POJOKSATU.id - Tes Kemampuan Akademik (TKA) Teknik Kimia Industri merupakan instrumen penilaian untuk mengukur penguasaan keilmuan dasar murid dalam memahami, menerapkan, dan menganalisis konsep dasar Teknik Kimia Industri.
Materi yang diujikan meliputi wawasan kerja bidang Teknik Kimia Industri, proses produksi pada industri kimia, kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan hidup (K3LH), serta penguasaan ilmu kimia dan mikrobiologi.
Muatan TKA Teknik Kimia Industri merujuk pada elemen atau materi kurikulum yang terdapat dalam Capaian Pembelajaran pada Salinan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 046/H/KR/2025.
Baca Juga: Soal TKA SMK 2026 Pusmendik, Kimia Analisis, Materi Budaya Kerja hingga Mikrobiologi
Materi TKA Teknik Kimia Industri
Muatan TKA tersebut mencakup beberapa elemen dan subelemen, yaitu:
-
Wawasan Kerja Bidang Teknik Kimia Industri, meliputi proses bisnis industri kimia, perkembangan teknologi dan isu-isu global di dunia industri kimia, profesi, kewirausahaan, serta peluang usaha di bidang kimia industri.
-
Kecakapan Kerja Dasar (basic job skill), K3, dan Budaya Kerja, meliputi teknik dasar pekerjaan laboratorium kimia, K3LH, dan budaya kerja industri.
-
Dasar Kimia, meliputi kimia organik dasar dan kimia anorganik dasar.
-
Dasar Mikrobiologi, meliputi prinsip mikrobiologi dan teknik sterilisasi.
-
Teknik Dasar Pekerjaan Laboratorium, meliputi penggunaan peralatan dan analisis dasar laboratorium.
Baca Juga: Menteri Purbaya Angkat Bicara Soal Rencana Kenaikan Gaji Guru 2027, Simak Penjelasannya
TKA Teknik Kimia Industri bertujuan mengukur kemampuan teknis dan analisis dalam membentuk kompetensi hard skills, soft skills, dan karakter murid pada bidang teknik kimia industri.
Kemampuan tersebut mencakup pengetahuan dasar proses kimia, perhitungan neraca massa dan energi, pengoperasian alat laboratorium kimia, analisis kontrol kualitas, serta aspek keselamatan kerja K3LH.
Tiga Level Kognitif TKA
Kemampuan Teknik Kimia Industri diukur melalui tiga level kognitif.
1. Pengetahuan dan Pemahaman
Mengukur kemampuan murid dalam menjelaskan konsep dasar proses bisnis industri, ragam profesi, prinsip dasar kimia dan mikrobiologi, serta simbol keselamatan kerja K3LH.
2. Aplikasi (Applying)
Mengukur kemampuan murid dalam menerapkan penggunaan peralatan laboratorium, teknik sterilisasi, analisis titrimetri dan gravimetri, serta perhitungan stoikiometri pada tugas operasi.
Baca Juga: Viral di Media Sosial, Pria di Pelabuhan Aimere Sempat Peringatkan Warga Sebelum Gempa Flores
3. Penalaran (Reasoning)
Mengukur kemampuan murid dalam menganalisis data hasil uji laboratorium, mengevaluasi efektivitas proses, serta merancang solusi pengelolaan limbah untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks industri.
Kemampuan teknik dan analisis dalam setiap cakupan subelemen dapat diukur dalam satu atau beberapa level kognitif. Setiap level kognitif mencakup beberapa proses berpikir.
Soal Nomor 1
Kompetensi: Menjelaskan bisnis menyeluruh di bidang kimia industri
Sub Kompetensi: Proses Bisnis Industri Kimia
Bentuk Soal: Pilihan Ganda (PG)
Kunci:
Dalam industri manufaktur pembuatan amonia (NH₃), seluruh tahapan produksi harus disusun secara sistematis guna menjamin efisiensi proses dan kualitas produk akhir.
Manakah urutan berikut yang paling tepat dalam menggambarkan alur proses bisnis produksi pada industri kimia tersebut?
