POJOKSATU.id - Simulasi Tes Kemampuan Akademik atau TKA menjadi salah satu tahapan yang perlu dipahami siswa, terutama peserta jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK yang akan mengikuti TKA 2026.
Bagi siswa, simulasi bukan sekadar kesempatan mencoba soal.
Tahapan ini juga berkaitan dengan kesiapan teknis satuan pendidikan sebelum TKA yang sebenarnya dilaksanakan.
Kemendikdasmen menetapkan simulasi TKA jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK berlangsung pada 21-27 September 2026.
Baca Juga: Beasiswa LPDP Fellowship Dokter Spesialis 2026 Dibuka November, Cek Syarat dan Link Pendaftarannya
Setelah itu, rangkaian persiapan dilanjutkan dengan gladi bersih pada 5-18 Oktober 2026.
Simulasi TKA merupakan uji coba sebelum pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik.
Dalam penyelenggaraan resmi, simulasi digunakan untuk memastikan kesiapan berbagai komponen yang diperlukan sebelum tes utama berlangsung.
Sederhananya, simulasi menjadi semacam latihan teknis berskala nasional.
Satuan pendidikan dapat menguji kesiapan perangkat komputer, jaringan internet, sistem, server, serta prosedur pelaksanaan yang nantinya digunakan ketika TKA sebenarnya digelar.
Kemendikdasmen sebelumnya menjelaskan bahwa simulasi dilakukan untuk menguji berbagai aspek teknis, termasuk kapasitas server, stabilitas jaringan dan respons sistem.
Karena itu, simulasi TKA perlu dibedakan dari TKA utama. Simulasi bukan pengganti TKA dan bukan pula penentu kelulusan siswa.
Baca Juga: Wapres Sampaikan Selamat ke Menkeu Suahasil Nazara, Mari Kita Jaga Stabilitas Ekonomi
Apa Tujuan Simulasi TKA?
Tujuan utama simulasi adalah memastikan pelaksanaan TKA dapat berjalan lancar dari sisi teknis maupun operasional.
Pada tahap ini, sekolah dapat mengetahui apakah perangkat komputer siap digunakan, koneksi internet memadai, sistem dapat diakses peserta dan prosedur pelaksanaan sudah berjalan sesuai ketentuan.
Simulasi juga memberi kesempatan kepada peserta untuk mengenali mekanisme pengerjaan tes berbasis komputer.
Siswa dapat terbiasa dengan tampilan soal, navigasi antarnomor, waktu pengerjaan hingga proses mengakhiri tes.
Baca Juga: PPDS RSPPU 2026 Batch 5 Dibuka, Cek 15 Prodi dan Jadwal Seleksinya
Secara lebih luas, TKA sendiri bertujuan memperoleh informasi capaian akademik murid yang terstandar.
Hasil TKA juga dapat mendukung kebutuhan seleksi akademik sekaligus memberikan informasi mengenai kekuatan dan kelemahan murid dalam bidang akademik.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menekankan pentingnya kesiapan data dan sistem dalam penyelenggaraan TKA.
Dalam penjelasan terkait pelaksanaan TKA 2026, Toni menyampaikan, “Kami ingin memastikan bahwa data yang digunakan dalam pelaksanaan TKA dan Asesmen Nasional benar-benar yang terbaru.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan data menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan asesmen berskala nasional.
Baca Juga: Mau Masuk SMA Taruna Nusantara Lewat Jalur Lomba? Ini Daftar Prestasi yang Diakui dan Syaratnya
Metode Simulasi TKA
Secara teknis, TKA diselenggarakan dengan metode berbasis komputer.
Simulasi mengikuti lingkungan pengerjaan yang dipersiapkan untuk pelaksanaan asesmen sebenarnya.
Pada simulasi yang tersedia melalui layanan resmi Pusmendik, peserta dapat masuk ke sistem, memilih jenjang dan mata pelajaran, kemudian mengisi data peserta sebelum memulai pengerjaan.
Tampilan simulasi menyediakan sejumlah fungsi, antara lain nomor soal, pengaturan ukuran huruf, penghitung waktu, daftar soal, konteks soal, pertanyaan dan pilihan jawaban.
Tersedia pula tombol soal sebelumnya, penanda ragu-ragu serta tombol soal berikutnya.
Dengan demikian, siswa tidak hanya berlatih menjawab soal, tetapi juga belajar mengoperasikan sistem ujian berbasis komputer.
Untuk jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK, TKA terdiri atas Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan dua mata pelajaran pilihan.
Mata pelajaran pilihan mencakup sejumlah bidang, seperti Matematika Tingkat Lanjut, Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut, Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Sejarah hingga sejumlah bahasa asing dan Projek/Produk Kreatif dan Kewirausahaan.
Siapa yang Berhak Mengikuti Simulasi TKA?
Untuk TKA 2026 jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK, peserta adalah murid kelas 12 serta murid kelas 13 untuk program SMK empat tahun.
