POJOKSATU.ID - Seiring meningkatnya antusiasme terhadap program Pembelajaran Mendalam, salah satu praktisi pendidikan Djohan Yoga mengungkapkan rasa khawatirnya terhadap narasumber (narsum) yang terlibat.

Melalui akun Facebooknya, Djohan Yoga mengungkapkan bahwa penting untuk meluruskan persepsi dan memastikan bahwa narsum yang terlibat benar-benar memiliki kompetensi yang relevan dan tersertifikasi.

Baca Juga: Gardu Induk Kanci Raih Sertifikat Laik Operasi, Keandalan Listrik Cirebon Meningkat

"Tanpa mengurangi rasa hormat kepada teman-teman yang selama ini menjadi narsum dalam berbagai Webinar, Seminar dll, untuk saat ini yang "memiliki kompetensi" dalam Pembelajaran Mendalam adalah:
1. Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam - TPPM
2. Narasumber Nasional Pembelajaran Mendalam.
3. Praktisi/Ahli Pendidikan yg selama ini sudah mendalami Deep Learning bahkan sudah tersertifikasi." tulis Djohan Yoga dikutip Selasa (27/5/2025).

Menurutnya, langkah tersebut diambil guna menghindari miskonsepsi yang semakin sering terjadi, yang tidak hanya membingungkan peserta pelatihan.

Baca Juga: PRANK NASIONAL Siapa Bilang PPG Guter 2025 Ada 5 Modul? Faktanya TETAP 3 cuma 1 Modul yang Sama, Gak Bisa ATM JURNAL PEMBELAJARAN Tahun Sebelumnya

Tetapi juga dapat berdampak negatif terhadap implementasi program PM, khususnya menjelang pelaksanaan Training of Trainers (TOT) yang akan dimulai pada bulan Juni 2025.

Terdapat kekhawatiran bahwa beberapa pihak yang hanya mengandalkan sertifikat Narasumber Mikro (Nasmik), tanpa pemahaman mendalam, kurang layak untuk mengisi peran sebagai narsum Pembelajaran Mendalam.

"Pihak-pihak yang hanya mengandalkan Nasmik rasanya "kurang layak" jadi Narsum untuk PM sebab banyak hal-hal yang perlu diperdalam agar tidak terjadi: "Mempelajari Deep Learning tapi secara Surface Learning." tulisnya lagi.

Baca Juga: Kecelakaan di Perlintasan Magetan: Penjaga Palang Pintu KA Malioboro Resmi Ditetapkan Sebagai Tersangka

Menurut Djohan Yoga, Pembelajaran Mendalam penting bagi guru, karena membawa perubahan mendasar dalam cara mengajar, berpikir, dan memfasilitasi pembelajaran siswa. B

Maka, ia juga meminta maaf jika postingannya tersebut kurang berkenan.

Hal ini dikhawatirkan akan mengarah pada kondisi "belajar Deep Learning dengan pendekatan Surface Learning", yang tentunya bertentangan dengan esensi dari program tersebut.

Baca Juga: Sosok Setia Budi Tarigan, Disebut Ayah Christiano Pengarapenta Penabrak Mahasiswa UGM Punya Jabatan Strategis

"Sekian dan mohon maaf bila ada yang tidak berkenan." tutupnya.

Untuk diketahui Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning, membantu guru menjadi agen perubahan.

Baca Juga: Panitia SNPMB 2025 Umumkan Hasil Seleksi Nasional SNBT, Cek Para Peserta yang Lolos

Guru yang memahami dan menerapkannya akan membentuk siswa yang berpikir kritis dan mandiri, menciptakan pembelajaran yang relevan dan bermakna, dan berkontribusi pada peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh. ***