POJOKSATU.ID - Pemerintah Indonesia terus mencari cara efektif untuk mempercepat perbaikan gizi masyarakat sekaligus menekan angka kekerdilan atau stunting di berbagai daerah.
Langkah strategis ini ditempuh melalui penguatan kemitraan antara Kementerian Sekretariat Negara, KemenPPN/Bappenas, Tim Percepatan Penurunan Stunting, serta belasan organisasi masyarakat sipil.
Sebanyak 17 organisasi yang bergerak di bidang kesehatan dan gizi berkumpul untuk memetakan aksi nyata demi menjawab tantangan yang kian kompleks.
Beban masalah kesehatan di Indonesia saat ini terbilang cukup berat karena harus menghadapi kondisi triple burden malnutrition atau tiga masalah gizi sekaligus.
Baca Juga: Atlet BAB di Tengah Perlombaan tapi Tetap Bertanding, Hyrox Akhirnya Minta Maaf dan Ubah Prosedur
Masalah tersebut meliputi kekurangan gizi kronis, kekurangan zat gizi mikro, hingga ancaman kelebihan gizi yang menyasar berbagai kelompok usia.
Di sisi lain, pemerintah menyadari adanya keterbatasan sumber daya untuk memperluas jangkauan intervensi hingga ke pelosok pelosok negeri.
Kehadiran organisasi masyarakat sipil yang memiliki jejaring luas hingga ke akar rumput menjadi kunci penting untuk menutupi celah keterbatasan tersebut.
Sejumlah nama besar seperti Fatayat NU, Nasyiatul Aisyiyah, PP Aisyiyah, Dompet Dhuafa, hingga Tzu Chi Sinarmas turut ambil bagian dalam gerakan bersama ini.
Baca Juga: 560 Tabung LPG 3 Kg Diamankan Bareskrim di Tangsel, Pertamina Pastikan Penyaluran Terus Diawasi
Lembaga internasional dan yayasan lokal seperti Nutrition International, CISDI, Tanoto Foundation, hingga Save The Children juga tidak ketinggalan menyatakan komitmennya.
Perbaikan gizi dan penanganan stunting kini ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama yang memerlukan pembagian peran secara saling melengkapi.
Keterlibatan ormas dan LSM ini diharapkan mampu menjembatani regulasi atau kebijakan di tingkat pusat agar benar-benar dapat diimplementasikan sesuai kebutuhan daerah.
Sinergi ini dijalankan tanpa mengabaikan tugas pokok masing-masing lembaga demi mencapai cita-cita besar Indonesia Emas 2045.
Melalui jejaring yang kuat, setiap pihak optimistis bahwa angka masalah gizi buruk pada anak-anak dapat ditekan secara signifikan.***




