POJOKSATU.id - Polemik integritas penerima beasiswa negara kembali menjadi sorotan publik.
Stella Christie menegaskan bahwa dana pendidikan dari negara merupakan “utang budi” yang wajib dibayar melalui pengabdian kepada bangsa.
Pernyataan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi itu muncul menyusul kegaduhan di media sosial terkait oknum alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS yang menuai kritik publik.
Baca Juga: Peminat SNBP 2026 Melejit, Unesa Diserbu 53 Ribu Pendaftar, Ini Prodi Terfavorit dan Paling Ketat
Alumni tersebut menjadi perbincangan setelah menyatakan enggan menurunkan status Warga Negara Indonesia kepada anak-anaknya.
Bukan Sekadar Administrasi, Tapi Moral
Stella menilai polemik ini bukan sekadar persoalan administrasi kewarganegaraan, melainkan cerminan rapuhnya pendidikan moral.
Ia menegaskan bahwa beasiswa negara kerap disalahartikan sebagai fasilitas hidup, bukan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Baca Juga: Universitas Muhammadiyah Lamongan: UMLA Kampus Inovatif, Profesional dan Islami di Jawa Timur
“Kontroversi ini mencerminkan kegagalan pendidikan moral sejak dini. Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas,” ujarnya kepada awak media, Senin (23/2/2026).
Menurut Stella, memperketat regulasi atau menambah lapisan birokrasi bukanlah solusi utama.
Ia menilai aturan yang terlalu mengekang justru berpotensi mendorong penerima beasiswa mencari celah hukum untuk menghindari kewajiban kembali ke Indonesia.
Baca Juga: Jumlahnya Puluhan Ribu! Ini 5 Pesantren Terbesar di Indonesia, Santrinya Bikin Melongo
Sebagai guru besar di bidang ilmu kognitif, Stella menawarkan pendekatan alternatif untuk menumbuhkan nasionalisme di kalangan pelajar Indonesia di luar negeri.
Empati dan Identitas Nasional
Ia menyarankan agar para penerima beasiswa fokus pada dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar kontribusi pada institusi yang bersifat abstrak.
“Fokuslah pada bagaimana Anda bisa bermanfaat bagi individu di Indonesia. Pendekatan ini membuat empati lebih kuat dan nalar lebih tajam,” tuturnya.
Baca Juga: Maling Gas 3 Kg Apes di Mantrijeron, Belum Sempat Kabur Sudah Disergap Pemilik Rumah Pakai Stik Golf
Selain pengabdian profesional, Stella juga menekankan pentingnya menjaga identitas nasional melalui bahasa.
Ia mengimbau keluarga Indonesia yang tinggal di luar negeri untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan, ia mencontohkan praktik di keluarganya sendiri. Suaminya yang berasal dari Polandia tetap diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia di rumah.
Baca Juga: Mengenal Trading Kripto untuk Pemula, Simak Panduan Lengkapnya
Menurutnya, kemampuan berbahasa Indonesia bukanlah beban, melainkan kekuatan identitas yang dapat menjadi keunggulan di masa depan.
Polemik ini membuka diskusi luas tentang integritas penerima beasiswa negara dan tanggung jawab moral mereka. ***