A. Pemasaran → Pengadaan bahan baku → Reaksi sintesis → Pengemasan
B. Persiapan bahan baku → Reaksi sintesis → Pemisahan/Pemurnian → Penyimpanan & Distribusi
C. Pemurnian produk → Pengadaan katalis → Penjualan → Penanganan limbah
D. Reaksi kimia → Pembersihan area kerja → Persiapan bahan baku → Distribusi
E. Pengemasan → Reaksi sintesis → Pengadaan bahan baku → Pemasaran
Soal Nomor 2
Kompetensi: Menjelaskan dan menganalisis isu aktivitas bidang kimia industri yang berdampak pada perubahan iklim
Sub Kompetensi: Perkembangan Teknologi dan Isu-Isu Global di Dunia Industri Kimia
Bentuk Soal: Pilihan Ganda (PG)
Kunci:
Sebuah perusahaan industri kimia sedang melakukan pengembangan produk kemasan plastik berbasis polimer baru.
Dalam analisis Life Cycle Assessment (LCA) atau siklus hidup produk, ditemukan bahwa tahap ekstraksi bahan baku fosil dan tahap akhir masa pakai (end-of-life) melalui pembakaran sampah (incineration) memberikan kontribusi emisi karbon terbesar yang memperburuk perubahan iklim.
Berdasarkan isu tersebut, manakah strategi pengembangan produk yang paling tepat untuk meminimalkan dampak terhadap perubahan iklim di sepanjang siklus hidupnya?
Baca Juga: Jumlah Korban Meninggal Gempa NTT Bertambah, Kini 48 Orang, Terbanyak di Manggarai
A. Meningkatkan volume produksi pada tahap pertumbuhan (growth) untuk menurunkan harga jual tanpa mengubah komposisi bahan baku.
B. Mengalihkan bahan baku fosil ke polimer berbasis biomassa (bio-based) dan merancang produk agar dapat didaur ulang secara mekanik maupun kimia.
C. Memperpanjang tahap kedewasaan (maturity) produk dengan menambah varian warna pada kemasan plastik yang sulit dipisahkan saat proses daur ulang.
D. Mengurangi penggunaan energi pada tahap distribusi, namun proses manufaktur tetap menggunakan energi tinggi dari batubara.
E. Menghentikan pengembangan produk baru dan beralih menggunakan kemasan kertas sekali pakai sehingga tidak perlu mempertimbangkan jejak air dalam proses produksinya.
Baca Juga: Keren! Enam Siswa SMAN 1 Karawang Lolos Paskibraka 2026, Satu Orang Tembus Level Jabar
Soal Nomor 3
Kompetensi: Memahami, menerapkan, dan mengevaluasi teknik dasar analisis mikrobiologi dan pembuatan media
Sub Kompetensi: Prinsip Mikrobiologi
Bentuk Soal: PGK Kategori
Kunci: A. Benar, B. Benar, C. Salah
Dalam persiapan pembuatan media Skim Milk Agar (SMA) di laboratorium, seorang praktikan harus menyiapkan alat dan bahan secara sistematis.
Prosedur dimulai dengan mencuci bersih peralatan gelas, menyiapkan larutan susu skim secara terpisah dari larutan agar, serta menentukan metode sterilisasi yang tidak merusak kandungan nutrisi.
Mengingat sifat protein susu yang termolabil atau sensitif terhadap panas, kesalahan dalam pemilihan teknik sterilisasi dapat menyebabkan koagulasi atau caramelization.
Berdasarkan prosedur penyiapan tersebut, tentukan apakah pernyataan mengenai teknik sterilisasi berikut Benar atau Salah!
Baca Juga: BMKG Beberkan Penyebab Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Simalungun Sumut, Jenis Tektonik
A. Teknik Tyndalisasi, yaitu pemanasan uap 100°C selama 30 menit dalam tiga hari berturut-turut, dapat diaplikasikan pada media susu untuk membunuh sel vegetatif dan spora tanpa merusak struktur protein secara ekstrem.
Jawaban: Benar
B. Sterilisasi alat gelas seperti erlenmeyer dan cawan petri yang digunakan dalam pembuatan media ini paling tepat dilakukan menggunakan oven pada suhu 170°C selama 2 jam sebelum media dimasukkan.
