mata pelajaran yang menakutkan, melainkan kesempatan emas bagi anak untuk belajar dengan cara yang menyenangkan.
Kolaborasi guru dan orang tua diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang hangat, bermakna, dan berkelanjutan bagi perkembangan anak. ***




