POJOKSATU.id - Kampus biasanya identik dengan ruang kelas dan penelitian.

Tapi di Universitas Hasanuddin (Unhas), dapur justru jadi pusat perhatian baru.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, meresmikan dapur makan bergizi gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Unhas, Sulawesi Selatan.

Menariknya, ini jadi yang pertama untuk perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Baca Juga: Prodi Mau Ditutup? Kampus Bilang Jangan Asal Pangkas, Ini Taruhannya!

Unhas pun resmi mencatatkan diri sebagai kampus negeri pionir dapur MBG, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Sebuah langkah yang bukan cuma simbolis, tapi juga strategis.

Brian menegaskan, kampus tidak bisa lagi hanya jadi penonton dalam program nasional. Peran aktif dibutuhkan, salah satunya lewat kehadiran SPPG ini.

"SPPG yang dibentuk di kampus tidak hanya mendukung program, tetapi juga dapat menjadi teaching factory. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat praktik mahasiswa, penelitian, serta pengembangan lebih lanjut program MBG di masyarakat," jelasnya di SPPG Unhas Makassar, Selasa (28/4).

Baca Juga: Resep Roti Kukus Pontianak Ubi Ungu Lembut, Isi Cream Cheese Lumer di Mulut

Bukan Sekadar Dapur, Tapi Laboratorium Nyata
Di balik konsep dapur MBG ini, ada peran besar perguruan tinggi sebagai pusat inovasi.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menilai keterlibatan kampus jadi kunci penting.

"Perguruan tinggi memiliki teknologi, SDM, dan inovasi yang sangat bermanfaat untuk pengembangan program Makan Bergizi, mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, hingga pelatihan dan bimbingan teknis," katanya.

Baca Juga: Pendaftaran Beasiswa PJJ Keagamaan Kemenag 2026 Dibuka hingga 31 Mei, Kuliah Gratis untuk Ustaz dan Ustazah LPQ, Simak Persyaratannya

SPPG di Unhas bahkan disebut sebagai yang pertama hadir di kampus PTN-BH di Indonesia Timur.

Sebelumnya, program serupa sudah lebih dulu berjalan di Institut Pertanian Bogor dan beberapa kampus swasta.

Teknologi Ikut Masuk Dapur
Yang bikin dapur ini beda, bukan cuma skalanya, tapi juga teknologinya. Salah satu yang disorot adalah penggunaan sistem reverse osmosis untuk pengolahan air.

"Airnya sudah melalui reverse osmosis, jadi aman untuk diminum dan memasak. Ini penting karena kualitas air sering menjadi faktor gangguan pencernaan," ungkap Dadan.

Baca Juga: Akhir Penantian 30 Tahun, PSU Taman Cibaduyut Indah Diserahkan, Bupati: Tak Patuh, Pengembang Disanksi!

Selain itu, sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di fasilitas ini juga dinilai sangat baik. Bahkan, berpotensi jadi model yang bisa ditiru daerah lain.

Sebelum Unhas, kampus swasta Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) sudah lebih dulu membangun dapur MBG pada awal Januari 2025. ***