Jawaban: Benar
C. Penggunaan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit adalah metode tercepat dan paling aman untuk mensterilkan larutan susu karena tekanan tinggi dapat mencegah terjadinya denaturasi protein.
Jawaban: Salah
Baca Juga: Hari Damai Aceh Berujung Ricuh, Bendera Bulan Bintang Berkibar di Halaman Masjid Raya Baiturrahman
Soal Nomor 4
Kompetensi: Memahami, menerapkan, dan mengevaluasi sterilisasi basah dan kering, serta analisis angka lempeng total pada koliform, kapang, khamir, dan pewarnaan bakteri
Sub Kompetensi: Teknik Sterilisasi
Bentuk Soal: PGK Kategori
Kunci: A. Benar, B. Salah, C. Benar
Dalam praktikum mikrobiologi industri, seorang murid melakukan isolasi bakteri menggunakan metode tuang (pour plate).
Setelah proses sterilisasi media menggunakan autoklaf, siswa tersebut langsung menuangkan media agar ke dalam cawan petri yang telah berisi sampel atau inokulum saat suhu media masih berada di atas 60°C.
Berdasarkan informasi tersebut, tentukan apakah pernyataan-pernyataan berikut Benar atau Salah terkait kemungkinan hasil yang akan diperoleh.
Baca Juga: HUT ke-81 RI di Kota Tua Jakarta, Ini Jadwal Gegap Gempita Kota Tua 81 dan Cara Menontonnya
A. Jumlah koloni yang tumbuh akan sangat sedikit atau bahkan tidak ada karena sel bakteri mengalami kematian akibat paparan suhu yang terlalu tinggi.
Jawaban: Benar
B. Bakteri akan tumbuh lebih cepat dan membentuk koloni yang lebih besar karena suhu media yang hangat menstimulasi metabolisme mikroba secara ekstrem.
Jawaban: Salah
C. Media agar tetap akan memadat saat mencapai suhu ruang, namun efektivitas isolasi bakteri tersebut dianggap gagal karena faktor biotik yang rusak.
Jawaban: Benar
Baca Juga: Dari Medan Hingga Banda Aceh, Berikut Daftar Wilayah Terdampak Guncangan Gempa Simalungun
Soal Nomor 5
Kompetensi: Mengidentifikasi, menganalisis, dan menerapkan Kimia Organik dasar untuk menyelesaikan permasalahan di bidang industri kimia
Sub Kompetensi: Kimia Organik Dasar
Bentuk Soal: PGK MCMA
Kunci: Pernyataan 1, Pernyataan 2, dan Pernyataan 4
Sebuah pabrik asam sulfat (H₂SO₄) menggunakan metode Proses Kontak dengan bahan baku belerang (S) murni.
Dalam operasionalnya, pabrik tersebut menghadapi beberapa tantangan teknis. Unit pembakaran belerang menghasilkan gas buang yang berbau menyengat, terjadi penurunan efisiensi pada reaktor oksidasi katalitik V₂O₅ akibat suhu yang tidak terkontrol, serta adanya laporan warga mengenai fenomena korosi yang lebih cepat pada bangunan seng di sekitar pabrik setelah turun hujan.
Tim lingkungan hidup perusahaan juga sedang meninjau sistem penyerapan (absorber) untuk memastikan gas SO₃ terserap sempurna ke dalam H₂SO₄ pekat.
Berdasarkan studi kasus tersebut, manakah analisis yang tepat mengenai proses kimia dan dampaknya bagi lingkungan?
Baca Juga: Pelatih Paskibraka Tambah Porsi Latihan di Lapangan Istana Pasca Evaluasi Gladi Kotor
Jawaban benar lebih dari satu.
-
Bau menyengat dari gas buang merupakan indikasi adanya gas belerang dioksida (SO₂) yang terlepas ke udara, yang secara kimiawi dapat bereaksi dengan uap air di atmosfer membentuk hujan asam.
-
Kerusakan bangunan seng di sekitar pabrik disebabkan oleh reaksi antara logam seng dengan air hujan yang bersifat asam, menghasilkan garam sulfat dan gas hidrogen melalui proses korosi.
