POJOKSATU.id - Jelang persiapan tahun ajaran baru 2024/2025, banyak sekolah yang tengah menyusun Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) yang unik dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah.
Selain Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP), sekolah juga perlu merancang Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang akan diterapkan selama satu tahun ajaran di Satuan Pendidikan atau sekolah.
Sekedar mengingatkan, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah kegiatan pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu yang bertujuan untuk mendorong tercapainya profil pelajar Pancasila.
P5 menggunakan paradigma baru melalui pembelajaran berbasis projek, di mana peserta didik mengamati, mengeksplorasi, dan atau merumuskan solusi terhadap isu atau permasalahan nyata yang relevan bagi mereka.
Implementasi P5 dapat dilakukan dengan fleksibilitas dalam hal konten, kegiatan, dan waktu pelaksanaan.
Satuan pendidikan juga dapat melibatkan masyarakat setempat dan atau dunia kerja dalam merancang dan melaksanakan proyek ini.
Salah satu inovasi yang ada di Kurikulum Merdeka ini juga berpijak dari kesadaran bahwa mempelajari hal-hal di kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan kepekaan dan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya.
Meski begitu, masih banyak Satuan Pendidikan yang mengalami kesulitan dan kebingungan dalam menyusun P5 yang tidak lama lagi harus segera diterapkan di tahun ajaran baru.
Itu sebabnya, Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kota Bandung menggelar Temu Pendidik Daerah (TPD) 37 di Kota Bandung pada Minggu, 9 Juni 2024 dengan topik bahasan "Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan dan Penyusunan P5".
Acara akan digelar di SDN 268 Panyileukan di Komplek Bumi Panyileukan, Jl. Bangkit 1 Blok G 15 No 23, Cipadung Kidul, Kota Bandung.
Istimewanya, narasumber dalam Kelas Sharing ini akan menghadirkan langsung praktisi pengajar yaitu Astri Winarti Widiastuti dari SDN 260 Griya Bumi Antapani Bandung yang akan mengemukakan topik "Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan".
Selain itu ada juga Tri Sila Indriyani dari SDN 268 Panyileukan yang akan membeberkan perihal "Mengemas P5 Secara Merdeka (Menarik, Esensial, Reflektif, DInamis, Efektif, Kontekstual, Akuntabel)".
Astri Winarti Widiastuti menyampaikan, dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan idealnya melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti komite satuan pendidikan, orang tua, organisasi, sentra, industri, dan dunia kerja.
"Mengapa begitu, karena dengan melibatkan stake holder itu proses pengembangan kurikulum satuan pendidikan diharapkan dapat memunculkan rasa kepemilikan dan gotong royong dalam menyukseskan pelaksanaan kurikulumnya," jelas perempuan yang akrab dipanggil Acy itu.
Acy juga menyampaikan, melalui TPD 37 ini akan dipaparkan mulai dari mengatur alokasi waktu pembelajaran tatap muka seluruh mata pelajaran wajib dan pilihan hingga proses evaluasi.
Ia menegaskan, untuk mengembangkan kurikulum di satuan pendidikan, semangat kolaboratif menjadi langkah awal.
Prinsip lainnya adalah sudut pandang yang harus menyeluruh (holistik) saat melakukan perancangan, selain juga kontekstual, ekploratif dan ujung-ujungnya berpusat pada peserta didik.
"Prinsipnya, sekolah harus mengembangkan kurikulum sesuai potensinya. Ini adalah suatu model pengembangan kurikulum berbasis sekolah," jelas Acy kepada pojoksatu.id, Kamis (6/6/2024).
Untuk memahami lebih jauh, Kelas Sharing dalam Temu Pendidik Daerah (TPD) 37 di Kota Bandung ini penting untuk diikuti para pendidik.
Untuk itu, pendaftaran dapat dilakukan segera melalui link: bit.ly/TPD37BDG. Peserta tak hanya akan mendapatkan ilmu yang keren, tetapi juga memperoleh e Sertifikat dengan total 4JP dan dapat memperluas relasi guru.
Terpisah, Tri Sila Indriyani mengingatkan bahwa P5 merupakan serangkaian kegiatan untuk mencapai sebuah tujuan tertentu dengan cara menelaah suatu tema menantang.
"Jadi, kita akan mengemas secara fleksibel P5 dari segi muatan, kegiatan, dan waktu pelaksanaan. Bahkan saat menyusun P5 nanti, tidak harus dikaitkan dengan tujuan dan materi pelajaran intrakurikuler," ungkap Tri saat dihubungi pojoksatu.id.
Meski demikian, dalam perencanaan dan pelaksanaannya tentu saja tenaga pendidik tetap harus dapat merancang kegiatan P5 secara sistematis dan terstruktur untuk memudahkan pelaksanaannya.
Harapannya, pencapaian P5 dapat melengkapi dan menguatkan kemampuan peserta didik yang didapatkan dalam program intrakurikuler.
Tri juga memberi kisi-kisi, P5 sebenarnya didesain agar peserta didik dapat melakukan investigasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.
Nantinya peserta didik bekerja dalam periode waktu yang telah dijadwalkan untuk menghasilkan produk dan atau aksi tertentu.
Tri juga menyampaikan, pengemasan P5 dalam pembelajaran akan menjadi sesuatu yang menarik. "Nanti deh kita jelaskan lebih jauh. Kita sama-sama diskusi dan hadir ya biar lebih seru," imbuhnya. ***




