POJOKSATU.id, PADANG—Nauli Al Ghifari (18) siswa SMAN 1 Bukittinggi yang berasal dari keluarga kurang mampu atau miskin bisa menembus jurusan Pertambangan dan Perminyakan ITB.
Rahasia sukses Nauli siswa berprestasi ini hingga masuk ke ITB ternyata suka belajar pada jam tiga dinihari setiap hari. Dia selalu terjaga dinihari untuk belajar lagi mata pelajarannya di sekolah.
Rahasia sukses belajar Al Ghifari ini dibongkar oleh ayahnya Panalihon, seorang penjual baju bekas di lokasi Pasar Atas atau Pasar Wisata Bukittinggi.
“Nauli itu sering belajar dari pukul 03.00 WIB hingga pagi hari,” ungkap Panalihon di kediamannya di Jalan Mandiangin, Kelurahan Campago Ipuah, Kota Bukittinggi, Sumbar, Senin (9/6/2025).
Baca Juga: Sosok Nauli Siswa Berprestasi Bukittinggi yang Dijemput Rektor untuk Kuliah di Pertambangan ITB
Sejak kecil, Nauli sudah gemar membaca buku apa saja atau sudah kutu buku. Ini sengaja dilakukan ayahnya untuk menempa Nauli.
“Bahkan untuk ke luar rumah sangat jarang. Sejak kecil juga sudah saya arahkan untuk rajin membaca, bebas buku apa saja,” kata Panalihon.
Nauli sendiri diterima di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB. Keinginan masuk ITB itu sudah ada sejak Nauli duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Dia pun giat belajar dan berusaha masuk sekolah-sekolah favorit di Kota Bukittingi. Jenjang SMA dia tempuh di SMAN 1 Bukittinggi.
Nauli bukan sekadar kutu buku. Ia juga aktif dalam berbagai lomba akademik, khususnya bidang sains.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Hadir di Cianjur: DPR RI Ajak Warga Wujudkan Generasi Emas 2045
Dia mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) agar bisa masuk ke ITB dan mengikuti OSN tahun 2023 dan 2024 hingga ke tingkat nasional.
Keluarga Tak Mampu
Selain Nauli ternyata ada 3 lagi siswa asal SMAN 1 Bukittinggi yang lulus SNBP yaitu Devit Febriansyah, Aila Amanda dan Tani Fortuna. Total ada 4 siswa yang lolos ke ITB.
Dua siswa yaitu Nauli Al Ghifari dan Devit Febriansyah merupakan keluarga kategori kurang mampu.
Baca Juga: Tampang Ricki Hikmatullah, Anggota DPRD Cilegon Tabrak Buruh saat Lagi Demo di PT Bungasari
Dimana ayah Nauli Al Ghifari yaitu Panalihon merupakan penjual pakaian bekas di Pasar Wisata atau Pasar Atas Bukitttinggi.
Sementara ibunya mengajar di Taman Pendidikan Quran (TPQ) Aurkuning Bukittinggi.
Kemudian orang tua siswa Devit Febriansyah di Malalak, Kabupaten Agam, merupakan petani kulit manis di Malalak.
"Dua orang inilah yang lulus ITB, namun memiliki ekonomi menengah ke bawah," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Bukittinggi, Azmiarni.
Azmiarni turut mengakui keunggulan akademik Nauli Al Ghifari selama belajar di SMAN 1 Bukittinggi.
“Nauli ini orangnya tidak pernah fokus pada satu pelajaran saja, namun semuanya dikuasai. Kemampuan, daya juang dan fokusnya selalu disamakan untuk setiap mata pelajaran,” ungkap Azmiarni.
“Tipikal orangnya agak pendiam, namun mau berbagi ilmu yang didapat kepada teman maupun adik-adik kelasnya,” tambahnya lagi.***




