POJOKSATU.id - Pelataran Sekolah Rakyat menjadi saksi ketika tatapan mata orang tua dan anak saling bertemu. Perbincangan ringan ditemani bekal makanan perlahan mengurai rindu yang terpendam.

Momen itu tergambar saat kunjungan rutin orang tua siswa ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Kota Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.

Kunjungan sebulan sekali ini menjadi ruang bagi wali murid untuk melihat langsung perkembangan anak-anaknya yang menempuh pendidikan berasrama.

Di antara para orang tua, ada pasangan Srikatun Suroso (53) dan Gustaria (46), warga Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor. Sejak pagi, keduanya sudah datang menjenguk putri mereka, Kinanti (13), siswa kelas 1 SRMP 2 Kota Medan.

“Perkembangannya banyak, kalau enggak ada SR (Sekolah Rakyat) ini kan, enggak bisa sekolah anak kami,” ujar Suroso dengan suara bergetar.

Baca Juga: BOP dan BOS Madrasah Tahap 1 Tahun 2026 Disiapkan, Ini Syarat, Jadwal, dan Alur Pencairannya

Dari Kekhawatiran Jadi Keyakinan

Awalnya, Suroso mengaku sempat khawatir melepas putrinya tinggal di asrama. Namun setelah melihat langsung sistem pembinaan di Sekolah Rakyat, rasa cemas itu perlahan hilang.

“Di sini termasuk bagus. Dari makanannya, dari kesehatannya, semua dipantau sama wali asrama,” imbuhnya.

Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Kinanti tumbuh dalam keterbatasan ekonomi keluarga. Kini perubahan terlihat jelas. Ia menjadi lebih disiplin, teratur, dan sikapnya jauh lebih baik.

“Anak SR itu kebersamaannya ada, kalau lingkungan masing-masing kan ibaratnya, bandelnya saja yang ada. Jadinya masuk SR berguna sekali, disiplin dia, sikap dia berubah semua,” kata Suroso yang sehari-hari bekerja serabutan sebagai buruh bangunan.

Baca Juga: Kolegium MK

Penghasilan Pas-Pasan, Pendidikan Jadi Harapan

Gustaria, sang ibu, sehari-hari berjualan sayur keliling dan ikan teri dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari.

Dengan empat anak yang semuanya memasuki usia sekolah, biaya pendidikan menjadi beban yang tidak ringan.

“Jualannya pun enggak terlalu banyak, pas-pasan kami, makanya ini adiknya Kinanti pun masih sekolah, kakaknya juga. Makanya berat kalau enggak ada Sekolah Rakyat. Takut enggak sekolah, karena enggak mampu lah,” ungkap Gustaria.

Kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat datang melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial Republik Indonesia. Sejak itu, keluarga Suroso merasa seperti mendapatkan jalan terang.

Baca Juga: Kabar Gembira! Update Pencairan TPG ASN Februari: Menuju Rekomendasi Salur Kemenkeu

Seluruh kebutuhan Kinanti terpenuhi, mulai dari makan bergizi, seragam, hingga tempat tinggal di asrama.

“Kita ini makan ya, asal aja udah rebus bayam, sambel, tempe sudah. Kalau di sini memang gizinya bagus, ada ikan, makannya cepat besar, cepat gemuk. Waktu pulang, naik lima kilo, enggak pernah turun,” tutur Suroso.

Harapan Memutus Rantai Kemiskinan

Bagi Suroso, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Ia melihatnya sebagai harapan untuk memutus rantai kemiskinan yang selama ini membayangi keluarganya.

“Sekolah Rakyat ini merupakan sekolah untuk orang-orang yang enggak mampu. Ke depannya itu anak-anak jadi bangkit. Umpamanya enggak bisa sekolah, jadi bisa sekolah. Keinginan dia kerja pun ada," tuturnya.

Baca Juga: Jejak Panjang Masjid Raya Bandung, dari Bale Nyungcung hingga Simbol Kota di Alun-alun Asia Afrika

"Hobi dia, di sini disalurkan. Kalau dia mau cita-cita apa, terjadilah impian-impian anak-anak itu. Terima kasih Pak Prabowo dan Menteri Sosial,” sambung Suroso.

Nama Prabowo Subianto dan jajaran pemerintah disebutnya sebagai bentuk rasa syukur atas program yang telah membantu keluarganya. ***