TKA sendiri bersifat tidak wajib.
Namun, ada perbedaan antara simulasi resmi yang menjadi bagian dari rangkaian penyelenggaraan TKA dengan latihan simulasi yang dapat dilakukan secara mandiri.
Simulasi resmi yang menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan TKA mengikuti koordinasi satuan pendidikan dan peserta yang telah terdata dalam sistem.
Sementara itu, Kemendikdasmen juga menyediakan latihan TKA secara daring yang dapat digunakan siswa untuk belajar mandiri.
Link Resmi Simulasi TKA
Kemendikdasmen menyediakan laman resmi Ayo Coba TKA yang dikelola Pusat Asesmen Pendidikan.
Baca Juga: Buntut Audit Satgas, Pemkab Jember Stop Operasional 46 Dapur MBG
Melalui laman tersebut, siswa dapat memilih jenjang pendidikan dan mata pelajaran sebelum memulai simulasi.
Link resmi Ayo Coba TKA: Ayo Coba TKA – Pusmendik Kemendikdasmen
Selain itu, pemerintah menyediakan akses latihan melalui Ruang Murid di platform Rumah Pendidikan.
Siswa dapat membuka menu Latihan Soal, kemudian memilih bagian simulasi TKA
Rumah Pendidikan – Ruang Murid
Untuk latihan simulasi yang disediakan pemerintah, siswa dapat menggunakannya sebagai sarana persiapan tanpa harus menunggu jadwal simulasi sekolah.
Artinya, siswa yang ingin mengenali bentuk soal dan sistem TKA sudah dapat melakukan latihan secara mandiri melalui layanan resmi pemerintah.
Jadwal Simulasi TKA 2026
Untuk jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK, rangkaian jadwal TKA 2026 yang ditetapkan Kemendikdasmen meliputi:
-
Pendaftaran TKA: 27 Juli-27 September 2026
-
Simulasi: 21-27 September 2026
-
Gladi bersih: 5-18 Oktober 2026
-
Pelaksanaan utama: 26 Oktober-8 November 2026
-
Pelaksanaan susulan: 16-29 November 2026
-
Pengumuman hasil: 23 Desember 2026
Baca Juga: Purbaya Mendadak Angkat Kaki dari Kursi Menkeu, Bersih-Bersih Pajak dan Bea Cukai Belum Tuntas
Dengan jadwal tersebut, siswa memiliki waktu untuk memanfaatkan latihan mandiri sebelum memasuki tahapan simulasi dan kemudian TKA utama.
Apakah siswa bisa mengikuti simulasi sendiri?
Bisa, jika yang dimaksud adalah simulasi atau latihan TKA daring yang disediakan Pusmendik.
Caranya cukup membuka laman Ayo Coba TKA, memilih jenjang dan mata pelajaran, lalu memulai simulasi.
Alternatif lainnya adalah melalui Ruang Murid di Rumah Pendidikan.
Namun, perlu diperhatikan bahwa mengikuti latihan simulasi mandiri tidak otomatis berarti siswa telah terdaftar sebagai peserta TKA resmi.
Untuk simulasi yang menjadi bagian dari rangkaian resmi TKA 2026, mekanismenya tetap mengikuti koordinasi satuan pendidikan dan data peserta yang telah ditetapkan.
Baca Juga: Haru Suami Istri Berenang Bersama Berjam-jam Usai Tenggelamnya KM Virgo Transport di Laut Jawa
Hasil simulasi tidak sama dengan hasil TKA resmi.
Simulasi dalam rangkaian penyelenggaraan TKA terutama digunakan untuk menguji kesiapan teknis dan operasional sebelum pelaksanaan utama.
Karena itu, hasil simulasi tidak menghasilkan Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) yang menjadi dokumen resmi capaian akademik.
SHTKA diperoleh setelah peserta mengikuti TKA yang sebenarnya.
Hasil TKA resmi memuat capaian peserta pada mata pelajaran yang diujikan dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seleksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Jadi, apabila nilai siswa ketika mengerjakan latihan simulasi masih rendah, hal tersebut tidak berarti nilai TKA resminya akan sama.
Baca Juga: Resep Iga Sapi Gongso, Daging Empuk dengan Bumbu Manis Gurih yang Bikin Nasi Nambah
Justru, hasil latihan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui materi yang masih perlu dipelajari.
Untuk latihan simulasi mandiri, siswa dapat melihat hasil yang diberikan oleh sistem sesuai mekanisme platform yang digunakan.
Namun, hasil tersebut merupakan hasil latihan dan bukan dokumen resmi TKA.
Sementara itu, untuk TKA resmi, siswa mendapatkan hasil capaian melalui Sertifikat Hasil TKA.
Kemendikdasmen juga menyediakan mekanisme verifikasi publik SHTKA.
Pihak yang berkepentingan dapat melakukan verifikasi menggunakan nomor peserta serta kode unik yang terdapat pada sertifikat. ***




