POJOKSATU.id, PEMERINTAH tengah mempersiapkan transformasi besar dalam sistem pendidikan nasional melalui tiga program utama: Sekolah Rakyat, Sekolah Unggulan Garuda, dan Sekolah Biasa.
Ketiganya dirancang untuk menjawab tantangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia, dengan pendekatan berbeda sesuai kebutuhan masyarakat.
Program ini berada di bawah koordinasi tiga kementerian yang berbeda, yaitu Kementerian Sosial (Kemensos), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Setiap jenis sekolah memiliki tujuan, kurikulum, fasilitas, serta kelompok sasaran tersendiri. Mari mengenal lebih dekat perbedaan ketiganya.
Sekolah Rakyat: Menjangkau yang Tak Tersentuh
Sekolah Rakyat hadir untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025, Sekolah Rakyat akan dibuka untuk jenjang SD, SMP, dan SMA mulai tahun ajaran 2025–2026.
Salah satu ciri khasnya adalah sistem asrama penuh. Seluruh biaya pendidikan, mulai dari seragam, asrama, hingga makan sehari-hari, ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.
Peserta didik akan diseleksi berdasarkan kondisi ekonomi dan kemampuan akademik. Fokusnya tidak hanya pada kecerdasan kognitif, tetapi juga pembentukan karakter dan pemberian gizi yang cukup agar siswa bisa tumbuh optimal.
Program ini tidak membangun gedung baru, melainkan memanfaatkan fasilitas pemerintah yang sudah ada.
Inilah langkah efisien namun berdampak luas, agar anak-anak dari kelompok rentan tetap bisa menikmati pendidikan bermutu.
Sekolah Unggulan Garuda: Mencetak Generasi Berkelas Dunia
Program Sekolah Unggulan Garuda merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana tertuang dalam Inpres Nomor 7 Tahun 2025 tentang Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMA Unggul Garuda, dan Digitalisasi Pembelajaran.
Pelaksanaannya berada di bawah Kemdiktisaintek dan ditujukan untuk siswa-siswa berpotensi tinggi agar siap menembus perguruan tinggi terbaik dunia.
Kurikulumnya berbasis internasional dengan sistem asrama (boarding school), laboratorium riset modern, dan pembinaan karakter intensif.
Fokus utamanya adalah peningkatan kompetensi siswa, guru, dan manajemen sekolah.
Pemerintah menargetkan pembangunan 40 Sekolah Unggulan Garuda hingga tahun 2029.
Tahap awal dilakukan di empat wilayah: Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Baca Juga: BRI Hadirkan Pengalaman Musik Kelas Dunia Lewat Konser Babyface, Tiket Diskon 25 Persen Lewat BRImo!
Saat ini, sudah ada 12 Sekolah Unggulan Garuda yang tersebar di 11 provinsi. Sekolah ini menjadi simbol kemajuan pendidikan Indonesia menuju standar global.
Sekolah Biasa: Pilar Utama Pendidikan Nasional
Meski ada dua program unggulan baru, Sekolah Biasa tetap menjadi fondasi utama pendidikan Indonesia.
Sekolah ini dikelola oleh Kemendikdasmen bersama pemerintah daerah, dan menjadi tempat belajar jutaan anak Indonesia dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi.
Kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran menyenangkan, berbasis minat, dan berorientasi pada pengembangan karakter.
Sekolah Biasa umumnya menerapkan sistem pulang-pergi setiap hari dan berlokasi di kawasan padat penduduk.
Para guru di sekolah ini direkrut melalui jalur CPNS atau PPPK dan ditugaskan langsung oleh pemerintah daerah.
Ketiganya—Sekolah Rakyat, Sekolah Unggulan Garuda, dan Sekolah Biasa—adalah satu kesatuan dalam misi besar pendidikan nasional.
Sekolah Rakyat hadir untuk memberi harapan, Sekolah Unggulan Garuda untuk mencetak pemimpin masa depan, dan Sekolah Biasa untuk menjaga keberlanjutan pendidikan bangsa.
Ketiganya membentuk ekosistem pendidikan yang inklusif, kompetitif, dan berkeadilan. ***




