POJOKSATU.id - Gelombang ketidakpuasan dari peserta PPG Prajabatan 2025 semakin menguat setelah banyak yang merasa bahwa aspirasi mereka tidak pernah didengarkan oleh penyelenggara.
Kritik keras muncul dari akun Instagram @awan_kci.068, yang menilai bahwa meski peserta telah berkali-kali menyampaikan keluhan, tidak ada respons maupun upaya perbaikan yang tampak.
Dalam komentarnya, ia menyebut bahwa sistem yang berjalan seperti tutup mata, tutup telinga, bahkan tutup hati.
Baca Juga: Nilai Kerugian Padang Tembus Rp 202,8 Miliar, 4 Jembatan Putus, Kota Lumpuh!
Keluhan ini mencerminkan rasa frustrasi peserta terhadap pola komunikasi yang dinilai tidak transparan, tidak responsif, dan jauh dari standar pelayanan publik yang profesional.
Kritik ini juga menunjukkan adanya masalah sistemik yang perlu diperbaiki segera.
Peserta Merasa Aspirasi Mereka Tidak Pernah Didengar
Dalam komentarnya, peserta menegaskan bahwa suara mereka di kolom komentar seakan tidak dianggap penting oleh penyelenggara.
Baca Juga: Tarif Rp 3.000, Tapi Ribet? Kereta Petani Pedagang Tuai Kontroversi di Hari Pertama!
Mereka merasa berbicara di ruang yang sepi.
Berulang kali menyampaikan aspirasi, tetapi tidak ada tanggapan, penjelasan, ataupun klarifikasi dari pihak PPG.
Kondisi ini membuat peserta bertanya-tanya apakah proses seleksi yang sangat besar ini benar-benar memiliki mekanisme pemantauan masukan dari peserta.
Baca Juga: Syarat Wajib Lapor Diri PPG Guru Tertentu Tahap 5! Jangan Sampai Ada yang Terlewat
Mereka menilai bahwa akun resmi PPG seharusnya menjadi wadah komunikasi dua arah, bukan sekadar media unggahan visual tanpa interaksi.
Ketika aspirasi tidak didengar, peserta merasa hak mereka diabaikan.
Penyelenggara Dianggap Tutup Mata dan Tutup Telinga
Peserta menyebut bahwa penyelenggara hanya menampilkan citra profesional, tetapi tidak menunjukkan profesionalitas melalui tindakan nyata.
Kalimat tutup mata, tutup telinga, sampai tutup hati menggambarkan kekecewaan peserta yang merasa penyelenggara enggan menerima kritik.
Baca Juga: FIFGROUP Dorong Inklusi Keuangan Lewat Layanan One Stop Financial Solution Astra Financial
Peserta menilai bahwa kondisi ini berbahaya karena menunjukkan sistem yang tidak mau berbenah meskipun banyak masalah muncul secara berulang.
Mereka juga menyebut bahwa kritik sering kali hanya diabaikan, tanpa ada penjelasan atau tindak lanjut.
Hal ini memunculkan kesan bahwa penyelenggara tidak benar-benar memperhatikan kebutuhan dan situasi peserta.
Tudingan Peserta, Respon Muncul Hanya Jika Sudah Viral
Dalam kritiknya, peserta menyindir bahwa pihak penyelenggara baru akan bergerak jika keluhan peserta sudah viral atau menjadi sorotan publik.
Mereka menilai bahwa budaya menunggu masalah menjadi besar sebelum ditangani menunjukkan lemahnya sistem monitoring dan evaluasi internal.
Peserta menyebut pola ini sebagai ketar-ketir setelah viral, sebuah sindiran terhadap lambatnya respons penyelenggara terhadap aspirasi.
Jika sistem seleksi benar-benar profesional, peserta menilai keluhan kecil pun harusnya ditanggapi sebelum berubah menjadi polemik besar.
Kondisi ini memperlihatkan adanya jarak komunikasi yang lebar antara peserta dan penyelenggara.
Peserta Diminta Profesional, Tapi Sistem Dinilai Berantakan
Salah satu sorotan terbesar peserta adalah inkonsistensi antara tuntutan dan realitas.
Peserta diminta tampil profesional, disiplin, dan patuh pada aturan.
Namun mereka menilai sistem PPG sendiri berjalan dengan tidak tertib.
Pengumuman sering larut malam, hasil tes molor, dan klarifikasi tak pernah diberikan.
Peserta menyebut bahwa bagaimana mereka bisa dididik menjadi guru profesional jika sistem yang mendidik mereka tidak memberikan contoh profesionalisme.
Kritik ini menjadi catatan penting bahwa kualitas proses seleksi sangat menentukan kualitas guru yang dihasilkan.
Minimnya Evaluasi Membuat Peserta Merasa Tidak Dianggap
Peserta menilai bahwa penyelenggara terlihat tidak melakukan evaluasi, meskipun keluhan peserta muncul berulang kali dari gelombang ke gelombang.
Baca Juga: FIFGROUP Dorong Inklusi Keuangan Lewat Layanan One Stop Financial Solution Astra Financial
Mereka menyebut bahwa sistem yang tidak pernah berubah mencerminkan kurangnya keseriusan penyelenggara dalam memperbaiki proses seleksi.
Banyak peserta berharap kritik mereka dapat digunakan sebagai bahan evaluasi, bukan diabaikan begitu saja.
Namun ketika tidak ada respons, peserta merasa kehadiran mereka hanya formalitas di atas kertas.
Minimnya evaluasi membuat peserta merasa tidak dianggap sebagai bagian dari proses yang seharusnya inklusif.
Suara Peserta Menjadi Penting Untuk Perbaikan Sistem PPG
Di tengah kritik yang keras, peserta berharap suara mereka dapat dijadikan bahan perbaikan penyelenggaraan PPG ke depan.
Mereka menilai bahwa sistem yang baik bukanlah sistem yang sempurna, tetapi sistem yang mau mendengar, mau menerima masukan, dan mau berbenah.
Peserta percaya bahwa jika penyelenggara lebih responsif terhadap keluhan, proses seleksi dapat berjalan lebih transparan, ringkas, dan manusiawi.
Dengan mendengarkan aspirasi peserta, penyelenggara dapat memperbaiki citra PPG sekaligus meningkatkan kepercayaan calon guru terhadap institusi pendidikan nasional.***