-
Gas SO₃ hasil oksidasi harus diserap langsung ke dalam air murni, bukan asam pekat, untuk mencegah terbentuknya kabut asam sulfat yang sulit dikondensasi dan berbahaya bagi kesehatan pernapasan.
-
Penurunan efisiensi pada reaktor oksidasi dapat memicu peningkatan emisi gas SO₂ ke lingkungan karena reaksi pembentukan SO₃ bersifat eksoterm yang memerlukan kontrol suhu agar kesetimbangan tidak bergeser ke arah reaktan.
-
Gas karbon monoksida (CO) adalah produk sampingan utama dari proses pembakaran belerang yang menyebabkan pengikatan hemoglobin dalam darah pekerja di area reaktor.
Baca Juga: Usai Gempa Dahsyat di NTT Pagi Hari, Sumatera Utara Diguncang M 6,4 Petang Ini
Soal Nomor 6
Kompetensi: Mengidentifikasi, menganalisis, menghitung, dan menerapkan Kimia Anorganik Dasar untuk menyelesaikan permasalahan di bidang industri kimia
Sub Kompetensi: Kimia Anorganik Dasar
Bentuk Soal: PGK MCMA
Kunci: Pernyataan 1, Pernyataan 3, dan Pernyataan 4
Dalam sebuah unit pemurnian logam di industri, sebuah sel elektrolisis digunakan untuk memurnikan tembaga kotor sebagai anode menjadi tembaga murni sebagai katode menggunakan larutan CuSO₄.
Di dalam tembaga kotor tersebut terdapat pengotor berupa logam perak (Ag) dan besi (Fe).
Data Potensial Reduksi Standar (E°):
Fe²⁺(aq) + 2e⁻ → Fe(s) E° = −0,44 V
Cu²⁺(aq) + 2e⁻ → Cu(s) E° = +0,34 V
Ag⁺(aq) + e⁻ → Ag(s) E° = +0,80 V
Agar proses pemurnian berjalan efisien dan menghasilkan tembaga dengan kemurnian tinggi di katode, analisislah pernyataan-pernyataan berikut dan pilihlah semua jawaban yang benar!
Baca Juga: Laman Resmi SSCASN Mulai Diperbarui Bukan CPNS Tapi Seleksi Sekolah Kedinasan 2026
Jawaban benar lebih dari satu.
-
Logam besi (Fe) dari tembaga kotor akan ikut teroksidasi menjadi ion Fe²⁺ di anode karena memiliki potensial reduksi yang lebih negatif daripada tembaga.
-
Logam perak (Ag) akan teroksidasi di anode dan mengotori lapisan tembaga murni di katode jika tegangan sel dinaikkan terlalu tinggi.
-
Lumpur anode yang mengendap di dasar sel kemungkinan besar mengandung logam perak (Ag) karena perak lebih sulit teroksidasi dibandingkan tembaga.
-
Ion Fe²⁺ yang berada di dalam larutan tidak akan mengendap di katode selama konsentrasi ion Cu²⁺ masih mencukupi, karena Cu²⁺ lebih mudah tereduksi.
-
Untuk meningkatkan efisiensi energi, tegangan luar yang diberikan harus diatur serendah mungkin namun tetap berada di atas ambang batas oksidasi tembaga dan besi secara bersamaan.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Simalungun Petang Ini, Getaran Terasa Hingga Aceh
TKA Teknik Kimia Industri tidak hanya menguji penguasaan teori, tetapi juga kemampuan murid dalam menerapkan konsep kimia pada persoalan nyata di dunia industri.
Melalui latihan soal ini, murid dapat mengasah kemampuan memahami proses bisnis industri kimia, menerapkan prinsip K3LH, menganalisis persoalan mikrobiologi, memahami reaksi kimia organik dan anorganik, serta mengambil keputusan berdasarkan data dan kondisi proses.
Penguasaan konsep, ketelitian dalam perhitungan, kemampuan membaca kondisi proses, dan kesadaran terhadap keselamatan serta lingkungan menjadi bekal penting bagi murid yang ingin mengembangkan kompetensinya di bidang Teknik Kimia Industri. ***




