POJOKSATU.id — Pendidikan literasi budaya sejak dini menjadi kunci dalam membangun karakter anak di tengah gempuran budaya populer global.

Menjawab tantangan itu, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama Universiti Malaya (UM) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat kolaboratif bertajuk "Globalisasi Tari Melayu Indonesia-Malaysia" sebagai media pembelajaran lintas budaya.

Kegiatan ini berlangsung di auditorium Fakultas Pendidikan Universiti Malaya pada Jumat, 30 Mei 2025.

Fokus utamanya adalah pelatihan metode Braindance berbasis tari Melayu Indonesia–Malaysia kepada para guru dan praktisi pendidikan anak usia dini (PAUD).

Baca Juga: Grand Final Jaka Rara Kota Cirebon 2025, Panggung Kreativitas Anak Muda Menjaga Budaya dan Tradisi

Menjawab Tantangan Pendidikan Budaya Anak

Pelatihan ini menjadi jawaban atas sejumlah tantangan dalam pengembangan pendidikan literasi budaya bagi anak usia dini.

Di antaranya adalah minimnya integrasi budaya lokal dalam kurikulum PAUD, keterbatasan metode pembelajaran tari yang sesuai untuk anak, hingga dominasi budaya populer yang semakin kuat di media maupun ruang-ruang pendidikan.

Tak hanya itu, kurangnya kerja sama lintas negara dalam pengembangan materi budaya juga menjadi penghambat tumbuhnya pemahaman lintas identitas sejak dini.

Braindance: Inovasi Gerak, Budaya, dan Literasi Anak

Program ini memperkenalkan pendekatan Braindance berbasis gerakan tari Melayu, yang dirancang khusus untuk menstimulasi perkembangan kognitif dan motorik anak-anak.

Baca Juga: Bogor Tuan Rumah TPN XII, Saatnya Guru Bangkitkan Pendidikan Kontekstual dan Ramah Iklim, Kegiatan Seru Hadir di Sini

Melalui gerakan yang dikombinasikan dengan narasi budaya, anak-anak dapat belajar mengenal akar budaya Melayu secara menyenangkan dan interaktif.

Kolaborasi antara UNJ dan UM ini diharapkan mampu memperkaya metode pembelajaran PAUD, membuka wawasan antarbudaya, serta menjadi inspirasi bagi pengembangan bahan ajar yang lebih inovatif dan kontekstual.

Sinergi Akademisi Dua Negara

Pelatihan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Elindra Yetti, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Seni UNJ, didampingi tim pengabdian masyarakat yang terdiri atas Prof. Dr. Dinny Devi Triana, M.Pd., Rines Onyxi Tampubolon, S.Sn., M.Sn., dan Dr. Romi Nursyam, S.S., M.Sn.

Beberapa mahasiswa Program Magister Pendidikan Seni UNJ juga terlibat aktif dalam kegiatan ini, yakni Farhan Apriadhi Ghazaly, Stefi Winda Pratiwi, dan Shinta Fierda Kus Edwin.

Baca Juga: Pengumuman 12 Juni, 67.167 Guru dan Pengawas Sekolah Lolos Verifikasi untuk Uji Kompetensi Kenaikan Jenjang Tahun 2025, Cek Lini Masa

Sementara dari Universiti Malaya, Assoc. Prof. Dr. Fonny Hutagalung turut hadir bersama timnya dalam menyukseskan kegiatan kolaboratif ini.

Membuka Ruang Dialog Budaya Sejak Dini

Inisiatif ini bukan hanya menjadi ajang pelatihan tari, tetapi juga membuka ruang dialog antarbudaya yang esensial di usia dini.

Dengan metode yang inklusif dan berbasis kolaborasi, anak-anak diharapkan tumbuh dengan pemahaman lintas budaya yang kuat serta rasa bangga terhadap warisan budayanya sendiri. ***