POJOKSATU.id – Skor numerasi dan literasi remaja Indonesia dalam Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) 2022 kembali menjadi sorotan tajam.
Hasil terbaru menunjukkan penurunan skor rata-rata di bidang literasi membaca dan matematika dibanding periode sebelumnya.
Temuan ini memberi sinyal bahwa tantangan dalam sistem pendidikan nasional semakin kompleks.
Terutama setelah munculnya laporan nilai matematika Tes Kompetensi Akademik (TKA) SMA tahun 2025 yang banyak anjlok di berbagai daerah.
Dua indikator ini saling berkait dan memperkuat kekhawatiran bahwa fondasi dasar pendidikan Indonesia masih rapuh.
Baca Juga: Banjir Sumatra Meluas, Kementan Amran Sulaiman Kirim 32 Ribu Ton Beras dan 6.300 Ton Minyak Goreng
Temuan Utama PISA 2022, Skor Menurun Meski Peringkat Naik
Berdasarkan PISA 2022, rerata skor literasi membaca siswa Indonesia berusia 15 tahun hanya mencapai 359 poin, lebih rendah dari 371 poin pada 2018.
Di bidang numerasi atau matematika, skor 2022 berada di angka 366 poin, turun dari 379 poin pada 2018.
Sementara di sains, skor 2022 tercatat 383 poin, juga merosot dari 396 poin pada 2018.
Menariknya, meski skor turun, posisi Indonesia di peringkat internasional justru naik 5-6 tingkat.
Artinya, penurunan Indonesia relatif lebih kecil dibanding banyak negara lain pada periode pascapandemi.
Baca Juga: Peran Vital Kaca Spion untuk Keselamatan Berkendara Sepeda Motor
Namun tetap saja, tren penurunan skor menunjukkan adanya masalah fundamental yang belum selesai.
Mengapa Skor Numerasi dan Literasi Menurun? Learning Loss dan Ketimpangan Membaik Tapi Belum Pulih
Dampak pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebab utama penurunan hasil PISA 2022.
Pembelajaran jarak jauh yang berkepanjangan dan terbatasnya tatap muka membuat banyak siswa mengalami learning loss.
Meski beberapa sekolah berhasil beradaptasi, dampaknya tetap terasa.
Kemampuan memahami teks kompleks, memecahkan soal matematis, hingga berpikir kritis merosot.
Faktor sosial-ekonomi juga memengaruhi.
Baca Juga: IKN Belum Siap, ASN Masih Bertahan di Jakarta Meski Gibran Dikabarkan Mulai Tugas Tahun Depan
Siswa dari keluarga dengan pendapatan rendah dan akses pendidikan minim cenderung memiliki skor jauh di bawah rata-rata nasional.
Ketimpangan ini memperlebar jarak antardaerah, antarsekolah, dan antarkeluarga.
Korelasi dengan Nilai TKA SMA 2025 yang Jeblok, Fondasi Dasar Lemah, Dampaknya Terus Menular
Penurunan skor PISA 2022 kini menemukan relevansinya setelah muncul laporan nilai TKA SMA 2025 yang banyak jeblok.
Sejumlah daerah melaporkan dominasi nilai rendah pada mata pelajaran yang mengukur, di antaranya:
1. Kemampuan pemahaman bacaan,
2. Penalaran matematika,
3. Kemampuan sains dasar.
Hasil TKA 2025 menjadi bukti lanjutan bahwa masalah literasi dan numerasi tidak berhenti di level PISA.
Lemahnya kemampuan dasar siswa sejak SMP atau bahkan SD kini ikut naik hingga jenjang SMA.
Inilah yang disebut compounded learning loss.
Kecacatan pembelajaran yang tidak diperbaiki saat dini akan membesar seiring usia sekolah.
Karena itulah jebloknya nilai TKA SMA 2025 bukan kejutan, melainkan konsekuensi dari tren yang sudah dibaca sejak PISA 2018 dan ditegaskan lewat PISA 2022.
Implikasi Bagi Pendidikan Nasional, Alarm Serius Tentang Daya Saing
Penurunan skor PISA dan jebloknya nilai TKA SMA menunjukkan akar persoalan yang sama, yakni kemampuan dasar anak Indonesia tidak cukup kuat untuk menopang pembelajaran tingkat lanjut.
Jika literasi dan numerasi saja masih lemah, bagaimana siswa bisa menguasai materi abstrak seperti fisika modern, ekonomi, atau analisis data?
Kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kreativitas pun terhambat.
Dampaknya bukan hanya pada capaian sekolah, tetapi juga pada kesiapan generasi muda bersaing di dunia kerja global yang semakin menuntut kemampuan analitis.
Akar Masalah: Sistem, Kurikulum, hingga Kesiapan Lingkungan Belajar
Pandemi bukan satu-satunya penyebab. Beberapa di antaranya disebabkan oleh sebagai berikut.
1. Metode pembelajaran terlalu menekankan hafalan.
2. Kurikulum tidak menekankan literasi dan numerasi kontekstual.
3. Siswa jarang dilatih menyelesaikan soal berbasis situasi nyata.
4. Ketimpangan fasilitas sekolah antar daerah sangat besar.
5. Banyak guru belum mendapat pelatihan pengajaran berbasis kompetensi.
Semua faktor ini menjelaskan mengapa kemampuan dasar siswa lemah dan terus terbawa hingga jenjang SMA, seperti tercermin dalam hasil TKA 2025.
Penguatan Literasi dan Numerasi Sejak Dini Bukan Lagi Pilihan, tetapi Kebutuhan Mendesak
Hasil PISA 2022 dan nilai TKA SMA 2025 harus menjadi momentum untuk mendesain ulang pembelajaran nasional.
Pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua perlu fokus pada:
- penguatan literasi dan numerasi sejak SD,
- pembelajaran berbasis konteks dan pemecahan
masalah,
- pelatihan guru secara berkelanjutan,
- pemerataan akses sumber belajar,
- penyediaan buku bacaan dan modul numerasi aplikatif,
- evaluasi kurikulum agar benar-benar menumbuhkan kemampuan analitis.
Tanpa perbaikan radikal pada fondasi dasar ini, Indonesia akan terus mengulangi pola yang sama.
Skor internasional menurun, nilai ujian nasional jeblok, dan ketertinggalan kompetensi makin besar.
Generasi muda Indonesia membutuhkan bukan hanya standar, tetapi kesempatan dan kemampuan untuk mengejar masa depan yang semakin kompetitif. ***




