POJOKSATU.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan tiga kategori sekolah yang menjadi prioritas revitalisasi pada 2026.
Kebijakan ini menyasar sekolah-sekolah yang dinilai membutuhkan perhatian lebih, baik karena terdampak bencana, mengalami kerusakan berat, maupun berada di wilayah dengan tantangan geografis dan akses pendidikan yang tinggi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, prioritas pertama diberikan kepada sekolah yang terdampak bencana, khususnya bencana alam.
Artinya, sekolah yang mengalami kerusakan atau terdampak langsung akibat bencana menjadi kelompok yang lebih dahulu mendapatkan perhatian dalam program revitalisasi.
Baca Juga: Sinyal Hp Jurnalis Hilang Terdeteksi di Sebesi Hari Kedua, Ternyata Pulau Ini Banyak Penduduk
Prioritas berikutnya diberikan kepada sekolah yang mengalami kerusakan berat.
"Kemudian, sekolah yang ada di daerah 3 T (Tertinggal, Terluar, Terdepan)," kata Abdul Mu'ti kepada wartawan, Jumat malam, 11 September 2026.
Dengan demikian, ada tiga kelompok utama yang menjadi sasaran prioritas revitalisasi sekolah pada 2026.
- Pertama, sekolah terdampak bencana, terutama bencana alam.
- Kedua, sekolah dengan kondisi kerusakan berat.
- Ketiga, sekolah yang berada di wilayah 3T, yakni daerah Tertinggal, Terluar, dan Terdepan.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbaiki kondisi sarana dan prasarana pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.
Untuk pembangunan tahun ini, Kemendikdasmen telah memulai pembangunan di 11.744 satuan pendidikan.
Sebagian di antaranya bahkan telah rampung. Jumlah sekolah yang selesai dibangun disebut sudah mencapai lebih dari 1.000 satuan pendidikan.
"Itu sudah mulai kita bangun, beberapa sudah selesai, yang sudah selesai sudah di atas 1.000 yang sudah selesai," kata Mu'ti.
Selain pembangunan yang telah berjalan, Kemendikdasmen juga merencanakan revitalisasi terhadap 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Pelaksanaannya menggunakan sistem swakelola dengan melibatkan pihak sekolah dan masyarakat sekitar dalam proses pengawasan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Tegaskan Harga BBM Subsidi Tetap Stabil hingga Akhir Tahun
Menurut Mu'ti, penerapan sistem tersebut memberikan sejumlah dampak positif berdasarkan pengalaman pelaksanaan pada tahun sebelumnya.
Salah satunya adalah efisiensi anggaran. Pembangunan yang dikerjakan sendiri oleh sekolah dinilai dapat membuat biaya menjadi lebih murah.
Selain itu, kualitas pekerjaan juga dinilai lebih baik karena pihak sekolah ikut terlibat secara langsung dalam pengerjaannya.
Sistem swakelola juga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Tenaga kerja dari lingkungan setempat dapat dilibatkan dalam proses pembangunan.
Baca Juga: Tumbuh Bersama Masyarakat, Pertamina Patra Niaga JBB Raih 63 Penghargaan ENSIA
Dampak ekonomi lainnya berasal dari penggunaan material pembangunan. Kebutuhan material diupayakan dibelanjakan dari daerah setempat sehingga ikut menggerakkan perekonomian lokal.
"Keempat itu juga ikut menggerakkan ekonomi karena material untuk pembangunan dikerjakan di daerah itu sehingga mereka belanja juga dari daerah setempat.
Kemudian yang kelima, itu banyak yang sekolah-sekolah itu juga mendapatkan dukungan dari swadaya masyarakat," sambung Mu'ti.
Bagi sekolah yang masuk dalam tiga kategori prioritas, program ini menjadi bagian penting dalam upaya memastikan peserta didik tetap mendapatkan lingkungan belajar yang layak.
Baca Juga: Sudah 6 Penumpang Kapal Virgo Transport 8 Tenggelam Dinyatakan Meninggal Usai Dievakuasi
Terutama bagi sekolah terdampak bencana dan sekolah dengan kerusakan berat, perbaikan sarana pendidikan bukan sekadar soal bangunan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan proses belajar mengajar.
Sementara bagi sekolah di wilayah 3T, revitalisasi diharapkan dapat memperkuat akses terhadap fasilitas pendidikan yang layak dan mendukung pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia. ***




