POJOKSATU.ID - Dunia pendidikan di kawasan Asia Tenggara saat ini sedang dihadapkan pada berbagai macam tantangan global yang cukup berat.

Beberapa persoalan krusial tersebut di antaranya adalah perubahan teknologi yang masif, pergeseran pasar kerja, masalah lingkungan, hingga kesenjangan akses sekolah bagi anak-anak.

Menanggapi situasi ini, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menekankan pentingnya penggunaan data yang valid dalam merumuskan langkah strategis.

Beliau menyampaikan arahan tersebut pada momen penutupan SEAMEO CPRN Summit 2026 yang diselenggarakan di Jakarta baru-baru ini.

Baca Juga: Jangan Kaget dengan Standar Baru Pendidikan Kita! Wamen Atip Latipulhayat Tegaskan Hal Berikut.

Menurut penjelasannya, kebijakan yang lebih baik sangat membutuhkan ketersediaan bukti ilmiah yang kokoh agar tidak salah arah.

Implementasi program yang sukses juga memerlukan kolaborasi bermakna, sementara kemajuan berkelanjutan menuntut proses belajar dan adaptasi tanpa henti dari semua pihak.

Sektor pendidikan tidak boleh anti terhadap perubahan karena pembaruan merupakan hal mutlak demi masa depan generasi penerus.

Atip menerangkan bahwa regulasi yang kuat harus lahir dari pendekatan berbasis bukti nyata dan bukan sekadar mengandalkan asumsi sepihak.

Baca Juga: Kebijakan Baru Guru PPPK Bikin Sekolah Swasta Bernapas Lega, Apa Kebijakan Dari Kemendikdasmen?

Integrasi antara riset ilmiah, kebijakan pemerintah, dan aplikasi langsung di sekolah menjadi tiga pilar utama yang tidak boleh dipisahkan.

Melalui formula tersebut, dampak positif dari program pendidikan diharapkan bisa menyentuh para murid dan guru secara langsung di lapangan.

Keberhasilan suatu program pun tidak lagi dinilai dari laporan dokumen atau presentasi formal di atas meja saja.

Dengan adaptasi yang berani, efektivitas kebijakan serta penguatan kemitraan regional diharapkan dapat terwujud secara nyata dan responsif.***