POJOKSATU.id - Kisah memilukan seorang tenaga honorer di Kabupaten Lebak, Banten, yang harus bertahan hidup di rumah reyot akhirnya mendapat perhatian serius.
Setelah kondisi tempat tinggalnya viral di media sosial dan diberitakan sejumlah media, Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak turun tangan menyalurkan bantuan.
Honorer tersebut diketahui bernama Cacang Hidayat, penjaga sekolah sekaligus perpustakaan di SMP Negeri 2 Cibadak.
Baca Juga: Soal Peluang Honorer Jadi PPPK, BKN Buka Suara 'Seleksi Masih Ada tapi Tidak Otomatis'
Ia telah mengabdi puluhan tahun sebagai tenaga honorer dengan penghasilan terbatas, sementara harus menafkahi keluarga dan tinggal di rumah yang kondisinya nyaris roboh.
Cerita Cacang menyentuh empati publik karena dianggap mewakili potret nyata nasib sebagian tenaga honorer di daerah.
Di tengah pengabdian panjang di dunia pendidikan, kesejahteraan mereka masih kerap terabaikan.
Viral di Media Sosial, Disdik Lebak Bergerak
Kondisi rumah Cacang yang memprihatinkan mulai ramai dibicarakan setelah foto dan kisah hidupnya beredar luas di media sosial.
Tekanan publik pun meningkat, mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret.
Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak bersama sejumlah pihak akhirnya mendatangi kediaman Cacang untuk menyalurkan bantuan.
Baca Juga: Viral Lagi! Usai Kunjungi Pengungsi, Aksi Zulhas Makan Sate Sambil Pegang Cerutu Picu Polemik
Bantuan tersebut meliputi perbaikan rumah agar lebih layak huni serta paket sembako untuk kebutuhan sehari-hari.
Langkah ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari organisasi profesi guru hingga unsur pemerintah daerah.
Bantuan disalurkan sebagai bentuk kepedulian terhadap tenaga honorer yang selama ini menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan.
Penjelasan Resmi Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Doddy Irawan, menjelaskan bahwa bantuan tersebut diberikan atas arahan langsung pimpinan daerah setelah mendapat laporan mengenai kondisi honorer tersebut.
Dikutip dari Ketik.com, 14 Desember 2025, Doddy Irawan menyatakan:
Baca Juga: Gaji PPPK Palopo Tak Sama, Full Time dan Paruh Waktu Dianggarkan Beda
“Atas arahan Pak Bupati, kami bersama PGRI dan seluruh organisasi kependidikan bergerak cepat untuk memberikan bantuan perbaikan rumah serta paket sembako."
Ia juga menambahkan, "Semoga bantuan ini dapat meringankan beban Pak Cacang dan keluarganya,”.
Menurutnya, bantuan ini juga merupakan wujud kepedulian bersama terhadap tenaga kependidikan non-ASN yang selama ini telah mengabdikan diri di sekolah-sekolah negeri.
Potret Buram Nasib Honorer
Kasus yang dialami Cacang Hidayat kembali membuka mata publik tentang kondisi riil sebagian tenaga honorer.
Meski telah bekerja belasan hingga puluhan tahun, banyak dari mereka masih hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Penghasilan honorer yang minim sering kali tidak sebanding dengan beban kerja dan masa pengabdian.
Situasi ini membuat mereka rentan secara sosial dan ekonomi, terutama ketika tidak memiliki pekerjaan sampingan.
Viralnya kisah Cacang menjadi pengingat bahwa di balik aktivitas pendidikan, masih ada tenaga pendukung yang luput dari perhatian kebijakan kesejahteraan.
Harapan Tak Sekadar Bantuan Sementara
Bantuan yang diberikan Dinas Pendidikan Lebak disambut haru oleh Cacang dan keluarganya.
Namun, publik berharap perhatian terhadap honorer tidak berhenti pada respons insidental akibat viralnya sebuah kisah.
Kasus ini diharapkan menjadi momentum evaluasi menyeluruh terkait perlindungan dan kesejahteraan tenaga honorer.
Tanpa kebijakan jangka panjang yang jelas, kisah serupa dikhawatirkan akan terus terulang di berbagai daerah.
Bagi Cacang, bantuan tersebut setidaknya memberi harapan baru.
Namun bagi dunia pendidikan, peristiwa ini menjadi cermin bahwa pengabdian panjang honorer masih sering dibalas dengan ketidakpastian.***




