POJOKSATU.id – Tim mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah global.
Mereka meraih juara dua dalam GBSN 2025 Social Logistics Challenge, kompetisi internasional yang digelar Global Business School Network dan diikuti 100 tim dari 48 negara.
Dalam kompetisi tersebut, tim Kiki’s Logistic Service yang beranggotakan Jacques Ethan Nathanael Gultom (Akuntansi 2022), Muhammad Rafi Lukmantoro (Akuntansi 2022).
Baca Juga: Skandal Listrik Aceh Meledak! Bahlil Disebut Beri Laporan Palsu di Hadapan Prabowo
Selanjutnya Nabila Kaori Refonsa (Ilmu Ekonomi 2022), dan I Putu Adhimas Radiansyah Aryawan (Arkeologi 2022) tampil dengan gagasan pengembangan LINTAS (Logistik Integrasi Transportasi Apari Sadar).
Inovasi Logistik untuk Daerah Terpencil
Ethan menjelaskan bahwa LINTAS adalah sistem manajemen transportasi (Transportation Management System/TMS) yang dirancang untuk mengoptimalkan distribusi pangan di daerah terpencil Indonesia, khususnya Kecamatan Long Apari, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Baca Juga: ITS Back to Back Juara Umum KKI 2025, Inovasi Kapal ROPAX Jadi Sorotan
Wilayah yang bergantung penuh pada sungai Mahakam ini sering menghadapi runtuhnya rantai pasokan saat kemarau tiba.
Jadi yang kita ajukan adalah sistem yang mengintegrasikan berbagai moda transportasi, jaringan logistik berbasis komunitas, data pasokan real time, serta pemantauan Continuous Replenishment (CRP), ucap Ethan di FEB UGM, Jumat (5/12).
Melalui sistem ini, tim UGM ingin memastikan pasokan pangan tetap stabil walau sungai surut dan perahu tak bisa beroperasi.
Baca Juga: Kesempatan Emas Kuliah S3 di AS Lewat Beasiswa Fulbright, Pendaftaran Hingga Februari 2026
Kondisi tersebut kerap membuat harga beras naik drastis hingga Rp1–1,2 juta per 25 kg. BBM pun menjadi langka, listrik padam bergilir, hingga jaringan komunikasi melemah.
Membongkar Titik Kritis Rantai Pasok
Setelah melakukan kajian mendalam dari sisi geografi, infrastruktur, harga pangan, hingga rantai distribusi, tim menemukan satu titik kegagalan utama: ketergantungan total pada sungai Mahakam.
Dari sinilah LINTAS dirancang untuk memecah risiko melalui jalur multimoda, hub logistik, dan integrasi TMS+IoT.
Lewat LINTAS, kita mencoba memutus siklus tahunan ini melalui sistem transportasi yang lebih terintegrasi dengan hub logistik, jalur multimoda, dan TMS+IoT untuk memantau arus barang secara real time, jelas Ethan.
Baca Juga: Skema Single Salary Bagaimana Gaji Guru? Begini Potensi Terbesar Bikin Full Senyum!
Belajar dari Kompetisi dan Best Practice Global
Nabila Kaori Refonsa menyebut pengalaman mengikuti GBSN 2025 sebagai proses belajar yang sangat berharga.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika mereka menyaksikan presentasi tim Better Vietnam dari BI Norwegian Business School, yang akhirnya meraih juara pertama.
Dari sisi substansi hingga desain presentasi memang cukup berbobot dan memukau. Meski begitu kami juga bersyukur bisa bersaing dengan 100 tim dari 48 perguruan tinggi.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Kebut Pembangunan Infrastruktur 2025, Dari Jalan hingga Fasilitas Antibanjir
Saat final, kami berusaha mempresentasikan solusi hanya dalam waktu sepuluh menit, sehingga setiap detail harus ringkas, tajam, dan tepat sasaran, jelas Nabila.
Ia juga menambahkan bahwa pelajaran terbesar dari kompetisi ini adalah keberanian untuk mencoba dan konsistensi dalam bekerja sebagai tim.
Kami berterima kasih kepada bapak Ahmad Zaki, S.E., M.Acc., Ph.D atas dukungan selaku dosen pembimbing dan kepada FEB UGM yang memfasilitasi melalui mentoring session.
Baca Juga: Satgas PKH Kejar Denda Rp 38 Triliun, 71 Korporasi Sawit dan Tambang Terancam Sanksi Berat
Kita terus berharap ke depan bisa terus berprestasi dan mengharumkan nama baik fakultas dan universitas, pungkasnya. ***




