POJOKSATU.id — Bukan sekadar mengajarkan baca tulis. Saur Marlina 'Butet' Manurung memulai perjuangannya mendirikan Sokola Rimba atau Sekolah Rimba pada tahun 2003.
Tujuannya membangun pendidikan yang membebaskan dan menghormati budaya masyarakat adat Orang Rimba.
Sebagai antropolog dan pendidik, Butet menyaksikan bagaimana program modernisasi sering kali tidak menghormati cara hidup komunitas adat.
“Bukan itu yang Orang Rimba inginkan,” kata Butet dalam wawancaranya dengan Green Network.
Alih-alih memaksa anak-anak adat bersekolah dalam gedung, Butet justru mendekat ke komunitas.
Ia tinggal bersama mereka, belajar adat, dan mulai mengajar menggunakan metode sederhana.
“Aku harus tinggal bersama mereka, tidak sekadar datang sesekali. Mereka bilang: ‘Kalau kamu mau mengajar anak-anak kami, kamu harus bersumpah dulu bahwa kamu tidak akan menjual mereka, tidak akan merusak mereka," ungkap Butet Manurung.
Ia tidak datang membawa kurikulum siap pakai. "Saya mulai dari kebutuhan mereka... bukan dari silabus."
Metode Sokola menyisipkan pelajaran yang relevan: membaca untuk memahami hak, menulis untuk advokasi, berhitung untuk jual beli yang adil, dan bahkan pemetaan wilayah dengan GPS.
Tujuannya bukan mengejar ijazah, melainkan mempertahankan martabat dan hak hidup komunitas adat.
Baca Juga: DPR RI Soroti Perbedaan Kebijakan Study Tour di Jawa Barat
Butet menolak model pendidikan yang memaksa penyeragaman budaya.
“Banyak sekolah masyarakat adat di Indonesia ini yang tidak membolehkan muridnya pakai bahasa daerah. Bahasa lokal dianggap tidak berguna, padahal itu identitas,” lanjutnya.
Dalam pandangannya, pendidikan seharusnya menyatu dengan budaya, bukan menggantikannya.
Ia menekankan bahwa pendidikan untuk masyarakat adat harus berdasarkan kesepakatan dan partisipasi komunitas.
“Saya nggak datang dengan niat menyelamatkan siapa-siapa,” ujar Butet.
“Saya datang karena saya diajak. Karena mereka butuh, dan kami ngobrol, lalu kami bikin sistem bersama.”
Program Sokola berkembang. Murid-muridnya mendirikan Kelompok Makekal Bersatu, berhasil memetakan wilayah adat mereka, dan memperjuangkan pengakuan pemerintah selama lebih dari satu dekade.
Tahun 2016, Sokola berkembang menjadi Sokola Institute dan kini telah menjangkau 17 komunitas adat dari Papua, Halmahera, Flores, hingga Sumba.
“Kami sudah menjangkau lebih dari 15.000 orang masyarakat adat,” kata Butet dengan bangga.
Bagi Butet, pendidikan tidak hanya soal angka atau kelulusan. Ia adalah soal eksistensi dan keberlanjutan identitas.
“Saya percaya, masyarakat adat punya hak menentukan bentuk pendidikan mereka sendiri,” pungkasnya.***
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami di bawah ini:
Versi Android: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.promedia.pojoksatu
versi iOS: https://apps.apple.com/app/pojok-satu/id6670306141
Channel Whatsapp: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaizUTRDjiOXHsJCgQ2E
Fanpage edugov: https://www.facebook.com/profile.php?id=61575904868212



