POJOKSATU.id - Sebagai upaya mendukung pertanian padi yang lebih efisien dan berkelanjutan, mahasiswa KKNT IPB University menyelenggarakan kegiatan sosialisasi alat Alternate Wetting and Drying (AWD) di Aula Kelompok Tani Srimekar pada Kamis, 30 Juli 2026, pukul 14.00–15.00 WIB.
Kegiatan ini turut memperkenalkan pemanfaatan produk hayati serta cara pengukuran pH tanah kepada para petani. Acara ini diikuti oleh 24 petani dari dua kelompok tani, yaitu Srimekar dan Srijaya.
Sejak awal sesi, para petani terlihat antusias dan menyimak setiap penjelasan dengan seksama pertanda bahwa isu efisiensi air dan kesehatan lahan memang menjadi perhatian mereka sehari-hari.
AWD atau Alternate Wetting and Drying adalah sistem pengairan dan pengeringan bergantian yang menerapkan prinsip pengairan sawah secara bergantian antara kondisi tergenang dan tidak tergenang.
Metode ini dinilai efektif diterapkan terutama pada lahan dengan ketersediaan air terbatas, sekaligus membawa sejumlah manfaat lain seperti memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan, menekan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah, hingga mengurangi serangan hama tertentu seperti penggerek batang.
Penerapannya dilakukan dengan memasang tabung atau pipa AWD berukuran 30 cm di lahan sawah yang tergenang air, di mana petani cukup memantau ketinggian air pada kedalaman 15 cm di bawah permukaan tanah melalui pipa tersebut untuk menentukan waktu pengairan selanjutnya.
Baca Juga: Kalah Pamor dan Terbelit NPL, DPRD Dorong Transformasi BPR Bandung demi Sokong UMKM
Materi mengenai AWD ini disampaikan oleh Hamid Ali Mukti, yang menjelaskan konsep dasar alat ini serta manfaatnya sebagai sistem irigasi hemat air bagi petani.
Selain AWD, kegiatan ini juga diisi dengan dua materi pendukung. Eisya Putri Ari Yani membawakan materi mengenai pemanfaatan produk hayati untuk menjaga kesuburan tanah, sementara Rima Sri Wahyuni memperkenalkan cara pengukuran pH tanah sebagai indikator kondisi lahan.
Ketiga materi ini saling melengkapi dalam mendukung tujuan besar kegiatan, yaitu membantu petani mengelola lahan secara lebih efisien tanpa mengorbankan produktivitas.
Salah satu momen menarik dari kegiatan ini adalah sesi diskusi interaktif. Bukan hanya mahasiswa yang menyampaikan materi, para petani juga turut berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi sehari-hari dalam mengelola lahan sawah.
Suasana diskusi berlangsung hangat dan dua arah, menjadikan kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan satu arah, melainkan ruang bertukar pengetahuan antara mahasiswa dan petani.
Kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi saja. Sebagai tindak lanjut, tim KKN membagikan alat AWD kepada ketua masing-masing kelompok tani, dilengkapi dengan video tutorial mengenai cara membuat serta memasang alat AWD di lahan sawah.
Harapannya, kelompok tani Srimekar dan Srijaya dapat menerapkan metode ini secara mandiri, bahkan membagikan ilmunya untuk anggota yang lain di kemudian hari.
Melalui sosialisasi ini, mahasiswa KKNT IPB berharap petani Desa Ciptamargi dapat lebih memahami dan menerapkan inovasi pertanian (seperti AWD) di lahan mereka masing-masing.
Lebih dari sekadar penghematan air, kegiatan ini diharapkan mendorong lahirnya inovasi-inovasi baru dalam pengawasan dan pengembangan lahan sawah, sehingga produktivitas pertanian di Desa Ciptamargi dapat terus meningkat secara berkelanjutan.



